DPR RI Soroti Minimnya Fasilitas Konservasi Penyu Pantai Goa Cemara

1 hour ago 1

DPR RI Soroti Minimnya Fasilitas Konservasi Penyu Pantai Goa Cemara

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Panggah Susanto paling kiri saat meninjau lokasi konservasi penyu di Goa Cemara didampingi Bupati Bantul. /Harian Jogja-Kiki Luqman.

Harianjogja.com, BANTUL—Komisi IV DPR RI menaruh perhatian terhadap pengembangan kawasan konservasi penyu di Pantai Goa Cemara, Kapanewon Sanden, Bantul. Dalam kunjungan kerja spesifik bersama Direktorat Jenderal Perikanan Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) serta Pemerintah Kabupaten Bantul, sejumlah persoalan mencuat, mulai dari keterbatasan fasilitas, kapasitas penetasan telur penyu yang belum memadai, hingga akses jalan menuju kawasan konservasi.

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Panggah Susanto menegaskan keberadaan penyu memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut sehingga upaya pelestariannya harus menjadi tanggung jawab bersama.

"Penyu mempunyai fungsi yang sangat vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut. Karena itu keberadaannya harus dijaga bersama," ujarnya saat kunjungan kerja di kawasan konservasi Pantai Goa Cemara, Jumat (10/7).

Ancaman Terhadap Habitat Penyu Masih Tinggi

Menurut Panggah, konservasi penyu masih menghadapi berbagai tantangan. Habitat peneluran terus terancam akibat abrasi pantai, perubahan iklim, pencemaran sampah laut, hingga aktivitas manusia yang masih mengambil dan memperjualbelikan telur penyu.

"Masih ada ancaman terhadap telur maupun tukik oleh aktivitas manusia. Bahkan telur penyu masih diperjualbelikan. Kondisi seperti ini tentu harus menjadi perhatian bersama," katanya.

Ia menilai pelestarian penyu tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah. Keterlibatan masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan dibutuhkan agar konservasi dapat berjalan berkelanjutan.

Selain menjadi lokasi penyelamatan satwa dilindungi, Balai Konservasi Penyu Pantai Goa Cemara juga dinilai memiliki potensi besar sebagai pusat edukasi lingkungan sekaligus pengembangan ekowisata berbasis konservasi.

Fasilitas Dinilai Masih Sangat Terbatas

Dalam kunjungan tersebut, Komisi IV DPR RI menemukan masih minimnya sarana pendukung di kawasan konservasi. Panggah menjelaskan kondisi tersebut tidak lepas dari perubahan kewenangan pengelolaan kawasan.

"Ternyata pengelolaannya dulu berada di kehutanan kemudian beralih ke kelautan. Wajar kalau fasilitasnya masih sangat terbatas. Bahkan kawasan ini masih menjadi bagian dari Balai Konservasi Pontianak," ujarnya.

Karena itu, Komisi IV DPR RI menyatakan dukungannya terhadap program Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk memperkuat pengelolaan kawasan konservasi penyu di Pantai Goa Cemara.

Telur Penyu yang Diselamatkan Terus Meningkat

Anggota Kelompok Konservasi Penyu Goa Cemara Fajar Subekti menjelaskan konservasi berbasis masyarakat yang berjalan sejak 2010 menunjukkan perkembangan signifikan.

Pada awal berdiri, kelompok tersebut hanya mampu menyelamatkan sekitar 300 butir telur penyu. Lima tahun kemudian jumlahnya meningkat menjadi sekitar 1.500 butir, kemudian mencapai lebih dari 4.000 butir pada 2020.

Dalam tiga tahun terakhir, jumlah telur yang berhasil diamankan bahkan telah melampaui 10.000 butir.

Fajar mengatakan peningkatan tersebut didukung berbagai pihak, mulai dari Pemerintah Kabupaten Bantul, perguruan tinggi, hingga perusahaan melalui program tanggung jawab sosial (CSR).

"Awalnya tempat kami sangat sederhana. Setelah mendapat perhatian dari berbagai pihak, kepercayaan masyarakat meningkat. Sekarang mahasiswa dari berbagai universitas ikut magang di sini dan beberapa CSR juga membantu peralatan konservasi," katanya.

Kapasitas Penetasan Belum Mampu Menampung Semua Telur

Di balik peningkatan jumlah telur yang berhasil diselamatkan, kapasitas fasilitas konservasi masih menjadi kendala utama.

Saat ini, lokasi penetasan hanya mampu menampung sekitar 6.000 butir telur, sedangkan jumlah telur yang berhasil diamankan telah melampaui 10.000 butir.

"Kapasitas kami hanya sekitar 6.000 telur, padahal yang berhasil diamankan sudah lebih dari 10.000 butir. Mesin penetas juga kapasitasnya masih sekitar 1.000 telur sehingga belum mampu memenuhi kebutuhan," ujarnya.

Selain kapasitas penetasan, kelompok konservasi juga mengusulkan penambahan fasilitas seperti toilet, ruang edukasi, dan peningkatan akses jalan menuju kawasan. Saat musim peneluran, kawasan tersebut dapat menerima 100 hingga 600 pengunjung per hari.

Pemkab Bantul Siapkan Perbaikan Akses Jalan

Bupati Bantul Abdul Halim Muslih memastikan pembangunan akses jalan menuju kawasan konservasi akan diupayakan masuk dalam prioritas pembangunan infrastruktur daerah.

"Jalan menuju kawasan konservasi ini merupakan jalan lingkungan. Setelah penanganan jalan kabupaten selesai, kami memang fokus memperbaiki jalan-jalan desa. Insyaallah usulan ini akan kami upayakan masuk dalam program prioritas," katanya.

Meski demikian, Halim mengakui kemampuan fiskal Pemkab Bantul saat ini terbatas akibat berkurangnya Transfer ke Daerah (TKD) dari pemerintah pusat sebesar sekitar Rp231 miliar.

"Kabupaten Bantul mengalami pengurangan TKD sekitar Rp231 miliar. Dampaknya cukup besar terhadap kemampuan kami membangun infrastruktur. Meski begitu, usulan ini tetap akan kami catat dan dibahas bersama tim anggaran pemerintah daerah," ujarnya.

Ia berharap dukungan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan bersama Komisi IV DPR RI dapat mempercepat pengembangan kawasan konservasi sehingga pelestarian penyu di Pantai Goa Cemara semakin optimal sekaligus berkembang sebagai destinasi edukasi lingkungan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |