Jumali Minggu, 24 Mei 2026 18:27 WIB

Foto ilustrasi penyimpanan makanan di kulkas. - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Penelitian besar dari Prancis kembali menyoroti dampak makanan olahan terhadap kesehatan setelah menemukan hubungan antara konsumsi bahan pengawet dengan meningkatnya risiko hipertensi dan penyakit kardiovaskular.
Studi yang dipublikasikan di European Heart Journal pada 20 Mei 2026 itu melibatkan lebih dari 112 ribu partisipan dalam proyek kohort NutriNet-Santé. Penelitian dipimpin oleh peneliti Mathilde Touvier bersama tim dari INSERM, INRAE, dan sejumlah universitas di Prancis.
Hasil penelitian menunjukkan kelompok dengan konsumsi pengawet non-antioksidan tertinggi memiliki risiko hipertensi 29 persen lebih tinggi dan risiko penyakit kardiovaskular sekitar 16 persen lebih tinggi dibanding kelompok dengan konsumsi paling rendah.
Pengawet Antioksidan Juga Disorot
Tak hanya pengawet non-antioksidan, penelitian ini juga menemukan pengawet antioksidan tertentu berkaitan dengan peningkatan risiko hipertensi hingga 22 persen.
Beberapa bahan yang disebut dalam penelitian antara lain kalium sorbat (E202), kalium metabisulfit (E224), natrium nitrit (E250), asam askorbat (E300), natrium askorbat (E301), natrium eritorbat (E316), asam sitrat (E330), hingga ekstrak rosemary (E392).
Asam askorbat yang dikenal sebagai vitamin C sintetis juga disebut berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular dalam penelitian tersebut.
Meski banyak bahan tersebut ditemukan secara alami pada buah dan tanaman, peneliti menilai bentuk penggunaannya sebagai bahan tambahan makanan dapat memberikan dampak kesehatan yang berbeda.
Hampir Semua Peserta Konsumsi Pengawet
Penelitian ini menganalisis data konsumsi makanan dan minuman peserta yang dikumpulkan setiap enam bulan. Para partisipan diminta melaporkan jenis produk hingga merek makanan yang mereka konsumsi.
Dari hasil analisis, sebanyak 99,5 persen peserta diketahui telah mengonsumsi setidaknya satu jenis bahan pengawet selama dua tahun pertama penelitian berlangsung.
Peneliti juga menemukan bahan pengawet tidak hanya ditemukan pada makanan ultraproses. Sekitar 35 persen produk yang mengandung pengawet masuk kategori makanan ultraproses, sedangkan sisanya tersebar di berbagai jenis produk pangan lain.
Penelitian Tidak Membuktikan Sebab Akibat
Meski hasil penelitian menarik perhatian luas, para peneliti menegaskan studi ini bersifat observasional sehingga belum dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung.
Artinya, penelitian hanya menemukan keterkaitan antara konsumsi bahan pengawet dan peningkatan risiko penyakit, bukan memastikan pengawet menjadi penyebab tunggal hipertensi maupun gangguan jantung.
Sejumlah ahli juga mengingatkan adanya keterbatasan penelitian, termasuk sulitnya mengukur jumlah pasti pengawet yang dikonsumsi peserta karena industri makanan tidak selalu mencantumkan kadar detail bahan tambahan pada label produk.
Masyarakat Diminta Lebih Selektif
Meski demikian, hasil penelitian ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk lebih selektif memilih makanan sehari-hari.
Para ahli menyarankan masyarakat mulai mengurangi konsumsi makanan ultraproses secara bertahap dan memperbanyak makanan segar seperti buah, sayuran, maupun produk minim pengolahan.
Membaca label kemasan dan mengenali kode bahan tambahan makanan juga dinilai dapat membantu konsumen mengontrol asupan pengawet dalam jangka panjang tanpa harus panik atau langsung menghentikan seluruh konsumsi makanan kemasan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































