
Direktur Utama PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk, Irwan Hidayat./ Harian Jogja
JOGJA - PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk meraih penghargaan sebagai Pelopor Industri Herbal Berkelanjutan & Kemitraan Lokal dalam ajang Jogja Brand and Business Awards (JBBA) 2026 yang digelar di Kasultanan Ballroom Royal Ambarrukmo Yogyakarta, Rabu (15/7).
Direktur Utama PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk, Irwan Hidayat, mengucapkan terima kasih atas penghargaan tersebut. Menurutnya, penghargaan ini menjadi dorongan bagi perusahaan untuk terus menjadi lebih baik.
"Kami berterima kasih, senang, dan ini pasti akan mendorong kami untuk bisa lebih baik," ucapnya, Rabu (22/7).
Dia menjelaskan, kemitraan dengan petani merupakan bagian dari strategi bisnis yang telah dijalankan sejak 1998, sebelum reformasi. Dalam menentukan petani yang akan dibina, Sido Muncul mencari daerah yang sesuai. Awalnya, perusahaan bekerja sama dengan Koperasi Balai Penelitian Tanaman Obat (BPTO) Tawangmangu yang kini bernama Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT).
Dia menceritakan, ribuan petani yang dibina sebagian besar berada di sekitar Semarang, Purwokerto, dan Wonosobo. Ada sebagian kecil di DIY, tetapi jumlahnya tidak banyak karena sebagian besar lahannya dimanfaatkan untuk kegiatan pariwisata.
Kemitraan dengan petani, kata dia, berawal dari tantangan perusahaan memperoleh bahan baku herbal yang terstandar. Saat itu, pasokan masih bergantung pada pengepul sehingga kualitas bahan baku kerap berbeda-beda.
Supervisor Humas Sido Muncul, Septiana Nur Utami (kiri) berfoto bersama Corporate General Manager Hotel Tentrem Group, Christoporus Yulianto seusai menerima penghargaan JBBA 2026, Rabu (15/7)./ Harian Jogja/Desi Suryanto
Di sisi lain, tanaman herbal yang sebelumnya banyak dipanen dari hutan juga semakin sulit diperoleh akibat berkurangnya kawasan hutan.
"Di tahun itu kami mulai punya ide untuk membudidayakan yang goal-nya supaya dapat standardisasi. Sebab ditanam oleh petani yang sama, di tempat yang sama, dengan cara yang sama, dengan bibit yang kami tentukan. Juga supaya kami ada kepastian suplai bahan," ujar dia.
Dampak dari program kemitraan tersebut, kata dia, dapat dilihat dari besarnya serapan bahan baku yang dipasok petani. Dari sekitar 50 ton bahan baku yang diolah setiap hari, sekitar 60% atau 30 ton berasal dari petani mitra.
Posisi Sido Muncul sebagai offtaker turut memberikan kepastian pasar sekaligus berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan petani.
"Sebagai offtaker kami kan memberikan keuntungan kepada petani, kami memberi dampak secara perekonomian, kesejahteraan petani," ucapnya.
Konsep Keberlanjutan
Selain memperkuat kemitraan dengan petani, komitmen Sido Muncul terhadap bisnis berkelanjutan juga diwujudkan melalui penerapan konsep zero waste di seluruh proses produksi.
Salah satu hasil yang diperoleh perusahaan dari penerapan bisnis berkelanjutan adalah meningkatnya kepercayaan masyarakat, terutama dari kalangan generasi muda. Irwan menyampaikan status zero waste dicapai melalui pemanfaatan ampas jamu sebagai bahan bakar steam boiler.
Selain itu, Sido Muncul juga mengandalkan wood pellet, CNG, panel surya, dan listrik nonsubsidi sehingga hampir seluruh kebutuhan energi pabrik berasal dari sumber energi bersih. Langkah ini, kata dia, mampu mengurangi limbah sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.
Wellness Tourism
Jauh sebelum konsep wellness tourism menjadi tren, PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk telah memulainya sekitar tahun 2003 di pabriknya di Ungaran, Jawa Tengah.
Mulanya, pabrik ini hanya dikunjungi 50–100 mahasiswa dan institusi setiap hari. Kini, setiap hari pabrik tersebut dikunjungi sekitar 400 orang dari Aceh hingga Papua. Dalam sebulan, jumlah pengunjung mencapai sekitar 8.000 orang. Mereka datang untuk melihat proses produksi jamu, mencoba produk herbal, hingga mengenal lebih dekat industri jamu nasional.
"Jadi jauh sebelum wellness ini ada dan menjadi tren, kami sudah ngelakuin," ujarnya.
Setiap tahunnya sekitar 100.000 orang berkunjung ke pabrik secara gratis. Hanya saja, sebelum datang, mereka diminta membuat appointment terlebih dahulu. Sayangnya, kunjungan ke pabrik harus berhenti saat terjadi pandemi Covid-19.
Untuk itu, jika pemerintah ingin membangun wellness tourism, dia mengusulkan agar memasukkan Sido Muncul sebagai salah satu perusahaan yang dapat dikunjungi.
Menurutnya, Jawa Tengah sangat cocok menjadi tujuan wellness tourism.
"Cocok karena letaknya di tengah, kemudian alamnya, penduduknya juga ramah, orang Jawa Tengah itu. Wellness saya setuju dan saya sudah ngelakuin 23 tahun yang lalu."
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































