Jumali Rabu, 05 Agustus 2026 19:17 WIB
Harianjogja.com, JOGJA—Selama bertahun-tahun para ahli kesehatan telah mengingatkan bahwa kurang tidur dapat merusak kesehatan jantung dan metabolisme tubuh. Kini, sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Annals of Internal Medicine mengungkap fakta yang lebih mencengangkan: pengurangan durasi tidur, meski hanya satu jam, mampu memicu perubahan fisik yang signifikan pada tubuh.
Studi yang dipimpin oleh Marie-Pierre St-Onge, Direktur Center of Excellence for Sleep and Circadian Research di Universitas Columbia, menguji 95 partisipan yang terbiasa tidur 7,5 jam setiap malam.
Selama enam minggu, para partisipan diminta memotong durasi tidur mereka sebanyak 1,5 jam dengan cara tidur lebih lambat namun tetap bangun pada jam yang sama. Hasilnya, perubahan kecil dalam pola tidur ini terbukti membawa dampak nyata bagi kondisi fisik mereka.
Kenaikan Berat Badan dan Perubahan Hormon Terjadi
Selama periode uji coba berlangsung, rata-rata partisipan mengalami kenaikan berat badan sekitar 0,45 kilogram. Angka ini mungkin terlihat kecil, namun para peneliti menekankan bahwa perubahan tersebut terjadi hanya dalam waktu enam pekan akibat pengurangan durasi tidur yang relatif moderat.
Tidak hanya berat badan yang berubah, kadar hormon leptin—hormon yang berkaitan dengan lemak tubuh dan regulasi nafsu makan—juga mengalami peningkatan. Kondisi ini menjadi salah satu indikator bahwa keseimbangan metabolisme tubuh mulai terganggu akibat kurangnya waktu istirahat. Menariknya, meskipun waktu terjaga para partisipan lebih panjang, pembakaran energi justru berkurang. Hal ini disebabkan meningkatnya perilaku minim gerak atau sedentary selama masa percobaan.
Dirancang Meniru Pola Hidup Modern
Eksperimen pembatasan tidur sebelumnya kerap berfokus pada kondisi ekstrem, seperti membatasi tidur hingga 4 jam semalam yang terbukti memicu konsumsi tambahan hingga 300 kalori per hari.
Namun, studi terbaru ini sengaja merancang skenario yang lebih realistis dengan memotong durasi tidur sebesar 1,5 jam, guna mencerminkan pola hidup masyarakat modern yang kerap mengorbankan waktu tidur demi pekerjaan atau aktivitas lainnya.
Pendekatan ini menjadikan temuan studi lebih relevan bagi masyarakat umum, karena banyak orang saat ini terbiasa tidur 6 jam atau bahkan kurang dari 7 jam per malam tanpa menyadari konsekuensi kesehatan yang mengintai.
Hubungan Erat Antara Nafsu Makan, Tidur, dan Aktivitas
Dr. Sirimon Reutrakul, ahli endokrinologi dari University of Illinois College of Medicine yang tidak terlibat langsung dalam studi, menuturkan bahwa nafsu makan, durasi tidur, dan tingkat aktivitas fisik saling berhubungan erat. Ketiganya membentuk siklus yang apabila salah satu terganggu, maka komponen lain turut terpengaruh.
Reutrakul menjelaskan bahwa kurang tidur dapat memicu peningkatan hormon ghrelin yang merangsang nafsu makan, sekaligus menurunkan kadar leptin yang berfungsi memberi sinyal kenyang. Kombinasi inilah yang menyebabkan seseorang cenderung makan lebih banyak saat kurang tidur, meskipun secara fisik mereka tidak membutuhkan asupan kalori tambahan.
Dampak Buruk Dapat Dipulihkan Secara Bertahap
Berita baiknya, dampak negatif akibat kurang tidur ini dapat dipulihkan secara bertahap. Reutrakul merujuk pada studi tahun 2022 yang menunjukkan bahwa orang yang biasanya kurang tidur dan kemudian menambah durasi tidurnya selama dua minggu mampu menekan asupan energi hingga 270 kalori per hari. Temuan ini memberikan secercah harapan bahwa perubahan pola tidur yang lebih baik dapat memperbaiki kondisi metabolisme tubuh dalam waktu yang relatif singkat.
Para peneliti pun mempertegas pentingnya menjaga durasi tidur optimal antara 7 hingga 9 jam setiap malam. Perubahan sepele seperti tidur 6 jam alih-alih 7 jam sudah cukup untuk mengganggu keseimbangan metabolisme tubuh. Oleh karena itu, memprioritaskan waktu tidur yang cukup bukan sekadar soal istirahat, melainkan investasi kesehatan jangka panjang yang tidak boleh diabaikan.
Kesadaran akan Pentingnya Tidur Perlu Ditingkatkan
Temuan studi ini menjadi pengingat bahwa di tengah kesibukan dan tuntutan hidup modern, menjaga kualitas dan kuantitas tidur harus menjadi prioritas. Banyak orang menganggap mengurangi waktu tidur adalah solusi untuk menyelesaikan lebih banyak pekerjaan, padahal konsekuensinya justru dapat mengganggu kesehatan dan produktivitas dalam jangka panjang.
Masyarakat diimbau untuk mulai memperhatikan pola tidur dan tidak menganggap remeh perubahan kecil seperti tidur setengah jam hingga satu jam lebih lambat dari biasanya. Dampak kumulatif dari kebiasaan ini dapat berakibat serius bagi kesehatan metabolisme dan jantung di masa mendatang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online














































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5539824/original/003583100_1774624130-IMG_6564.JPG.jpeg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5324850/original/079448900_1755868038-Elkan-Baggott.jpg)
