Foto ilustrasi Makan Bergizi Gratis nasi goreng telur ceplok. - Foto dibuat menggunakan Artificial Intelligence - AI
Harianjogja.com, JAKARTA—Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terbukti memberi dampak signifikan bagi keluarga berpenghasilan rendah, namun masih menyisakan sejumlah catatan penting yang perlu segera dibenahi. Temuan ini terungkap dalam riset terbaru Universitas Indonesia yang mengkaji implementasi program tersebut di berbagai daerah.
Penelitian yang dilakukan oleh Pusat Kajian Sosiologi UI ini mengungkap bahwa program MBG mendapatkan tingkat penerimaan tinggi, khususnya dari kelompok ekonomi bawah. Survei yang melibatkan 1.267 responden di lima wilayah menunjukkan bahwa 85,8% siswa dari keluarga kurang mampu selalu menghabiskan makanan yang diberikan.
Dosen sekaligus peneliti FISIP UI, Hari Nugroho, menegaskan bahwa program ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
“Program MBG dinilai memberikan manfaat nyata bagi keluarga dari kelompok ekonomi menengah ke bawah. Data penelitian menunjukkan, semakin rendah kelas sosial siswa, semakin tinggi tingkat penerimaan mereka terhadap program ini,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (2026).
Menurutnya, kehadiran MBG tidak hanya membantu pemenuhan gizi anak, tetapi juga berdampak langsung pada ekonomi rumah tangga. Banyak orang tua merasa terbantu karena pengeluaran untuk uang jajan anak berkurang, sekaligus meringankan beban menyiapkan bekal setiap hari.
“Sebagian besar orang tua siswa memberikan penilaian positif terhadap program tersebut. Mereka menilai MBG mampu meringankan beban ekonomi keluarga, menghemat uang jajan anak, membantu orang tua yang sibuk menyiapkan makanan, serta mencegah anak mengalami kelaparan di sekolah,” jelasnya.
Namun di balik capaian tersebut, riset ini juga menyoroti berbagai persoalan mendasar, terutama dalam aspek teknis pelaksanaan di lapangan. Mulai dari desain program yang dinilai terlalu sentralistik hingga distribusi makanan yang belum optimal.
Hari menilai salah satu tantangan terbesar terletak pada sistem operasional yang terlalu terpusat, termasuk standar menu nasional yang sulit disesuaikan dengan selera lokal.
“Salah satu persoalan yang cukup menonjol adalah standardisasi SOP, petunjuk teknis, dan siklus menu nasional yang ditetapkan secara terpusat. Seluruh aturan operasional dapur diatur melalui petunjuk teknis dari Badan Gizi Nasional (BGN), mulai dari jam operasional memasak, pelaporan harian secara daring, hingga standar Angka Kecukupan Gizi (AKG),” ucap Hari.
Kondisi ini berdampak pada kualitas makanan yang diterima siswa. Sebanyak 73,3% sekolah mengaku pernah mengalami kendala distribusi, terutama keterlambatan pengiriman makanan. Akibatnya, kualitas makanan tidak selalu terjaga.
Data juga menunjukkan 59% siswa menerima makanan dalam kondisi yang tidak konsisten—kadang hangat, kadang sudah dingin. Bahkan, 19% siswa mengaku pernah mengalami keluhan kesehatan seperti mual atau sakit perut setelah mengonsumsi makanan MBG.
Selain itu, persoalan selera menjadi faktor penting. Sebanyak 53% siswa mengaku “kadang-kadang bosan” dengan menu yang disajikan, bahkan 15% menyatakan “sering bosan”. Sayur menjadi jenis makanan yang paling sering tidak dihabiskan, dengan tingkat sisa mencapai 77,9%.
Faktor rasa juga menjadi alasan utama. Sebanyak 55,9% siswa mengaku tidak menghabiskan makanan karena rasanya kurang sesuai dengan selera mereka.
Melihat berbagai temuan tersebut, peneliti merekomendasikan evaluasi menyeluruh terhadap program MBG, mulai dari penentuan sasaran penerima hingga peningkatan kualitas distribusi dan fleksibilitas menu.
“Sejalan dengan temuan berbagai penelitian lain mengenai evaluasi Program MBG, riset ini merekomendasikan perlunya perbaikan program secara menyeluruh, mulai dari penajaman prioritas penerima manfaat, peningkatan kualitas distribusi, hingga penyesuaian penentuan menu agar lebih sesuai dengan kebutuhan dan preferensi siswa di daerah,” tutup Hari.
Dengan perbaikan yang tepat, program MBG berpotensi menjadi salah satu kebijakan strategis dalam meningkatkan kualitas gizi anak sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi keluarga di Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara


















































