Jumali Rabu, 05 Agustus 2026 19:27 WIB

Timnas Singapura/Instagram: Fasingapore
Harianjogja.com, JOGJA— Laga pamungkas Grup A Piala AFF 2026 antara Timnas Indonesia dan Singapura di Stadion Jalan Besar, Jumat (7/8/2026), bukan sekadar pertandingan biasa. Ini adalah pertaruhan besar. Kemenangan menjadi satu-satunya tujuan bagi Rizky Ridho dan kawan-kawan saat melancong ke Negeri Singa. Hasil seri atau kekalahan akan mengubur mimpi Indonesia untuk kali ke-16 di turnamen bergengsi Asia Tenggara ini .
Di sisi lain, Singapura datang dengan beban berbeda. The Lions saat ini tergolong bukan tim spesial, namun tetap menyimpan potensi menjungkalkan skuad Garuda. Tim besutan Gavin Lee ini memang tidak memiliki kualitas generasi emas masa lalu, ketika nama-nama seperti Noh Alam Shah, Indra Sahdan Daud, Aleksandar Duric, Aide Iskandar, Baihakki Khaizan, atau Daniel Bennett masih berkibar. Pada era kejayaan itu, empat gelar Piala AFF berhasil disabet Singapura.
Kini, wajah Singapura telah berubah. Generasi baru yang diandalkan adalah Ilhan Fandi, putra legenda Fandi Ahmad, bersama saudaranya Irfan Fandi, Hami Syahin, Shahiran Shah, serta pemain-pemain senior seperti kiper Izwan Mahbud, kapten Hariss Harun, Song Ui Yong, dan Shawal Anuar . Nama Ilhan Fandi disebut sebagai andalan anyar setelah memutuskan pulang ke Liga Singapura .
Performa Singapura: Tak Spesial, Tapi Solid
Menilik performa The Lions di Piala AFF 2026, tidak ada yang istimewa secara statistik. Ketika berhadapan dengan Kamboja dan Timor Leste, anak asuh Gavin Lee hanya mampu mencetak satu gol dalam tiap pertandingan. Gawang mereka pun bobol ketika berjumpa Kamboja. Kemenangan tipis itu menjadi awal perjalanan Singapura sebelum mereka mencuri perhatian dengan hasil imbang tanpa gol melawan Vietnam .
Hasil imbang melawan Vietnam bukan datang dari keberuntungan semata. Meski peluang-peluang Vietnam banyak yang menguap, ada catatan penting di balik raihan satu poin itu. Lima blocked shot dan tiga penyelamatan menjadi penanda bahwa pertahanan Singapura tampil rapat dan disiplin. Kiper Izwan Mahbud juga tampil cemerlang di bawah mistar. Dalam laga itu, Singapura yang hanya menguasai bola 46 persen tetap mampu menciptakan peluang, dengan dua dari enam tembakan mengarah ke gawang .
Gavin Lee, pelatih berusia 35 tahun, membawa filosofi berbeda ke tim Singapura. Ia menerapkan konsep "Non-negotiables" atau hal-hal yang tidak bisa ditawar. Menurut Lee, kemenangan semata tidak cukup jika tidak dibarengi performa sesuai standar yang telah ditetapkan . Filosofi ini mulai membentuk mentalitas baru skuad The Lions: tidak pernah puas dan selalu menuntut perbaikan.
Ancaman Serangan Balik di Stadion Jalan Besar
Indonesia kemungkinan besar akan menerapkan pendekatan sepak bola menyerang saat melawan Singapura. Kondisi ini bisa dimanfaatkan lawan melalui serangan balik cepat. Jika transisi pertahanan Indonesia masih belum rapi, seperti yang terjadi saat melawan Vietnam, ancaman kebobolan akan terus mengintai .
Kekalahan telak 0-3 dari Vietnam di Stadion Pakansari menjadi pelajaran pahit bagi skuad Garuda. Dua gol yang bersarang di 15 menit awal laga menunjukkan kerapuhan fokus yang harus segera dibenahi. Kapten tim Rizky Ridho mengakui kesalahannya dalam pertandingan tersebut dan memilih mengabaikan kritik negatif agar tetap fokus pada laga kontra Singapura . Ia berjanji akan melakukan evaluasi bersama rekan-rekannya untuk memperbaiki kelemahan tim.
"Kritik negatif saya enggak akan peduli. Saya tahu saya salah dan saya akan move on untuk pertandingan melawan Singapura agar ke depannya lebih baik lagi," kata Ridho dalam konferensi pers usai laga melawan Vietnam .
Semua Bermain di Atas Kertas, Tapi Bukan Jaminan
Singapura berada di atas angin menjelang laga ini. Mereka mengoleksi tujuh poin, sama dengan Vietnam di puncak klasemen, sementara Indonesia tertahan di posisi ketiga dengan enam poin . Hasil imbang sudah cukup bagi Singapura untuk melaju ke semifinal, sementara Indonesia wajib menang jika tidak ingin tersingkir .
Jeda istirahat yang lebih panjang juga menjadi keuntungan tuan rumah. Singapura terakhir bertanding pada 31 Juli melawan Vietnam, sementara Indonesia baru saja bertanding pada 3 Agustus . Faktor kebugaran fisik jelas lebih unggul di pihak The Lions. Namun, tekanan sebagai tuan rumah dan target lolos semifinal bisa menjadi pisau bermata dua bagi Hariss Harun dan kawan-kawan.
Di atas kertas, memang ada banyak keunggulan Singapura. Namun, sepak bola selalu menyimpan kejutan. Timnas Indonesia yang terdesak justru kerap tampil lebih lepas dan berbahaya. Laga di Jalan Besar nanti akan menjadi pembuktian sejauh mana tekad Garuda untuk mengubah sejarah, atau kembali menelan pil pahit di pentas Piala AFF.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online














































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5539824/original/003583100_1774624130-IMG_6564.JPG.jpeg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5324850/original/079448900_1755868038-Elkan-Baggott.jpg)
