Harianjogja.com, JOGJA— Gelombang adopsi kecerdasan buatan (AI) di berbagai sektor industri mulai mengubah peta dunia kerja secara signifikan. Perusahaan semakin gencar melakukan otomatisasi dan efisiensi operasional, terutama pada pekerjaan administratif dan perkantoran yang selama ini menjadi tujuan utama banyak lulusan baru.
Kondisi tersebut membuat persaingan mendapatkan pekerjaan kantoran semakin ketat. Di tengah perubahan itu, Generasi Z mulai mencari jalur karier alternatif yang dinilai lebih menjanjikan dan memiliki risiko lebih kecil tergantikan teknologi.
Salah satu tren yang kini berkembang adalah meningkatnya minat terhadap profesi kerah biru (blue-collar jobs) seperti teknisi listrik, pengelasan, manufaktur, konstruksi, hingga mekanik.
Profesi Kerah Biru Tak Lagi Dipandang Sebelah Mata
Jika dahulu pekerjaan kerah biru identik dengan pekerjaan fisik dan upah terbatas, kondisi saat ini sudah jauh berbeda. Transformasi teknologi membuat banyak profesi teknis berkembang menjadi pekerjaan dengan keterampilan tinggi yang membutuhkan penguasaan teknologi modern.
Di Amerika Serikat, sejumlah sekolah bahkan kembali menghidupkan program pendidikan vokasi seperti pertukangan, konstruksi, manufaktur, dan pengelasan yang sempat kehilangan popularitas pada era 2000-an.
Salah satu contohnya terlihat di SMA Middleton, Wisconsin. Sekolah tersebut menginvestasikan dana sekitar US$90 juta untuk membangun laboratorium manufaktur modern yang dilengkapi lengan robot pintar dan sistem otomatisasi berbasis komputer.
Para siswa tidak hanya belajar menggunakan peralatan konvensional, tetapi juga mengoperasikan teknologi industri yang banyak digunakan di sektor manufaktur modern.
Program tersebut berhasil menarik sekitar 2.300 siswa dalam beberapa tahun terakhir, menunjukkan meningkatnya minat generasi muda terhadap keterampilan teknis.
Gaji Tinggi Jadi Daya Tarik Utama
Selain peluang kerja yang besar, faktor penghasilan menjadi alasan utama meningkatnya minat terhadap profesi teknis.
Instruktur pengelasan Quincy Millerjohn menyebut pekerja di pabrik baja dapat memperoleh upah antara US$41 hingga US$52 per jam. Jika dikonversikan ke rupiah, nilainya setara sekitar Rp727.000 hingga Rp922.000 per jam.
Konsultan pendidikan Pemerintah Wisconsin, John Mihm, menilai telah terjadi perubahan cara pandang terhadap pekerjaan berbasis keterampilan tangan.
Menurut dia, profesi teknis kini tidak lagi dipandang sebagai pekerjaan kelas dua, melainkan pekerjaan dengan keterampilan tinggi dan pendapatan yang kompetitif.
“Pekerjaan tangan kini menjadi profesi dengan keahlian tinggi dan bergaji tinggi. Ini menarik bagi anak muda karena mereka bisa langsung menciptakan sesuatu dengan tangan mereka sendiri,” ujarnya.
Ledakan Industri AI Justru Butuh Banyak Teknisi
Ironisnya, perkembangan AI yang mengurangi sejumlah pekerjaan kantoran justru menciptakan peluang besar bagi tenaga teknis.
Pembangunan pusat data AI di berbagai negara meningkatkan kebutuhan terhadap teknisi listrik, pekerja konstruksi, operator industri, hingga spesialis pemeliharaan infrastruktur.
Presenter televisi Amerika Serikat, Mike Rowe, mengungkapkan bahwa sejumlah teknisi listrik muda yang bekerja di pusat data AI di Texas mampu memperoleh penghasilan antara US$240.000 hingga US$280.000 per tahun.
Angka tersebut setara sekitar Rp4,3 miliar hingga Rp5 miliar per tahun.
Selain itu, mereka masih memiliki peluang memperoleh pendapatan tambahan melalui lembur dan berbagai proyek infrastruktur baru yang terus bermunculan.
Pusat Data AI Jadi Mesin Pencipta Lapangan Kerja Baru
Pertumbuhan AI global tidak bisa dilepaskan dari pembangunan pusat data dalam skala besar. Ribuan unit GPU dan server dibutuhkan untuk menjalankan model AI yang semakin kompleks.
Akibatnya, kebutuhan terhadap tenaga kerja konstruksi dan teknisi meningkat tajam.
Laporan Fortune menyebut pekerja konstruksi yang terlibat dalam pembangunan pusat data memperoleh premi upah sekitar 32 persen lebih tinggi dibanding proyek konstruksi biasa.
Tambahan penghasilan tersebut mencapai sekitar US$81.800 per tahun.
Fenomena serupa juga terjadi di berbagai negara lain. Google mengumumkan pembangunan Google AI Hub senilai US$15 miliar di India, sementara Meta memperluas infrastruktur AI melalui kemitraan dengan Reliance Jio.
Ekspansi tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan tenaga teknis kemungkinan masih akan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang.
Daftar Pekerjaan yang Diproyeksikan Menurun
Di sisi lain, sejumlah pekerjaan administratif diperkirakan menghadapi tekanan besar akibat otomatisasi.
Laporan Future of Jobs dari World Economic Forum (WEF) memperkirakan sekitar 83 juta pekerjaan berpotensi hilang atau berubah akibat perkembangan teknologi dan otomatisasi.
Beberapa pekerjaan yang diproyeksikan mengalami penurunan permintaan meliputi:
- Teller bank
- Petugas pos
- Kasir dan petugas loket tiket
- Staf entri data
- Sekretaris dan staf administrasi
- Staf pencatat stok
- Staf akuntansi dan penggajian
- Legislator dan pejabat pemerintahan
- Staf statistik dan keuangan
- Sales door-to-door
- Petugas keamanan
- Manajer kredit dan pinjaman
- Pemeriksa klaim asuransi
- Penguji perangkat lunak (software tester)
- Relationship manager
Peluang
Perubahan tren global tersebut menjadi sinyal penting bagi pencari kerja di Indonesia. Di tengah perkembangan AI yang semakin cepat, keterampilan teknis yang membutuhkan kemampuan fisik, analisis lapangan, serta pemecahan masalah secara langsung menjadi nilai tambah yang sulit digantikan teknologi.
Profesi seperti teknisi listrik, mekanik, operator industri, teknisi jaringan, tukang ledeng, pengelasan, hingga pekerja konstruksi kini mulai dipandang sebagai jalur karier strategis dengan prospek jangka panjang.
Bagi Generasi Z, perubahan ini menunjukkan bahwa kesuksesan karier tidak lagi selalu identik dengan pekerjaan di balik meja kantor. Di era AI, keterampilan praktis yang mampu menghubungkan teknologi dengan kebutuhan dunia nyata justru semakin bernilai dan banyak dicari industri.









































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5539824/original/003583100_1774624130-IMG_6564.JPG.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5324850/original/079448900_1755868038-Elkan-Baggott.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4855687/original/012825900_1717681637-20240606IQ_Timnas_Indonesia_vs_Irak__15_.jpg)






:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5215189/original/094397100_1746795977-20250509AA_Persija_Jakarta_vs_Bali_United-8.jpg)