Harianjogja.com, JOGJA— Google DeepMind dan Google Research memperkenalkan WeatherNext 3, model kecerdasan buatan (AI) terbaru yang dirancang untuk menghasilkan prakiraan cuaca global dengan lebih cepat dan detail.
Google menyebut WeatherNext 3 sebagai model AI cuaca global paling canggih yang mereka kembangkan sejauh ini. Model tersebut dirancang untuk memberikan prakiraan yang lebih lokal, tepat waktu, dan relevan bagi masyarakat maupun pelaku usaha.
Salah satu perubahan terbesar dibanding generasi sebelumnya terletak pada frekuensi prakiraan. WeatherNext 3 menjadi model cuaca global pertama Google yang mampu menghasilkan prakiraan baru setiap jam.
Kemampuan tersebut penting untuk kondisi atmosfer yang dapat berubah dalam waktu singkat, termasuk hujan dan salju.
Tak Lagi Bergantung Sepenuhnya pada Data Olahan
Selama puluhan tahun, prakiraan cuaca mengandalkan numerical weather prediction (NWP). Metode ini menggunakan data atmosfer dari berbagai sumber, kemudian menjalankan simulasi berbasis fisika menggunakan komputer berperforma tinggi.
Pendekatan tersebut tetap menjadi bagian penting dalam sistem prakiraan cuaca. Namun, Google melihat adanya keterbatasan ketika model membutuhkan informasi yang lebih cepat untuk menghadapi perubahan cuaca dalam waktu singkat.
WeatherNext 3 mencoba mengatasi persoalan tersebut dengan memanfaatkan citra satelit geostasioner mentah secara langsung.
Data satelit tersebut digunakan bersama data analisis cuaca konvensional. Model juga memanfaatkan data dari stasiun cuaca yang lokasinya tersebar dan relatif jarang.
Dengan kombinasi tersebut, WeatherNext 3 dapat menghasilkan prakiraan global baru setiap jam, berbeda dari pendekatan generasi sebelumnya yang memiliki interval pembaruan lebih panjang.
Google sebelumnya telah mengembangkan WeatherNext 2 dan sejumlah model lain untuk prakiraan cuaca. WeatherNext 3 menjadi pengembangan berikutnya dengan fokus pada kecepatan, detail lokal, serta kemampuan menghasilkan prediksi di wilayah yang belum banyak ditemui dalam data pelatihan.
Resolusi Lebih Detail
Google juga meningkatkan resolusi spasial WeatherNext 3.
Model tersebut mampu memprediksi sejumlah variabel permukaan, termasuk suhu dan kelembapan yang ditargetkan untuk stasiun cuaca, pada resolusi hingga 5 kilometer. Sementara variabel permukaan lainnya seperti angin dapat diprediksi pada resolusi hingga 10 kilometer.
Peningkatan detail tersebut menjadi penting bagi wilayah yang kondisi cuacanya dapat berbeda secara signifikan meski berada dalam jarak yang relatif dekat.
Kawasan pesisir dan pegunungan menjadi contoh wilayah yang memiliki karakteristik atmosfer sangat beragam. Prakiraan dengan resolusi lebih tinggi diharapkan dapat memberikan gambaran kondisi yang lebih relevan di tingkat lokal.
Google juga menyebut WeatherNext 3 dirancang untuk kebutuhan industri. Data seperti radiasi matahari dan tutupan awan dapat membantu pengelola pembangkit listrik tenaga surya maupun angin dalam membuat keputusan operasional.
Hujan Jadi Salah Satu Tantangan Utama
Curah hujan merupakan salah satu tantangan terbesar dalam pemodelan cuaca global.
Fenomena hujan berkaitan dengan proses pembentukan awan dalam skala kecil yang berlangsung cepat. Kondisi tersebut membuatnya lebih sulit diprediksi hanya dengan simulasi fisika berskala besar.
Untuk meningkatkan kemampuan tersebut, Google menggunakan berbagai sumber data curah hujan dalam pengembangan WeatherNext 3.
Salah satunya berasal dari Integrated Multi-satellitE Retrievals for GPM (IMERG), sistem estimasi curah hujan berbasis satelit milik NASA. Data tersebut membantu model memahami pola presipitasi di berbagai wilayah.
Google juga menggunakan sumber data lain untuk mengevaluasi dan meningkatkan kemampuan model dalam memprediksi curah hujan.
Dalam evaluasinya, Google menggunakan Continuous Ranked Probability Score (CRPS). Metrik tersebut digunakan untuk mengukur kualitas prediksi probabilistik dengan membandingkan distribusi kemungkinan prakiraan terhadap kondisi yang benar-benar terjadi.
Google mengklaim WeatherNext 3 menunjukkan peningkatan kinerja dalam prediksi curah hujan berdasarkan sejumlah pembanding. Namun, angka peningkatan tersebut merupakan hasil evaluasi Google sehingga perlu dibaca dalam konteks metodologi dan dataset yang digunakan.
Masuk ke Produk Google
WeatherNext 3 tidak hanya dikembangkan sebagai proyek penelitian.
Google mulai mengintegrasikan model tersebut ke sejumlah produknya, termasuk Google Search, Gemini, Google Maps, Google Maps Platform Weather API, dan Google Earth Engine.
Peneliti dan pengembang juga dapat memanfaatkan data prakiraan resolusi tinggi melalui layanan seperti BigQuery, Earth Engine, dan Google Cloud Storage.
Artinya, pengembang tidak harus membangun model prakiraan cuaca sendiri dari awal untuk menggunakan data WeatherNext 3 dalam berbagai kebutuhan.
Bagi pengguna umum, perubahan tersebut berpotensi membuat informasi cuaca yang muncul di berbagai layanan Google menjadi lebih sering diperbarui dan lebih detail.
Namun, teknologi AI tersebut tetap bukan pengganti lembaga meteorologi resmi.
Google sendiri mengingatkan bahwa WeatherNext 3 dan Weather Lab merupakan teknologi untuk mendukung informasi serta pengambilan keputusan. Untuk prakiraan resmi, peringatan cuaca ekstrem, dan imbauan keselamatan, masyarakat tetap perlu mengacu pada badan meteorologi nasional atau lembaga cuaca resmi di wilayah masing-masing.
Di Indonesia, rujukan resmi untuk informasi cuaca dan peringatan dini tetap perlu mengacu pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Pengembangan WeatherNext 3 menunjukkan bahwa persaingan AI tidak hanya berlangsung pada chatbot dan generator gambar. Google juga mendorong AI untuk menangani persoalan ilmiah yang berdampak langsung pada aktivitas sehari-hari, salah satunya bagaimana manusia memahami perubahan cuaca dengan lebih cepat dan detail.
Sebelumnya, keluarga WeatherNext juga telah digunakan untuk membantu meningkatkan prediksi siklon tropis. Google DeepMind menyebut model WeatherNext telah digunakan dalam kolaborasi dengan National Hurricane Center untuk memberikan informasi tambahan dalam memperkirakan perkembangan badai.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

















































