
Wakil Ketua DPRD DIY, Budi Waljiman (tengah) memaparkan terkait dengan pentingya kebiasaan membaca kepada warga Semaki dalam bedah buku bertajuk Destinasi Wisata Super Prioritas di Balai RW 4, Semaki Gede, Kalurahan Semaki, Kemantren Umbulharjo, Kota Jogja, Jumat (10/7/2026)./ Harian Jogja - Stefani Yulindriani
JOGJA - Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY menggelar bedah buku bertajuk Destinasi Wisata Super Prioritas di Balai RW 4, Semaki Gede, Kelurahan Semaki, Kemantren Umbulharjo, Kota Jogja, Jumat (10/7). Kegiatan yang digelar DPAD DIY bersama DPRD DIY ini menjadi upaya meningkatkan budaya literasi masyarakat sekaligus memperluas pemahaman mengenai pengembangan pariwisata sebagai penggerak ekonomi.
Wakil Ketua DPRD DIY, Budi Waljiman, mengatakan budaya membaca masyarakat DIY masih perlu ditingkatkan. Menurutnya, perkembangan teknologi membuat masyarakat lebih banyak mengakses informasi secara digital sehingga minat membaca buku menghadapi tantangan tersendiri.
Dia membandingkan kondisi saat ini dengan masa lalu. Menurutnya, dahulu memperoleh informasi tidak semudah sekarang karena akses terhadap berbagai sumber pengetahuan sangat terbatas.
“Kalau dulu mendapatkan informasi itu tidak mudah. Sekarang semuanya serba mudah karena digitalisasi. Tantangannya tentu berbeda, sehingga budaya membaca tetap harus didorong,” ujarnya.
Sementara itu, perwakilan penerbit buku Destinasi Wisata Super Prioritas, Yosi Sulastri, menjelaskan pengembangan destinasi wisata super prioritas tidak hanya berorientasi pada sektor pariwisata, tetapi juga berkaitan dengan pemajuan budaya sebagaimana diatur dalam UU No. 5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
Dia mencontohkan pengembangan kawasan Mandalika yang memadukan potensi wisata dengan akulturasi budaya lokal. Menurutnya, pariwisata dapat menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat apabila dikembangkan dengan tetap mempertahankan nilai-nilai budaya setempat.
“Pengembangan destinasi wisata memberikan berbagai dampak positif, mulai dari tumbuhnya lapangan pekerjaan baru, meningkatnya aktivitas ekonomi lokal, hingga bertambahnya lama tinggal wisatawan yang berdampak pada sektor perhotelan dan usaha masyarakat,” katanya.
Selain itu, pengembangan destinasi juga mendorong percepatan kebijakan daerah serta menghidupkan berbagai aktivitas ekonomi kreatif, pertunjukan seni, dan keterlibatan komunitas lokal maupun generasi muda. Hanya saja, dia mengingatkan bahwa perkembangan pariwisata juga perlu diimbangi dengan pengelolaan agar tidak menimbulkan dampak komersialisasi yang berlebihan terhadap budaya.
Kontribusi Masyarakat
Sementara itu, Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY, Bobby Ardyanto Setyo Adjie, menilai DIY juga memiliki potensi besar lewat Sumbu Filosofi yang telah diakui sebagai warisan budaya dunia. Dia berharap masyarakat ikut berkontribusi menjaga sekaligus mendukung pengembangan pariwisata daerah.
“Pariwisata tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan dukungan masyarakat agar manfaat ekonominya dapat dirasakan bersama,” katanya.
Sementara itu, Pustakawan Ahli Madya DPAD DIY, Muhammad Hadi Pranoto, mengatakan bedah buku tersebut diharapkan dapat meningkatkan literasi masyarakat sekaligus membuka wawasan mengenai potensi ekonomi yang lahir dari sektor pariwisata.
“Semoga budaya membaca masyarakat meningkat,” ujarnya. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































