Met Gala 2026 Tuai Kontroversi, Bezos Jadi Sorotan!

7 hours ago 2

Met Gala 2026 Tuai Kontroversi, Bezos Jadi Sorotan! Tangkapan layar unggahan Instagram The Met Gala. (ANTARA - Instagram themetgalaofficial)

Harianjogja.com, JAKARTA — Ajang mode paling bergengsi di dunia, Met Gala 2026 kembali menyedot perhatian global. Digelar di Metropolitan Museum of Art, perhelatan tahun ini bukan hanya soal kemewahan karpet merah, tetapi juga menuai kontroversi karena keterlibatan miliarder teknologi.

Sorotan utama mengarah pada kehadiran pendiri Amazon, Jeff Bezos, bersama Lauren Sánchez Bezos sebagai ketua kehormatan. Keterlibatan mereka disebut-sebut menjadi salah satu faktor yang memicu perdebatan publik, terutama terkait dominasi kekuatan finansial dalam industri mode global.

Selebritas Dunia Ramaikan Karpet Merah

Sejumlah nama besar turut memimpin acara, di antaranya Beyoncé, Venus Williams, dan Nicole Kidman, bersama pemimpin redaksi Vogue, Anna Wintour.

Tiket acara dilaporkan mencapai sekitar 100.000 dolar AS, dengan total undangan terbatas hanya sekitar 450 tamu elite dari berbagai bidang, mulai dari hiburan hingga bisnis.

Tema “Fashion is Art” dan Eksplorasi Tubuh

Tahun ini, Met Gala mengusung tema “Fashion is Art”, yang terinspirasi dari pameran Costume Institute. Kurator Andrew Bolton menjelaskan bahwa konsep ini mengeksplorasi hubungan antara mode dan tubuh manusia.

Pameran dibagi dalam 13 tema besar, termasuk isu kehamilan, penuaan, disabilitas, hingga identitas tubuh. Sekitar 200 karya seni dipadukan dengan 200 busana dan aksesori, menciptakan dialog antara seni visual dan fashion kontemporer.

Beberapa karya yang mencuri perhatian antara lain desain korset karya Michaela Stark yang dipadukan dengan patung karya Niki de Saint Phalle, serta eksplorasi busana eksperimental dari desainer muda.

Kontroversi dan Kritik Publik

Di balik kemegahan acara, kritik bermunculan. Keterlibatan Jeff Bezos sebagai sponsor utama memicu reaksi dari kelompok aktivis, termasuk Everyone Hates Elon yang memasang poster protes di sejumlah titik di New York.

Spekulasi juga berkembang terkait kemungkinan akuisisi Condé Nast, induk dari Vogue, yang selama ini menjadi motor utama penyelenggaraan Met Gala.

Pengamat mode Cally Blackman menilai arah Met Gala kini mulai bergeser dari esensi seni menuju panggung publisitas.

“Daya tariknya mulai berubah. Ini bukan sekadar mode, tetapi juga strategi eksposur,” ujarnya.

Ajang Mode dengan Dampak Global

Terlepas dari kontroversi, Met Gala tetap menjadi salah satu acara paling berpengaruh di dunia. Setiap tahunnya, perhelatan ini ditonton hingga miliaran kali secara global melalui platform digital.

Selain sebagai ajang pamer gaya, Met Gala juga berfungsi sebagai penggalangan dana utama bagi Costume Institute di Metropolitan Museum of Art.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |