
CEO PT Importa Jaya Abadi, Nizar Bawazier (empat dari kiri) baru saja memotong tumpeng dalam rangka perayaan Anniversary ke-15 Importa, Sabtu (25/7/2026)./ Istimewa
SLEMAN—PT Importa Jaya Abadi membidik ekspansi ke pasar Asia Tenggara setelah memperkuat dominasinya di pasar domestik. Perusahaan menargetkan mulai memasuki Filipina pada awal tahun depan sebelum melanjutkan ekspansi ke Thailand dan negara-negara ASEAN lainnya yang memiliki karakter pasar serupa dengan Indonesia.
CEO PT Importa Jaya Abadi, Nizar Bawazier, mengatakan ekspansi tersebut menjadi langkah berikutnya setelah distribusi produk perusahaan dinilai telah merata di Indonesia dan posisi Importa sebagai produsen furnitur besi semakin kuat.
"Target kami ke depan adalah ekspansi global, tidak hanya di Indonesia. Distribusi kami sudah rata dan positioning sebagai furnitur besi sudah kuat di Indonesia. Awal tahun depan kami berencana masuk ke Filipina, kemudian Thailand, baru negara-negara ASEAN lainnya," kata Nizar dalam acara Perayaan Anniversary ke-15 Importa, Sabtu (25/7/2026).
Menurut Nizar, perusahaan untuk sementara memilih melakukan ekspansi secara mandiri tanpa menggandeng mitra bisnis di luar negeri. Strategi tersebut diharapkan dapat menjaga standar kualitas produk sekaligus memperkuat identitas merek saat memasuki pasar internasional.
Optimisme tersebut ditopang oleh capaian perusahaan selama lima tahun terakhir. Nizar mengklaim Importa kini menjadi produsen furnitur besi nomor satu di Indonesia setelah berhasil menjual 5 juta lemari besi. Pencapaian tersebut juga telah memperoleh pengakuan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Selain itu, Importa mengklaim sebagai pelopor furnitur rumah tangga berbahan besi di Indonesia.
Meski demikian, Nizar mengakui kondisi ekonomi global masih menjadi tantangan bagi perusahaan. Fluktuasi nilai tukar mata uang, terutama penguatan dolar Amerika Serikat akibat dinamika geopolitik internasional, menjadi salah satu faktor yang memengaruhi dunia usaha. Kendati demikian, ia memastikan operasional perusahaan tetap berjalan dengan baik.
"Tantangan selalu ada, terutama dinamika currency dan geopolitik yang menyebabkan dolar AS menguat. Namun, sampai saat ini kami masih bisa menjalankan bisnis," katanya.
Di sisi internal, perusahaan terus memperkuat budaya organisasi sebagai bekal menghadapi ekspansi. Saat ini, Importa memiliki sekitar 1.300 karyawan yang tersebar di berbagai cabang di Indonesia. Setiap perayaan ulang tahun perusahaan, seluruh karyawan mengikuti acara secara daring sehingga direksi dan komisaris dapat menyampaikan arah kebijakan perusahaan secara langsung.
Menurut Nizar, kegiatan tersebut bertujuan menyatukan visi perusahaan sekaligus memperkuat penerapan nilai inti (core values) BESI, yakni Brave, Enthusiast, Synergy, dan Integrity, di seluruh jaringan perusahaan.
Sementara itu, Komisaris Utama PT Importa Jaya Abadi, Bambang Pediantoro, mengatakan pertumbuhan perusahaan tidak hanya diukur dari pencapaian bisnis, tetapi juga dari peningkatan kualitas sumber daya manusia. Perusahaan secara rutin menyelenggarakan berbagai pelatihan bagi sekitar 1.300 karyawan agar tidak hanya bertambah secara jumlah, tetapi juga berkembang dari sisi kompetensi dan pola pikir.
Selain pengembangan SDM, Importa juga menjalankan berbagai program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Salah satu program yang rutin dilakukan adalah pembangunan sumur bor di wilayah Gunungkidul untuk membantu penyediaan air bersih bagi masyarakat. Bambang menambahkan, Importa Group juga terus mengembangkan berbagai lini usaha lain, termasuk sektor makanan dan minuman (food and beverage/F&B), sehingga manfaat ekonomi yang dihasilkan perusahaan diharapkan semakin luas dirasakan masyarakat.(Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































