Harianjogja.com, JOGJA—Industri smartphone global menghadapi tekanan besar pada 2026. Kenaikan harga komponen memori, terutama DRAM dan NAND, membuat biaya produksi meningkat ketika produsen juga harus menghadapi konsumen yang semakin berhati-hati mengganti perangkat.
Tekanan tersebut berkaitan erat dengan meningkatnya kebutuhan komputasi untuk kecerdasan buatan (AI). Kapasitas produksi memori semakin banyak terserap untuk kebutuhan pusat data, sehingga pasokan bagi perangkat konsumen ikut tertekan.
International Data Corporation (IDC) memperkirakan pasar smartphone global mengalami penurunan tajam pada 2026 akibat krisis memori. Kenaikan harga komponen tersebut juga mendorong produsen menghadapi pilihan sulit antara menaikkan harga perangkat atau melakukan penyesuaian spesifikasi.
Dampaknya tidak hanya terasa di pasar global. Counterpoint Research mencatat pengiriman smartphone di Indonesia turun 9 persen secara tahunan pada kuartal I 2026.
Senior Analyst Counterpoint Research Shilpi Jain menyebut penurunan tersebut terjadi meski kondisi ekonomi Indonesia menunjukkan perbaikan. Menurut dia, kenaikan harga smartphone akibat inflasi di pasar memori menjadi salah satu faktor utama yang membuat konsumen menunda pembelian perangkat baru.
Kondisi ini membuat segmen smartphone menengah menghadapi tantangan tersendiri. Konsumen tetap menginginkan perangkat dengan kemampuan tinggi, tetapi kenaikan biaya komponen membuat ruang produsen untuk menawarkan spesifikasi lebih tinggi dengan harga yang sama semakin terbatas.
Di tengah situasi tersebut, Xiaomi membawa pendekatan berbeda melalui REDMI Note 17 Series. Alih-alih hanya mengandalkan peningkatan spesifikasi, perusahaan menonjolkan daya tahan baterai dan ketahanan fisik perangkat sebagai bagian penting dari pengalaman penggunaan.
Redmi Note 17 Bawa Baterai 10.000 mAh
Salah satu daya tarik terbesar REDMI Note 17 Pro Max 5G adalah baterainya.
Xiaomi membekali perangkat tersebut dengan baterai berkapasitas 10.000 mAh, yang menjadi salah satu kapasitas terbesar pada smartphone mainstream saat ini. Xiaomi mengklaim perangkat tersebut mampu digunakan hingga tiga hari dalam penggunaan normal.
Pengisian dayanya juga didukung teknologi 100W. Xiaomi menyebut pengisian selama 20 menit dapat menyediakan daya untuk penggunaan sehari penuh, meski hasil penggunaan sebenarnya tetap bergantung pada pola pemakaian.
Perusahaan juga mengklaim kesehatan baterai dapat dipertahankan di atas 80 persen setelah mencapai 1.600 siklus pengisian. Dalam skenario penggunaan yang dihitung Xiaomi, angka tersebut setara dengan sekitar enam tahun.
Kapasitas besar tersebut membuat strategi Xiaomi cukup mudah dipahami. Bagi pengguna yang mengandalkan smartphone untuk bekerja, bermain gim, navigasi, merekam video hingga menikmati konten, daya tahan baterai merupakan aspek yang langsung dirasakan setiap hari.
Selain kapasitas, Xiaomi juga membangun narasi ketahanan perangkat melalui struktur REDMI Titan Structure.
REDMI Note 17 Pro Max 5G telah mendapatkan sertifikasi TÜV SÜD 5-star Battery Performance Certification. Xiaomi menyebut pengujian tersebut mencakup aspek seperti ketahanan baterai dalam penggunaan jangka panjang, ketahanan terhadap kondisi lingkungan, serta pengujian mekanis.
Untuk perlindungan terhadap air, Xiaomi menyebut perangkat tersebut telah melewati pengujian TÜV SÜD pada kedalaman hingga 2 meter selama 72 jam.
Spesifikasi resmi Xiaomi mencantumkan ketahanan air dengan peringkat IP66 dan IP68 untuk REDMI Note 17 Pro Max 5G. Karena itu, klaim mengenai IP69 dan IP69K dalam naskah sumber sebaiknya tidak digunakan tanpa konteks atau sumber resmi yang secara spesifik menyatakan sertifikasi tersebut.
Xiaomi Tak Hanya Mengejar Angka Spesifikasi
Strategi tersebut menjadi menarik jika dilihat dari kondisi industri saat ini.
Krisis memori membuat produsen smartphone menghadapi kenaikan biaya sekaligus tekanan untuk mempertahankan harga tetap kompetitif. IDC bahkan memperkirakan pengiriman smartphone global pada 2026 turun tajam akibat kombinasi keterbatasan memori, kenaikan biaya dan melemahnya permintaan.
Dalam kondisi seperti itu, peningkatan kapasitas RAM atau penyimpanan tidak selalu menjadi satu-satunya cara untuk menarik konsumen.
Daya tahan baterai, ketahanan fisik dan usia penggunaan perangkat yang lebih panjang justru dapat menjadi pertimbangan yang lebih konkret bagi pengguna.
REDMI Note Series sendiri telah melewati angka 500 juta unit pengiriman secara global sejak pertama kali diperkenalkan. Pencapaian tersebut membuat lini ini menjadi salah satu produk penting bagi strategi Xiaomi di pasar smartphone.
REDMI Note 17 Series kemudian hadir dengan empat model dan membawa pendekatan yang lebih menekankan ketahanan perangkat. Untuk varian Pro Max, Xiaomi menjadikan baterai 10.000 mAh sebagai salah satu fitur utama.
Bagi konsumen, pendekatan tersebut memiliki arti lebih praktis. Ketika harga smartphone berpotensi meningkat akibat biaya komponen, perangkat yang dapat digunakan lebih lama tanpa harus sering mengisi daya atau terlalu khawatir terhadap benturan dan paparan air menawarkan nilai yang berbeda.
Dengan demikian, persaingan smartphone tidak lagi semata-mata soal siapa yang menawarkan RAM terbesar, kamera dengan resolusi tertinggi atau skor benchmark paling tinggi.
Di tengah tekanan rantai pasok, kemampuan sebuah perangkat untuk bertahan lebih lama dan tetap nyaman digunakan juga menjadi bagian penting dari nilai sebuah smartphone.
Itulah ruang yang kini coba diisi Xiaomi melalui REDMI Note 17 Series. Bukan berarti perlombaan spesifikasi telah berakhir, tetapi krisis komponen membuat produsen harus semakin cermat menentukan fitur mana yang benar-benar memiliki nilai bagi konsumen.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

















































