
Kepala Seksi Seni Pertunjukan Disbud DIY, Zita Uttungga Dewi Maharani, memaparkan pelaksanaan Festival Kethoprak DIY 2026 dalam workshop bagi peserta Festival Kethoprak DIY 2026 di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Senin (27/7/2026). /Harian Jogja - Stefani Yulindriani
JOGJA—Dinas Kebudayaan (Disbud) DIY menggelar workshop bagi peserta Festival Kethoprak DIY 2026 di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Senin (27/7/2026). Kegiatan ini disiapkan sebagai bekal bagi lima kontingen terbaik dari kabupaten/kota sebelum tampil pada babak final yang akan digelar di Alun-alun Sewandanan Pakualaman pada 7-8 Agustus 2026.
Kepala Seksi Seni Pertunjukan Disbud DIY, Zita Uttungga Dewi Maharani, mengatakan workshop tidak hanya menjadi bagian dari technical meeting, tetapi juga menjadi ruang pembinaan bagi para peserta agar memahami standar penilaian dan aspek teknis yang akan diterapkan pada festival tingkat DIY.
"Konsep kami bukan sekadar kompetisi, tetapi pembinaan. Melalui workshop ini peserta mendapat arahan sehingga saat tampil mereka lebih siap dan tidak kaget dengan kriteria penilaian dari dewan juri," ujarnya.
Menurut Zita, Festival Kethoprak DIY menerapkan sistem seleksi berjenjang. Masing-masing kabupaten dan kota lebih dahulu menggelar festival di tingkat kapanewon untuk menentukan wakil yang akan berlaga di tingkat provinsi.
Pelaksanaan seleksi di setiap daerah memang berbeda, menyesuaikan jumlah kapanewon dan kemampuan anggaran. Namun, seluruh daerah tetap menjalankan mekanisme pembinaan sebelum mengirimkan kontingennya ke Festival Kethoprak DIY.
Zita menilai potensi seni kethoprak di DIY masih sangat besar. Karena itu, Disbud DIY sengaja membatasi usia peserta maksimal 35 tahun sebagai upaya mempercepat regenerasi pelaku seni tradisi tersebut.
"Selama ini pelaku kethoprak didominasi seniman senior. Kami ingin generasi muda memiliki bekal agar nantinya bisa melestarikan kethoprak," katanya.
Ia menambahkan, regenerasi menjadi penting karena kethoprak merupakan bagian dari identitas budaya DIY, khususnya tradisi Kethoprak Mataram. Selain belajar seni peran, para pemain juga mempelajari karawitan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pertunjukan.
"Harapannya generasi muda semakin mencintai kethoprak sekaligus mengenalkan kekhasan Kethoprak Mataram yang dimiliki DIY kepada masyarakat luas," ujarnya.
Ia menuturkan Festival Kethoprak DIY 2026 akan digelar di panggung terbuka Alun-alun Sewandanan Pakualaman. Pemilihan lokasi tersebut sekaligus menghidupkan kembali tradisi pementasan kethoprak yang pada awal kemunculannya dipentaskan di ruang terbuka.
Meski begitu, pihaknya akan memaksimalkan dukungan tata suara dan pencahayaan agar kualitas pertunjukan tetap terjaga meski berlangsung di luar ruangan.
Lima kontingen akan dibagi dalam dua hari pertunjukan. Tiga kontingen dijadwalkan tampil pada 7 Agustus, sedangkan dua kontingen lainnya tampil pada 8 Agustus 2026. Setelah seluruh penampilan selesai, dewan juri akan langsung bersidang dan mengumumkan pemenang pada hari yang sama.
"Harapannya festival ini semakin mendekatkan kethoprak kepada masyarakat dan memperlihatkan bagaimana anak-anak muda saat ini menghidupkan seni tradisi," katanya.
Sementara itu, narasumber workshop sekaligus praktisi teater, Bambang Paningron, menjelaskan materi workshop mencakup teknik pemeranan, penyutradaraan, artistik, hingga penulisan naskah. Menurutnya, kegiatan tersebut bukan untuk mengubah konsep yang telah disiapkan masing-masing kontingen, melainkan mengingatkan aspek-aspek penting yang masih dapat disempurnakan menjelang pementasan.
"Workshop ini bukan modul yang harus diterapkan seluruhnya, tetapi untuk memperkaya dan mengingatkan hal-hal yang perlu diperhatikan karena masih ada waktu untuk berbenah," ujarnya.
Ia mengatakan para peserta pada dasarnya merupakan pemain yang telah berpengalaman. Tantangan utama justru terletak pada penyesuaian dengan konsep panggung terbuka di Alun-alun Sewandanan Pakualaman yang berbeda dengan gedung pertunjukan.
Menurut Bambang, para peserta perlu menyesuaikan konsep artistik, penyutradaraan, hingga blocking pemain agar tetap efektif di panggung terbuka.
"Kami berharap teman-teman tidak kaget dengan perubahan ruang pertunjukan. Justru pengalaman tampil di panggung terbuka ini bisa memperkaya kreativitas mereka dan memunculkan ide-ide baru dalam pementasan kethoprak," katanya.(Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































