Rupiah Melemah ke Rp18.060 per Dolar AS

4 hours ago 1

Jumali

Jumali Selasa, 28 Juli 2026 09:57 WIB

Rupiah Melemah ke Rp18.060 per Dolar AS

Ilustrasi rupiah. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (28/7/2026). Berdasarkan data Refinitiv, mata uang Garuda dibuka di level Rp18.060 per dolar AS atau terdepresiasi sekitar 0,33% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

Pelemahan tersebut memperpanjang tekanan yang telah terjadi sejak awal pekan. Pada perdagangan sebelumnya, rupiah juga ditutup melemah dan berada di kisaran Rp18.000 per dolar AS.

Menariknya, tekanan terhadap rupiah terjadi ketika indeks dolar AS (DXY) justru bergerak melemah. Pada pukul 09.00 WIB, indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia tercatat berada di level 101,483 atau turun sekitar 0,05%.

Dalam kondisi normal, pelemahan dolar AS berpotensi memberikan ruang penguatan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Namun kali ini sentimen domestik dan kehati-hatian investor menjadi faktor yang lebih dominan dalam menentukan arah pergerakan pasar.

Investor Fokus pada Sentimen Dalam Negeri

Pelaku pasar saat ini masih mencermati berbagai perkembangan domestik yang dinilai dapat memengaruhi stabilitas pasar keuangan nasional.

Ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter dan langkah-langkah yang akan ditempuh otoritas keuangan menjadi perhatian utama investor. Pasar umumnya menyukai kepastian kebijakan karena dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai prospek ekonomi dan nilai tukar.

Analis menilai setiap perubahan dalam struktur kepemimpinan maupun kebijakan ekonomi strategis biasanya akan direspons secara cepat oleh pasar keuangan, termasuk pasar valuta asing.

Karena itu, investor diperkirakan akan terus memantau berbagai sinyal kebijakan yang dikeluarkan otoritas moneter dalam beberapa waktu ke depan.

Tekanan Global Masih Membayangi

Selain faktor domestik, rupiah juga masih menghadapi tantangan dari perkembangan ekonomi global.

Pelaku pasar internasional masih menunggu arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve. Setiap perubahan ekspektasi terhadap suku bunga AS berpotensi memengaruhi arus modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

Ketika investor global memilih aset-aset berdenominasi dolar AS, tekanan terhadap mata uang negara berkembang biasanya meningkat. Sebaliknya, apabila ekspektasi suku bunga AS melunak, peluang penguatan rupiah akan semakin terbuka.

Di sisi lain, dinamika geopolitik dan perlambatan ekonomi global juga masih menjadi faktor yang diperhitungkan investor dalam mengambil keputusan investasi.

Rupiah Diperkirakan Masih Fluktuatif

Sejumlah pengamat memperkirakan pergerakan rupiah dalam jangka pendek masih akan berlangsung volatil. Investor diperkirakan akan menunggu kepastian berbagai kebijakan ekonomi sebelum kembali meningkatkan eksposur pada aset-aset domestik.

Meski demikian, fundamental ekonomi Indonesia masih menjadi salah satu faktor penopang yang dapat membantu menjaga stabilitas nilai tukar dalam jangka menengah.

Pelaku pasar kini menanti berbagai perkembangan terbaru baik dari dalam negeri maupun dari Amerika Serikat yang berpotensi menjadi penentu arah rupiah pada perdagangan berikutnya.

Dengan kombinasi sentimen domestik dan global yang masih kuat, pergerakan rupiah diperkirakan tetap dinamis dalam beberapa hari mendatang. Investor pun diimbau untuk terus mencermati perkembangan pasar dan kebijakan ekonomi yang dapat memengaruhi nilai tukar mata uang nasional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |