Sultan HB X Jogja: Sragen Saudara Tua DIY, Jejak Mataram Harus Dijaga

4 hours ago 1

 Sragen Saudara Tua DIY, Jejak Mataram Harus Dijaga

Gubernur DIY, Sri Sultan HB X, saat ditemui media di Kompleks Kepatihan, Kamis (24/7/2025)./Harian Jogja-LUS

Harianjogja.com, JOGJA—Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sekaligus Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menegaskan bahwa Kabupaten Sragen memiliki peran penting dalam sejarah lahirnya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Bahkan, Sultan menyebut Sragen sebagai “saudara tua” bagi DIY karena keterkaitan historis yang kuat sejak masa perjuangan Pangeran Mangkubumi.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam Malam Puncak Muhibah Budaya Yogyakarta 2026 yang digelar di Kabupaten Sragen, Kamis (9/7/2026). Dalam kesempatan itu, Sultan menekankan pentingnya menjaga hubungan historis sekaligus melestarikan nilai-nilai budaya Mataram yang menjadi warisan bersama.

Jejak Sejarah Mataram di Sragen

Sultan mengungkapkan, salah satu titik penting sejarah berada di Pendopo Petilasan Pandak, Kecamatan Masaran, Sragen. Lokasi tersebut menjadi bagian dari perjalanan Pangeran Mangkubumi saat memulai perjuangan melawan penjajahan Belanda.

Perjuangan tersebut kemudian mencapai puncaknya melalui Perjanjian Giyanti pada 1755 yang melahirkan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Dari sinilah, keterkaitan antara Sragen dan Yogyakarta tidak hanya bersifat geografis, tetapi juga historis dan kultural.

“Jejak itu menjadikan Sragen layak disebut sebagai saudara tua DIY. Sukowati bukan sekadar persinggahan, melainkan pilar penting lahirnya Yogyakarta,” ujar Sultan dalam keterangannya.

Muhibah Budaya Jadi Ruang Merawat Warisan

Lebih lanjut, Sultan menilai Muhibah Budaya 2026 bukan sekadar seremoni atau ajang silaturahmi. Kegiatan ini juga menjadi ruang strategis untuk menggali, merawat, dan mengembangkan khazanah budaya Mataram melalui diskusi, sarasehan, hingga pertunjukan seni.

Menurutnya, pemahaman terhadap sejarah dan asal-usul akan menjadi modal penting bagi generasi mendatang dalam menjaga identitas budaya.

“Dengan memahami jejak sejarah, kita dapat membangun kesadaran generasi penerus untuk menjaga dan mengembangkan budaya,” tuturnya.

Sragen–DIY Terikat Sejarah dan Spiritualitas

Sementara itu, Bupati Sragen Sigit Pamungkas menyampaikan apresiasi atas kehadiran Pemerintah Daerah DIY dalam rangkaian Hari Jadi ke-280 Kabupaten Sragen. Ia menilai kunjungan tersebut membawa makna lebih dari sekadar seremoni.

“Kehadiran Ngarsa Dalem membawa kesejukan spiritual dan kultural bagi masyarakat Sragen,” katanya.

Sigit menambahkan, hubungan antara Sragen dan DIY tidak hanya didasarkan pada sejarah, tetapi juga pada nilai spiritualitas yang kuat. Tradisi pembacaan sejarah Pangeran Mangkubumi bahkan rutin dilakukan setiap peringatan hari jadi, mulai dari tingkat kabupaten hingga desa.

Perkuat Ikatan Budaya Jawa

Momentum Muhibah Budaya ini dinilai menjadi kesempatan penting untuk mempererat hubungan antara Sragen dan Yogyakarta sekaligus menjaga budaya Jawa yang adiluhung.

“Muhibah budaya ini menjadi penguat sambung rasa antara Sragen dan Yogyakarta. Harapannya, hubungan ini semakin erat dan berkelanjutan,” ujar Sigit.

Dengan semangat pelestarian budaya, baik DIY maupun Sragen diharapkan terus menjaga warisan Mataram sebagai identitas bersama yang tidak lekang oleh waktu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Abdul Hamied Razak

Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |