Remaja Korsel Pilih SMK Semikonduktor, Gaji Rp1,99 Miliar

3 hours ago 1


Harianjogja.com, JOGJA— Perkembangan kecerdasan buatan (AI) tidak hanya mengubah cara kerja dan bisnis, tetapi juga mengubah pilihan pendidikan generasi muda secara fundamental. Di Korea Selatan, semakin banyak remaja yang memilih sekolah menengah kejuruan (SMK) khusus semikonduktor daripada melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi—sebuah pergeseran yang mencerminkan realitas baru pasar kerja global.

Fenomena ini menunjukkan bahwa di era AI, keterampilan teknis yang langsung dapat diterapkan di industri sering kali lebih berharga daripada gelar sarjana. Para siswa di sekolah-sekolah ini mempelajari desain sirkuit elektronik, protokol clean room, pengendalian kontaminasi, kalkulus, hingga kimia—keterampilan yang menjadi bekal teknis untuk bekerja di industri chip Korea Selatan yang bernilai miliaran dolar AS.

Sekolah dengan Tingkat Penyerapan Kerja 96,4%

Salah satu sekolah yang menjadi sorotan adalah Chungbuk Semiconductor High School yang berlokasi di Provinsi Chungcheong Utara, Korea Selatan. Sekolah ini merupakan sekolah menengah kejuruan "Meister" pertama di Korea Selatan yang khusus menangani semikonduktor, yang didirikan pada tahun 2008 dan mendapatkan status Meister pada tahun 2010.

Tingkat penyerapan kerja lulusan sekolah ini mencapai 96,4 persen. Dari 111 lulusan, 107 orang langsung mendapatkan pekerjaan, dengan 20 di antaranya diterima di Samsung dan SK Hynix—dua perusahaan terbesar di Korea Selatan. Bahkan, tingkat penyerapan kerja tidak pernah turun di bawah 95 persen sejak sekolah ini mendapatkan status Meister pada 2010.

17 Tahun, Tawaran Kerja dari Samsung

No Jun-sik adalah salah satu contoh nyata. Ia telah mendapat tawaran pekerjaan dari Samsung saat masih berusia 17 tahun.

"Ketika saya masih SMP, saya mencoba meyakinkan beberapa teman saya untuk masuk bersama saya. Namun, sebagian temannya memilih melanjutkan pendidikan ke universitas. Banyak dari mereka sekarang menyesali keputusan itu," ujarnya dikutip dari Korea Times.

Sekitar satu dari empat siswa seperti Jun-sik berhasil mendapatkan pekerjaan langsung di Samsung Electronics. Tahun lalu saja, 23 siswa berhasil mendapatkan pekerjaan di Samsung Electronics dan SK Hynix. Kepala sekolah Chungbuk Semiconductor High School, Seo Un-suk, bahkan mengungkapkan bahwa lebih dari 100 perusahaan semikonduktor telah menandatangani perjanjian untuk merekrut lulusan sekolahnya—jumlah yang jauh lebih besar daripada jumlah siswa yang tersedia.

Fasilitas Setara Industri dan Kurikulum Berbasis Praktik

Keberhasilan sekolah ini tidak lepas dari fasilitas dan kurikulumnya. Para siswa dapat langsung memasuki laboratorium pelatihan semikonduktor setelah mengenakan pakaian bersih dan melalui air shower—pengalaman yang mensimulasikan kondisi pabrik semikonduktor sesungguhnya. Mereka bekerja dengan peralatan produksi nyata yang disumbangkan oleh SK Hynix, termasuk untuk proses fotolitografi, etsa, deposisi lapisan tipis, perakitan, dan pengujian.

Sekolah ini baru saja menerima tambahan peralatan canggih senilai 10 miliar won (sekitar Rp112 miliar) dari SK Hynix dan sedang membangun gedung khusus untuk mengoperasikan peralatan tersebut. Setiap semester, siswa membentuk tim untuk merancang dan memproduksi proyek semikonduktor, lalu mempresentasikan hasilnya di depan para ahli industri.

"Tingkat pencapaiannya sangat tinggi sehingga orang-orang dari perusahaan semikonduktor kadang-kadang pulang dari presentasi dengan ide-ide baru atau solusi untuk masalah di tempat kerja mereka sendiri," kata Kang Su-jin, seorang guru di sekolah tersebut.

Gaji Miliaran dan Bonus Hingga Rp7,1 Miliar

Imbalan finansial yang ditawarkan sangat menggiurkan. Menurut The Korea Herald, rata-rata karyawan Samsung Electronics memperoleh gaji sebesar 158 juta won atau sekitar Rp1,99 miliar per tahun.

Bahkan lebih mengejutkan lagi, berdasarkan kesepakatan kerja terbaru antara perusahaan dan serikat pekerja, karyawan divisi semikonduktor Samsung berpotensi memperoleh penghasilan hingga 400.000 dolar AS atau sekitar Rp7,1 miliar pada tahun berikutnya apabila target keuntungan perusahaan tercapai.

Krisis Pengangguran Lulusan Universitas

Di sisi lain, lulusan universitas justru menghadapi krisis. Lebih dari 480.000 orang yang memiliki gelar universitas menganggur pada kuartal II 2026—jumlah tertinggi dalam lima tahun. Dari jumlah tersebut, 179.000 orang berusia 20-an dan 130.000 orang berusia 30-an, yang bersama-sama mencakup 64,2 persen dari total pengangguran lulusan universitas.

Tingkat pengangguran kelompok usia 15-29 tahun meningkat menjadi 7,2 persen. Bahkan, jumlah pengangguran yang belum pernah bekerja sama sekali mencapai 56.000 orang, dengan 48.000 di antaranya berusia 20-an—meningkat 11.000 dari tahun sebelumnya.

Profesor Ekonomi Universitas Chung-Ang, Lee Jung-hee, menjelaskan bahwa perusahaan cenderung mengurangi perekrutan karyawan baru dan lebih memilih kandidat dengan pengalaman kerja sebelumnya. Perkembangan AI diperkirakan semakin memperketat persaingan untuk mendapatkan pekerjaan tingkat pemula.

AS Juga Kekurangan Pekerja Semikonduktor

Fenomena serupa juga terjadi di Amerika Serikat. Berdasarkan analisis gabungan dari McKinsey, Semiconductor Equipment and Materials International (SEMI), dan National Science Foundation (NSF), industri semikonduktor AS diperkirakan akan kekurangan hingga 157.000 pekerja terampil pada 2030.

McKinsey memperkirakan bahwa 104.300 insinyur dibutuhkan untuk mengelola proses dan peralatan semikonduktor, tetapi hanya 16.300 pekerja baru yang dapat dipasok—menyisakan sekitar 88.000 posisi yang tidak terisi. Selain itu, 72.400 teknisi dibutuhkan untuk mengoperasikan dan memeriksa peralatan di lini produksi, tetapi pasokan yang tersedia hanya 8.900.

Sekitar 74 persen dari lowongan yang tidak terisi di industri semikonduktor pada 2030 akan berada di bidang manufaktur, dan 60 persen di bidang teknik.

Investasi Raksasa dan Tantangan SDM

Krisis talenta ini terjadi di tengah gelombang investasi besar-besaran. TSMC berencana menginvestasikan hingga 265 miliar dolar AS untuk 12 fasilitas semikonduktor di Arizona. Micron berencana menghabiskan hingga 100 miliar dolar AS untuk membangun fasilitas produksi memori di New York. Samsung Electronics sedang membangun pabrik logika chip di Texas, dan pabrik Intel senilai 28 miliar dolar AS di Ohio juga diperkirakan akan menghadapi krisis tenaga kerja.

Kekurangan tenaga kerja diperkirakan akan sangat parah di wilayah-wilayah dengan konsentrasi pabrik baru, seperti Texas, California, Arizona, New York, dan Ohio.

Dari Kantor ke Pabrik: Perubahan Lanskap Pekerjaan

Fenomena ini mencerminkan perubahan besar dalam lanskap pekerjaan global. AI tidak hanya menggantikan beberapa pekerjaan, tetapi juga menciptakan permintaan besar untuk keterampilan teknis di bidang semikonduktor dan infrastruktur.

Menurut Semiconductor Industry Association (SIA) , sekitar satu dari lima pekerja semikonduktor tidak memiliki gelar sarjana. Rata-rata gaji tahunan di industri ini pada tahun 2020 mencapai sekitar 170.000 dolar AS (sekitar Rp2,6 miliar).

Perusahaan-perusahaan AS pun mulai berinvestasi besar-besaran untuk mengatasi kesenjangan keterampilan ini. JPMorgan Chase mengalokasikan 24 juta dolar AS untuk mendukung manufaktur kapal selam dan pelatihan tenaga kerja. Meta meluncurkan program pelatihan teknisi pusat data senilai 115 juta dolar AS, sementara Lowe's berkomitmen 250 juta dolar AS untuk melatih 250.000 pekerja terampil dalam 10 tahun.

Pesan dari fenomena ini jelas: di era AI, jalan menuju kesuksesan tidak lagi harus melalui bangku kuliah. Keterampilan teknis yang langsung dapat diterapkan di industri—terutama di bidang semikonduktor—semakin menjadi tiket menuju gaji tinggi dan karier yang stabil. Bagi para remaja Korea Selatan yang memilih SMK semikonduktor, mereka mungkin sedang memasuki profesi masa depan yang akan semakin dibutuhkan di tengah ledakan AI global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |