
Foto ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), untuk program Waste to Energy atau Pengolahan Sampah Energi Listrik (PSEL). Foto dibuat menggunakan Artificial Intelligence.
Harianjogja.com, BANTUL—Pemerintah Kabupaten Bantul mulai menyiapkan infrastruktur pendukung untuk memastikan pasokan sampah ke fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Piyungan berjalan lancar. Salah satu kebutuhan utama yang disiapkan adalah 50 unit truk pengangkut sampah untuk memenuhi kewajiban pasokan sekitar 250 ton sampah setiap hari.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bantul Bambang Purwadi Nugroho mengatakan jumlah armada tersebut disesuaikan dengan kapasitas angkut yang dipersyaratkan. Setiap truk diproyeksikan mampu membawa sekitar lima ton sampah sehingga diperlukan sedikitnya 50 kendaraan untuk memenuhi kebutuhan pengiriman ke PSEL.
Namun, kesiapan armada Bantul saat ini belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan tersebut. DLH Bantul baru memiliki 36 armada sehingga masih terdapat kekurangan 14 truk.
"Saat ini, kami baru memiliki 36 armada. Memang masih terdapat kekurangan 14 truk untuk memenuhi kebutuhan pengangkutan sampah menuju PSEL, tapi kan seiring waktu nanti bisa di inilah pengadaannya," kata Bambang, Sabtu (5/9/2026).
Untuk menutup kekurangan tersebut, Pemkab Bantul berencana melakukan penambahan kendaraan melalui pengadaan menggunakan APBD. Pengadaan armada tambahan diharapkan dapat dilakukan mulai 2027.
"Mudah-mudahan di 2027 mendatang kami bisa menambah armada dengan dana APBD," ujarnya.
Selain kendaraan pengangkut, kesiapan titik pengumpulan sampah juga menjadi perhatian. Pemkab Bantul berencana menyediakan depo yang berfungsi sebagai lokasi pengumpulan sebelum sampah diangkut menuju PSEL Piyungan.
Dalam perencanaan awal, terdapat sembilan titik depo yang akan dibangun dengan mempertimbangkan persebaran sumber timbulan sampah di wilayah Bantul. Akan tetapi, pelaksanaannya dilakukan secara bertahap.
Untuk tahap awal, DLH Bantul menargetkan lima lokasi depo. Kawasan dengan produksi sampah tinggi akan menjadi prioritas, terutama wilayah Bantul bagian utara seperti Kapanewon Sewon, Kasihan, dan Banguntapan.
"Targetnya sebenarnya ada sembilan titik, tapi mungkin untuk awal ini kami targetnya ada lima lokasi," katanya.
Bambang mengatakan pembangunan depo baru merupakan pilihan yang paling ideal untuk mendukung sistem pengangkutan menuju PSEL. Meski demikian, pemerintah daerah masih memiliki alternatif dengan memanfaatkan fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) yang telah tersedia apabila pembangunan depo baru belum dapat dilakukan.
Dari sisi ketersediaan sampah, DLH Bantul memperkirakan kewajiban memasok 250 ton per hari ke PSEL masih dapat dipenuhi. Berdasarkan perhitungan pemerintah daerah, produksi sampah di Bantul mencapai sekitar 421 ton setiap hari.
"Kurang lebih kewajiban kami itu kira-kira separuh dari produksi sampah sekarang. Mudah-mudahan bisa terpenuhi kalau dari hitungan karena itu rumus standar nasional," jelas Bambang.
Dengan demikian, tantangan Bantul bukan hanya memastikan jumlah sampah yang tersedia, tetapi juga membangun sistem pengumpulan dan pengangkutan yang mampu mengirimkan sampah sesuai ketentuan. Ketersediaan armada dan depo menjadi bagian penting agar pasokan menuju PSEL dapat berlangsung secara teratur.
Bambang menambahkan kesiapan teknis tersebut perlu diikuti dengan pemahaman masyarakat mengenai mekanisme pengelolaan sampah. Sosialisasi publik dinilai menjadi faktor penting agar sampah yang telah ditetapkan masuk dalam skema PSEL benar-benar disalurkan melalui jalur yang telah disiapkan.
Hal itu berkaitan dengan nota kesepahaman (MoU) dan perjanjian kerja sama (PK) yang menjadi dasar pelaksanaan pengelolaan sampah menuju fasilitas PSEL. Pemerintah ingin memastikan sampah yang masuk dalam skema tersebut tidak kembali berakhir di lokasi pembuangan liar atau tidak tertata.
"Kuncinya sosialisasi publik, bagaimana setiap titik nanti sesuai MoU dan PK tentu harus ke PSEL semua, tidak ada lagi sampah liar, tidak ada lagi sampah yang tidak tertata," pungkasnya.
Kesiapan armada, depo, dan masyarakat tersebut menjadi bagian dari persiapan Bantul menghadapi sistem pengelolaan sampah baru. Dengan target pasokan 250 ton per hari, Pemkab Bantul perlu memastikan rantai pengangkutan dari sumber sampah hingga PSEL berjalan konsisten ketika fasilitas tersebut mulai beroperasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































