
Anak-anak menonton tayangan melalui gadget. - Ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memanfaatkan peringatan Hari Anak Nasional untuk mengingatkan pentingnya peran keluarga dalam melindungi anak dan remaja dari dampak adiksi digital yang berisiko mengganggu kesehatan jiwa. Seiring meningkatnya penggunaan internet di Indonesia, orang tua diminta lebih aktif mengawasi penggunaan gawai dan aktivitas digital anak.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, mengatakan internet telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Pada 2024, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 221,56 juta orang dengan tingkat penetrasi sebesar 79,5 persen, sementara sekitar 28,2 persen di antaranya aktif bermain gim daring.
"Angka-angka ini menunjukkan peluang besar sekaligus risiko nyata, terutama bagi remaja yang paling aktif di dunia digital," kata Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes Imran Pambudi di Jakarta, Sabtu.
Remaja Dinilai Lebih Rentan Mengalami Gangguan Kesehatan Jiwa
Imran menjelaskan masa remaja merupakan periode pencarian jati diri yang ditandai dengan kondisi emosional yang masih berubah-ubah dan kuatnya pengaruh lingkungan pergaulan.
Paparan konten media digital yang mendorong perbandingan sosial, tuntutan performa, maupun desain gim yang bersifat adiktif dinilai dapat meningkatkan risiko overthinking, kecemasan, hingga gangguan tidur.
Ia mengungkapkan hasil Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (INAMHS) 2022 menunjukkan persoalan kesehatan jiwa pada remaja memerlukan perhatian serius.
"Data nasional menunjukkan masalah kesehatan jiwa memerlukan perhatian. Survei INAMHS 2022 melaporkan 34,9 persen remaja mengalami masalah kesehatan jiwa dalam 12 bulan terakhir, dan 5,5 persen memenuhi kriteria gangguan klinis, angka yang menuntut respons sistemik," katanya.
Literasi Digital Menjadi Langkah Pencegahan
Menurut Imran, langkah pertama yang dapat dilakukan tanpa harus menunggu kebijakan baru adalah memperkuat literasi digital di lingkungan keluarga dan sekolah.
Anak perlu dibekali kemampuan memahami kualitas konten digital, mengatur durasi penggunaan gawai, serta mengenali desain permainan yang dapat memicu ketergantungan.
Selain pencegahan, orang tua dan guru juga diminta lebih peka terhadap berbagai perubahan perilaku yang dapat menjadi tanda awal gangguan kesehatan jiwa.
"Kedua, deteksi dini, orang tua dan guru perlu peka terhadap tanda-tanda seperti penurunan prestasi, gangguan tidur, perubahan suasana hati saat akses dibatasi, atau menarik diri dari interaksi keluarga," katanya.
Orang Tua Diminta Menjadi Teladan Penggunaan Gawai
Imran menjelaskan penanganan dilakukan secara bertahap, mulai dari pembatasan waktu layar, penerapan rutinitas hidup sehat, hingga rujukan ke layanan kesehatan jiwa apabila kondisi anak tidak membaik.
Ia menilai keluarga memiliki peran penting karena orang tua harus menjadi contoh dalam penggunaan gawai sekaligus menyusun aturan yang disepakati bersama.
"Orang tua menjadi teladan penggunaan gawai, menyusun aturan bersama misalnya maksimal 1-2 jam per hari untuk bermain gim, dan membuka dialog tanpa menghakimi, seperti menanyakan gim apa yang dimainkan, siapa teman daringnya, serta bagaimana pengalaman mereka," katanya.
Sekolah dan Pemerintah Perlu Perkuat Pendampingan
Selain keluarga, sekolah juga didorong menyediakan ruang aman bagi peserta didik melalui layanan konseling serta memasukkan materi literasi digital dan kesehatan jiwa ke dalam kurikulum.
Di sisi lain, pemerintah bersama layanan kesehatan diharapkan memperkuat sistem skrining dan rujukan serta memastikan dukungan anggaran tersedia.
Imran juga menilai penyedia layanan digital perlu menghadirkan fitur kontrol orang tua, pengingat batas waktu penggunaan, dan desain permainan yang dapat meminimalkan potensi adiksi.
"Jika anak bermain lebih dari 3-4 jam per hari atau menunjukkan tanda risiko, segera lakukan skrining awal dan pertimbangkan konsultasi profesional. Manfaatkan layanan resmi seperti DARA untuk konsultasi awal dan SATUSEHAT Mobile untuk skrining mandiri," kata Imran.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara


















































