
Persita vs PSIM Jogja/Instagram: PSIM Jogja
Harianjogja.com, BANTUL—PSIM Jogja gagal meraih kemenangan pada laga yang bertepatan dengan perayaan hari ulang tahun ke-97 klub. Menjamu Persita Tangerang di Stadion Sultan Agung, Bantul, Sabtu (5/9/2026), Laskar Mataram harus puas bermain imbang 1-1.
Hasil tersebut membuat PSIM belum mampu memutus tren tanpa kemenangan saat menghadapi Persita. Meski gagal mengamankan tiga poin di laga spesial tersebut, pelatih PSIM Jogja Van Gastel menilai hasil imbang tetap bisa menjadi modal penting untuk perjalanan tim selanjutnya.
PSIM sebenarnya mengawali pertandingan dengan tekanan tinggi. Namun, permainan tuan rumah belum sepenuhnya berjalan sesuai harapan, terutama dalam distribusi bola.
Van Gastel menilai akurasi umpan menjadi salah satu persoalan utama PSIM dalam pertandingan tersebut. Passing yang selama ini menjadi salah satu kekuatan tim justru tidak berjalan maksimal saat menghadapi Persita.
“Hal yang paling utama, tadi kami banyak passing yang kurang presisi. Operan kami juga banyak yang kurang,” kata Van Gastel seusai pertandingan.
Masalah tersebut turut memengaruhi efektivitas permainan PSIM. Di sisi lain, Persita mampu memanfaatkan celah yang muncul untuk mencuri keunggulan pada awal babak kedua.
Petaka bagi PSIM terjadi pada menit ke-49. Persita melancarkan serangan balik cepat setelah kiper PSIM Cahya Supriadi keluar dari sarangnya.
Situasi tersebut dimanfaatkan Luquinhas untuk mencetak gol dan membawa Persita unggul 1-0.
Van Gastel menilai gol tersebut seharusnya bisa dihindari. Menurut dia, PSIM terlalu mudah memberikan kesempatan kepada Persita untuk mencetak gol.
“Menit ke-49 kami kemasukan gol yang mudah dari Persita,” ujarnya.
Tertinggal satu gol membuat Van Gastel melakukan perubahan untuk meningkatkan daya gedor timnya. Ia memasukkan Alwi, Raka, dan Haljeta untuk memberikan tenaga baru sekaligus mencoba membongkar pertahanan Persita.
Pergantian tersebut akhirnya memberikan hasil.
PSIM terus meningkatkan tekanan hingga akhirnya mendapatkan gol penyeimbang pada menit ke-84. Berawal dari kemelut di kotak penalti Persita, Purzycki memanfaatkan situasi tersebut untuk menjebol gawang tim tamu.
Gol itu mengubah kedudukan menjadi 1-1 sekaligus menyelamatkan PSIM dari kekalahan di kandang.
Namun, waktu yang tersisa tidak cukup bagi Laskar Mataram untuk mencetak gol kedua. Pertandingan pun berakhir dengan skor imbang.
Gagal Menang di Hari Spesial
Hasil tersebut terasa kurang lengkap bagi PSIM karena pertandingan digelar bertepatan dengan peringatan HUT ke-97 klub.
Van Gastel memahami keinginan suporter untuk mendapatkan kemenangan sebagai hadiah ulang tahun. Namun, ia meminta maaf karena tim belum mampu memenuhi harapan tersebut.
“Kami senang karena hari ini adalah hari jadi PSIM ke-97. Kami mohon maaf belum bisa memberikan kemenangan untuk fans,” kata dia.
Bagi Van Gastel, satu poin tetap memiliki arti penting. Hasil tersebut sekaligus memberikan kesempatan bagi PSIM untuk mengevaluasi sejumlah persoalan yang muncul selama pertandingan, terutama akurasi operan dan cara tim mengantisipasi serangan balik lawan.
Carlos Pena Kecewa
Di kubu Persita, pelatih Carlos Pena juga tidak sepenuhnya puas dengan hasil akhir.
Persita sebenarnya sudah berada dalam posisi untuk membawa pulang tiga poin setelah Luquinhas membawa timnya unggul pada menit ke-49. Namun, keunggulan tersebut sirna setelah PSIM mencetak gol penyama pada menit ke-84.
“Kami tidak senang dengan kondisi ini karena kami hampir menang, tetapi malah imbang,” kata Carlos Pena.
Pena menilai PSIM tampil agresif pada sekitar 20 menit pertama pertandingan. Laskar Mataram memberikan tekanan tinggi yang membuat Persita harus bekerja keras untuk keluar dari tekanan.
Namun, Persita kemudian mampu mengontrol jalannya pertandingan dan menciptakan sejumlah peluang.
Menurut Pena, satu poin tetap bukan hasil yang mudah didapatkan karena Persita bermain di kandang PSIM. Kondisi tersebut semakin menantang karena beberapa pemainnya baru merasakan pengalaman tampil di kompetisi Liga Indonesia.
Bahkan, Pena menyebut bek kanan yang dimainkan Persita dalam pertandingan tersebut masih berusia 19 tahun.
Hasil 1-1 akhirnya menjadi penutup laga kedua tim. PSIM harus segera membenahi efektivitas permainan setelah gagal meraih kemenangan di momen penting, sementara Persita harus menerima kenyataan bahwa keunggulan yang sudah mereka bangun terlepas pada menit-menit akhir.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































