Harga Rumah Sekunder Tetap Naik di 11 Kota, Surakarta Melonjak

3 hours ago 3

Harga Rumah Sekunder Tetap Naik di 11 Kota, Surakarta Melonjak

Perumahan. - Ilustrasi Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Pasar properti Indonesia menunjukkan ketahanan di tengah tekanan ekonomi dan pelemahan rupiah. Marketplace properti Rumah123 mencatat harga rumah sekunder tetap mengalami pertumbuhan di sejumlah kota besar.

Berdasarkan Flash Report Mei 2026, harga rumah sekunder secara nasional tumbuh 0,1% secara bulanan (month-to-month) dan 0,8% secara tahunan (year-on-year) pada April 2026.

Sebanyak 11 kota tercatat masih mengalami pertumbuhan harga tahunan positif. Kota Denpasar memimpin dengan kenaikan 2,0%, disusul Bogor 1,8%, dan Surakarta 1,5%.

Pasar Tidak Melemah, Hanya Berubah Pola

Head of Research Rumah123, Marisa Jaya, menegaskan bahwa pasar properti saat ini tidak sepenuhnya melemah, melainkan mengalami perubahan perilaku konsumen.

“Pasar properti saat ini tidak sedang melemah sepenuhnya, tetapi sedang mengalami reposisi perilaku konsumen. Aktivitas transaksi memang lebih selektif dibanding periode ekspansif sebelumnya, tetapi fundamental kebutuhan hunian dan permintaan konsumen yang ingin menghuni (end-user) masih tetap terjaga. Selama stabilitas pembiayaan dan daya beli relatif terpelihara, pasar rumah sekunder diperkirakan masih memiliki tingkat resiliensi yang cukup baik,” ujarnya.

Menurutnya, pasar sekunder masih ditopang kebutuhan end-user, fleksibilitas harga, serta kesiapan unit yang siap huni.

Kawasan Suburban Jadi Primadona Baru

Tren pencarian properti menunjukkan pergeseran ke wilayah penyangga Jabodetabek. Tangerang menjadi wilayah dengan proporsi pencarian terbesar mencapai 15,1%, diikuti Jakarta Selatan 11,0% dan Jakarta Barat 9,3%.

Fenomena ini menegaskan bahwa kawasan suburban kini bukan sekadar alternatif, tetapi telah berkembang menjadi pusat pertumbuhan baru pasar hunian.

Wilayah seperti Tangerang, Bekasi, dan Bogor dinilai menawarkan kombinasi menarik antara harga lebih terjangkau, akses infrastruktur yang semakin baik, serta berkembangnya pusat ekonomi baru.

Rumah Kecil Justru Paling Laris

Di tengah tekanan ekonomi, konsumen kini lebih selektif dalam memilih hunian. Rumah dengan luas bangunan kecil hingga 60 meter persegi justru mencatat pertumbuhan harga tertinggi.

Surakarta menjadi contoh paling mencolok, dengan kenaikan median harga mencapai 23,5% pada segmen rumah kecil.

Kondisi ini menunjukkan bahwa rumah terjangkau masih menjadi pilihan utama masyarakat, terutama bagi end-user yang membeli untuk ditempati, bukan investasi semata.

Konsumen Kini Lebih Rasional

Perubahan perilaku konsumen menjadi kunci dinamika pasar saat ini. Pembeli kini lebih mempertimbangkan berbagai faktor sebelum mengambil keputusan, mulai dari cicilan KPR, kesiapan unit, hingga potensi kenaikan nilai properti.

“Yang berubah saat ini bukan kebutuhan masyarakat untuk memiliki rumah, melainkan cara konsumen mengambil keputusan. Di tengah tekanan ekonomi dan pelemahan Rupiah, konsumen menjadi jauh lebih rasional. Mereka lebih sensitif terhadap cicilan, lebih mempertimbangkan kesiapan unit, serta lebih fokus pada kawasan yang menawarkan keseimbangan antara harga, aksesibilitas, dan potensi kenaikan nilai jangka panjang,” kata Marisa.

Pasar Properti Masih Punya Prospek

Dengan kebutuhan hunian yang tetap tinggi, pasar rumah sekunder diprediksi masih memiliki prospek positif. Selama faktor pembiayaan dan daya beli tetap stabil, sektor properti dinilai akan tetap menjadi salah satu penopang ekonomi nasional.

Tren ini sekaligus menegaskan bahwa di tengah ketidakpastian ekonomi, sektor properti—khususnya rumah terjangkau—masih menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |