
Petani mencabut benih untuk ditanam. - ilustrasi/Antara
Harianjogja.com, KULONPROGO—Petani di Kapanewon Temon, Kabupaten Kulonprogo, tengah berpacu dengan waktu untuk menuntaskan masa tanam padi Musim Tanam Kedua (MT 2) sebelum dampak puncak El Nino diperkirakan terjadi pada Agustus-September 2026. Sebagai wilayah paling barat dan terakhir menerima aliran irigasi, Temon kini menjadi fokus percepatan pengolahan lahan pertanian.
Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertapang) Kulonprogo memastikan keterlambatan tanam di wilayah tersebut bukan disebabkan kendala teknis, melainkan bagian dari pengaturan distribusi air irigasi yang dilakukan bertahap dari wilayah timur menuju barat agar seluruh lahan pertanian mendapatkan pasokan air secara merata.
Kepala Bidang Produksi dan Perlindungan Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Dinas Pertanian dan Pangan Kulonprogo Wazan Mudzakir mengatakan aliran irigasi untuk wilayah Temon memang menjadi giliran terakhir karena sumber air berasal dari kawasan timur Kulonprogo.
“Air itu mengalir urut dari timur ke barat. Jadi wilayah Temon yang berada di paling ujung memang mendapatkan giliran untuk pembasahan lahan dan traktor paling belakangan. Sementara wilayah timur sudah tanam duluan, Temon sekarang menjadi babak terakhir yang sedang berproses,” ungkap Wazan saat dikonfirmasi, Senin (25/5/2026).
Menurut Wazan, kondisi cuaca yang masih diselingi hujan ringan cukup membantu proses pengolahan lahan pertanian di Temon. Situasi tersebut membuat Dispertapang optimistis target tanam padi MT 2 di Kulonprogo tetap dapat tercapai sebelum ancaman kekeringan meningkat.
Ia menjelaskan wilayah pertanian golongan satu saat ini bahkan telah menyelesaikan dua kali panen padi dan mulai memasuki musim tanam palawija sebagai bagian dari strategi adaptasi menghadapi musim kemarau.
“Golongan satu sudah aman bahkan sempat dua kali panen padi dan sekarang masuk palawija. Sekarang fokus kita adalah memastikan komoditas padi di golongan dua, termasuk yang di Temon ini, bisa tumbuh maksimal sebelum Juli-Agustus nanti dipanen,” lanjutnya.
Meski musim kemarau mulai berlangsung, Dispertapang menyebut hingga saat ini belum terdapat dampak signifikan terhadap sektor tanaman pangan utama di Kulonprogo. Sejumlah wilayah bahkan telah mulai menanam komoditas palawija sebagai langkah antisipasi berkurangnya debit air irigasi.
Pola tanam bergantian antara padi dan palawija dinilai menjadi strategi penting dalam menjaga ketahanan pangan daerah di tengah ancaman El Nino. Selain lebih hemat air, tanaman palawija juga dinilai mampu menjaga produktivitas lahan saat pasokan irigasi mulai menurun.
Melalui sistem zonasi dan pembagian air irigasi yang dilakukan bertahap, Dispertapang memastikan kebutuhan air petani tetap terpenuhi, termasuk di wilayah Temon yang berada di ujung jalur irigasi. Strategi tersebut juga diharapkan mampu menjaga ketersediaan stok pangan di Kulonprogo selama musim kemarau berlangsung.
“Sejauh ini di peralihan musim hujan ke kemarau tidak ada kendala berarti bagi pertanian di Kulonprogo. Produktivitas pertanian masih terjaga baik,” jelas Wazan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































