
PDPI Cabang DIY melakukan cek kesehatan gratis di Kulonprogo, Rabu (20/5/2026) yang diikuti banyak masyarakat dengan fokus screening penyakit TBC. Cek kesehatan gratis ini juga dilengkapi dengan foto rontgen. Harian Jogja/Khairul Ma'arif -
Harianjogja.com, KULONPROGO — Kasus Tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Kulonprogo menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Data dari Dinas Kesehatan Kulonprogo mencatat, pada 2024 ditemukan 381 kasus, meningkat menjadi 428 kasus pada 2025. Sementara hingga Mei 2026, sudah terdeteksi 144 kasus baru.
Kondisi ini menjadi perhatian serius berbagai pihak. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Cabang DIY bersama Tim Penggerak PKK Kulonprogo dan Dinkes setempat pun menggelar cek kesehatan gratis di Puskesmas Wates.
Kegiatan ini tidak sekadar pemeriksaan biasa, tetapi juga dilengkapi dengan layanan foto rontgen dan pemeriksaan paru guna mendeteksi penyakit lebih dini.
TBC Masih Jadi Ancaman Serius
Perwakilan PDPI DIY, Huda Nur Rakhman, mengingatkan bahwa penyakit paru masih menjadi penyebab utama kesakitan dan kematian di Indonesia.
Ia menyebut ada tiga penyakit paru yang paling sering ditemukan, yakni Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), kanker paru, dan TBC. Dari ketiganya, TBC menjadi yang paling berbahaya karena mudah menular.
"Keterlambatan diagnosis disebabkan kurangnya pengetahuan terhadap penyakit sehingga pasien datang pada stadium lanjut dengan angka kesembuhan yang lebih rendah serta membutuhkan biaya pengobatan yang tinggi. Dari tiga penyakit tersebut yang merupakan penyakit menular langsung adalah TBC," ujarnya, Kamis (21/5/2026)
Ratusan Warga Ikut Skrining Gratis
Program cek kesehatan ini mendapat antusias tinggi dari masyarakat. Tercatat sekitar 428 peserta mengikuti pemeriksaan yang digelar di Puskesmas Wates.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperluas deteksi dini, sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan paru-paru.
Gejala TBC yang Harus Diwaspadai
Kepala Dinkes Kulonprogo, Susilaningsih, mengungkapkan peningkatan kasus TBC menjadi tantangan besar dalam sektor kesehatan.
Ia menjelaskan sejumlah gejala yang perlu diwaspadai, antara lain Batuk lebih dari dua minggu, Demam berkepanjangan, Penurunan berat badan Berkeringat di malam hari dan Mudah lelah.
Menurutnya, deteksi dini melalui program Active Case Finding (ACF) sangat penting untuk menekan penyebaran.
"Masyarakat jangan takut melakukan pemeriksaan TBC untuk menghilangkan stigma terhadap penderita. TBC dapat disembuhkan apabila diobati secara teratur sampai tuntas," tegasnya.
Target Eliminasi TBC 2030
Pemerintah menargetkan eliminasi TBC pada 2030. Untuk mencapai target tersebut, diperlukan kolaborasi semua pihak, mulai dari tenaga kesehatan, pemerintah daerah, hingga masyarakat.
Ketua TP PKK Kulonprogo, Nuraini Mufida, mengajak kader dan masyarakat aktif memberikan edukasi, terutama terkait bahaya merokok dan pentingnya menjaga kesehatan paru.
Upaya kolektif ini diharapkan mampu menekan angka penularan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pemeriksaan kesehatan secara rutin.
Dengan tren kasus yang masih meningkat, deteksi dini dan pengobatan tuntas menjadi kunci utama agar Kulonprogo bisa terbebas dari TBC di masa mendatang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































