Rekor 10 Gelar Juara Dunia, Ganda Putra Indonesia Siap Tambah Koleksi

3 hours ago 1

Jumali

Jumali Sabtu, 15 Agustus 2026 18:27 WIB

Rekor 10 Gelar Juara Dunia, Ganda Putra Indonesia Siap Tambah Koleksi

Ganda putra Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri /istimewa


Harianjogja.com, JOGJA— Sejarah mencatat, sektor ganda putra merupakan andalan utama bulu tangkis Indonesia di pentas dunia. Tidak ada negara lain yang mampu menyaingi koleksi gelar juara dunia ganda putra Indonesia sepanjang penyelenggaraan BWF World Championships.

Dengan raihan 10 gelar juara, Indonesia kokoh di puncak, unggul dua gelar dari China yang baru mengoleksi 8 gelar, berdasarkan data yang dirangkum dari laman resmi PB Djarum, Sabtu (15/8/2026).

Mampukah Indonesia menambah satu gelar lagi pada edisi 2026 yang akan berlangsung di India, 17-23 Agustus mendatang, atau akankah puasa gelar selama 7 tahun terus berlanjut?

Awal Mula Kejayaan

Perjalanan kejayaan ganda putra Indonesia dimulai pada 1977. Saat itu, pasangan Tjun Tjun/Johan Wahyudi menjadi yang pertama mencatatkan nama Indonesia dalam sejarah kejuaraan dunia bulu tangkis. Tiga tahun berselang, giliran Ade Chandra/Christian Adinata yang melanjutkan tradisi emas dengan meraih gelar juara dunia pada 1980.

Namun, setelah kesuksesan awal tersebut, Indonesia harus menunggu 13 tahun untuk merasakan kembali gelar juara dunia. Puasa panjang itu akhirnya berakhir pada 1993, ketika Ricky Subagja/Rexy Mainaky berhasil merebut gelar dan sekaligus menandai babak baru kebangkitan sektor ganda putra Indonesia.

Era Dominasi 1990-an

Era 1990-an menjadi periode paling gemilang bagi ganda putra Indonesia. Ricky Subagja/Rexy Mainaky tidak berhenti di satu gelar. Pada 1995, mereka kembali meraih gelar juara dunia untuk kedua kalinya, menegaskan dominasi Indonesia di sektor ini.

Dua tahun kemudian, pada 1997, giliran Candra Wijaya/Sigit Budiarto yang tampil sebagai juara. Keempat gelar beruntun ini menunjukkan bahwa Indonesia benar-benar mendominasi sektor ganda putra pada dekade tersebut.

Dominasi Indonesia sempat terhenti pada 1999 ketika pasangan Korea Selatan, Ha Tae Kwon/Kim Dong Moon, keluar sebagai juara. Namun, kejayaan Indonesia kembali pulih pada 2001 melalui pasangan Tony Gunawan/Halim Haryanto.

Era Baru, Dominasi Baru

Memasuki era 2000-an, persaingan di sektor ganda putra semakin sengit. Kehadiran pasangan China seperti Cai Yun/Fu Haifeng membuat persaingan semakin ketat. Namun, Indonesia tetap mampu bersaing.

Pada 2007, giliran Markis Kido/Hendra Setiawan yang mencatatkan nama sebagai juara dunia. Kido/Hendra menjadi simbol kebangkitan baru ganda putra Indonesia di tengah persaingan yang semakin berat.

Puncak dominasi Indonesia berikutnya datang melalui pasangan "The Daddies", Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan. Pasangan ini berhasil meraih 3 gelar juara dunia dalam rentang waktu yang relatif singkat: pada 2013, 2015, dan 2019. Tiga gelar ini sekaligus menjadi bukti bahwa Indonesia masih menjadi raja di sektor ganda putra.

Gelar terakhir Indonesia di BWF World Championships terjadi pada 2019 melalui Hendra/Ahsan. Sejak saat itu, Indonesia mengalami puasa gelar selama 7 tahun. Kini, BWF World Championships 2026 menjadi ajang untuk mengakhiri penantian panjang tersebut.

BWF World Championships 2026: Harapan Baru

Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, yang kini menjadi unggulan kedua di kejuaraan dunia, menjadi tumpuan utama Indonesia untuk memutus puasa gelar. Fajar/Shohibul Fikri datang dengan modal percaya diri, terutama setelah merebut gelar Japan Open 2026 yang menjadi persiapan ideal sebelum tampil di India.

Selain Fajar/Shohibul Fikri, Indonesia masih memiliki sejumlah harapan lain. Pasangan muda Nikolaus Joaquin/Raymond Indra serta pasangan nonpelatnas Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani diharapkan bisa memberikan kejutan di turnamen bergengsi ini.

Secara total, Indonesia mengirimkan 14 wakil ke BWF World Championships 2026. Dengan jumlah wakil yang cukup banyak, peluang Indonesia untuk menambah koleksi gelar ke-11 terbuka lebar.

Mengakhiri Puasa 7 Tahun

Puasa gelar selama 7 tahun bukanlah hal yang panjang jika dibandingkan dengan sejarah 13 tahun tanpa gelar yang pernah dialami Indonesia pada 1980-1993. Namun, bagi para pecinta bulu tangkis Tanah Air, 7 tahun sudah terasa sangat lama.

Harapan besar tertumpu pada Fajar/Shohibul Fikri. Namun, bulu tangkis adalah olahraga yang penuh kejutan. Siapa tahu, justru pasangan nonunggulan seperti Sabar/Reza atau pasangan muda Joaquin/Raymond yang akan menjadi pahlawan baru Indonesia.

Yang pasti, pertandingan BWF World Championships 2026 di India akan menjadi momen yang dinantikan. Semoga Indonesia Raya kembali berkumandang di arena kejuaraan dunia, melanjutkan tradisi emas yang telah dibangun sejak 1977.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |