Jumali Sabtu, 15 Agustus 2026 17:47 WIB

AI Gemini milik Google. - ist/Google
Harianjogja.com, JOGJA—Google resmi menghadirkan fitur baru yang memungkinkan pengguna menghilangkan watermark yang terlihat pada berbagai konten hasil kecerdasan buatan (AI) Gemini. Kebijakan ini menjadi perubahan penting dalam ekosistem AI generatif milik Google yang selama ini menampilkan penanda visual pada setiap karya yang dihasilkan.
Langkah tersebut diumumkan setelah muncul berbagai masukan dari pengguna yang menilai watermark pada hasil gambar AI mengganggu tampilan visual dan membatasi fleksibilitas penggunaan konten.
Sebelumnya, generator gambar Gemini yang dikenal dengan nama Nano Banana secara otomatis menambahkan watermark di bagian kanan bawah setiap gambar yang dibuat menggunakan teknologi AI.
Kini, pengguna memiliki pilihan untuk mempertahankan atau menghapus tanda tersebut sesuai kebutuhan.
Tersedia di Gemini dan Flow
Dilansir dari GSM Arena, Google menjelaskan bahwa opsi penghapusan watermark saat ini telah tersedia pada layanan Gemini dan Flow.
Perusahaan teknologi asal Amerika Serikat itu juga memastikan fitur serupa akan segera diperluas ke AI Mode yang terintegrasi dalam layanan Google Search.
Dengan pembaruan ini, pengguna mendapatkan kendali lebih besar terhadap tampilan akhir konten yang mereka hasilkan menggunakan teknologi AI Google.
Keputusan tersebut diperkirakan akan menarik perhatian kreator digital, desainer, hingga pelaku industri kreatif yang memanfaatkan AI untuk menghasilkan materi visual.
Tidak Hanya Gambar, Video dan Musik Juga Bisa
Kebijakan baru Google tidak hanya berlaku untuk gambar hasil AI.
Perusahaan juga memperluas fitur tersebut ke berbagai jenis konten lain yang dibuat menggunakan teknologi Gemini.
Pengguna nantinya dapat menghapus watermark yang terlihat pada video yang dibuat melalui Gemini Omni, serta lagu yang dihasilkan menggunakan model musik AI Lyria.
Dengan demikian, seluruh ekosistem konten kreatif berbasis AI Google akan memperoleh perlakuan yang serupa terkait pengelolaan watermark visual.
Meski begitu, Google menegaskan bahwa fitur tersebut tidak dapat digunakan di wilayah atau negara yang memiliki regulasi khusus yang mewajibkan keberadaan watermark pada konten AI.
SynthID Tetap Menjadi Penanda Konten AI
Walaupun watermark visual dapat dihapus, Google memastikan sistem identifikasi konten AI tetap dipertahankan.
Perusahaan masih menggunakan teknologi SynthID, yaitu sistem penanda digital yang disisipkan secara tidak terlihat ke dalam konten hasil AI.
Selain itu, Google juga tetap menyematkan metadata berbasis standar C2PA yang berfungsi membantu proses verifikasi asal-usul konten digital.
Kehadiran dua sistem tersebut memungkinkan gambar, video, maupun musik hasil AI tetap dapat dikenali meskipun tidak lagi menampilkan watermark secara visual.
Konten AI Tetap Bisa Dideteksi
Google menegaskan bahwa penghapusan watermark bukan berarti menghilangkan identitas konten AI sepenuhnya.
Melalui teknologi yang dimiliki perusahaan, pengguna masih dapat memeriksa apakah sebuah gambar dibuat menggunakan kecerdasan buatan.
Bahkan, pengguna dapat meminta Gemini untuk mengidentifikasi asal sebuah gambar. Jika sistem mendeteksi bahwa konten tersebut merupakan hasil AI, Gemini akan memberikan informasi yang sesuai.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa Google berupaya menyeimbangkan kebutuhan pengguna terhadap fleksibilitas penggunaan konten dengan tuntutan transparansi dan keamanan dalam penggunaan teknologi AI generatif.
Respons terhadap Perkembangan Industri AI
Kebijakan baru Google hadir di tengah meningkatnya perhatian global terhadap transparansi konten AI.
Banyak perusahaan teknologi kini menghadapi tantangan untuk memastikan masyarakat tetap dapat membedakan antara karya yang dibuat manusia dan konten yang dihasilkan mesin.
Dengan tetap mempertahankan penanda digital seperti SynthID dan metadata C2PA, Google mencoba menjaga standar akuntabilitas tanpa membatasi kreativitas pengguna melalui watermark yang terlihat.
Langkah ini sekaligus menunjukkan bagaimana persaingan industri AI tidak hanya berfokus pada kemampuan menghasilkan konten, tetapi juga pada cara perusahaan mengelola identitas dan kepercayaan terhadap hasil karya berbasis kecerdasan buatan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online









































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5539824/original/003583100_1774624130-IMG_6564.JPG.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5324850/original/079448900_1755868038-Elkan-Baggott.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4855687/original/012825900_1717681637-20240606IQ_Timnas_Indonesia_vs_Irak__15_.jpg)






:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5215189/original/094397100_1746795977-20250509AA_Persija_Jakarta_vs_Bali_United-8.jpg)