El Nino Perluas Ancaman Kekeringan di Jawa Tengah

9 hours ago 3

Harianjogja.com, CILACAP—Fenomena El Nino yang kini telah mencapai kategori kuat meningkatkan ancaman kekeringan di Jawa Tengah. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan dampaknya tidak hanya mengganggu sektor pertanian dan sumber daya air, tetapi juga berpotensi memicu persoalan sosial ekonomi masyarakat.

BMKG menyebut kondisi musim kemarau pada 2026 diperparah oleh menguatnya El Nino yang semula diprediksi berada pada kategori moderat. Saat ini, indeks El Nino telah mencapai sekitar dua sehingga masuk kategori kuat dan meningkatkan potensi kekeringan di berbagai wilayah.

Sekretaris Utama BMKG Guswanto mengatakan musim kemarau merupakan fenomena tahunan yang umumnya berlangsung pada April hingga Oktober. Namun, kondisi pada tahun ini membutuhkan perhatian lebih karena dampak El Nino yang semakin menguat.

"Pada awalnya kami memprediksi El Nino berada pada kategori moderat, tetapi sekarang indeksnya sudah sekitar dua sehingga masuk kategori kuat. Dampaknya adalah meningkatnya potensi kekeringan," katanya dalam pembukaan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) 2026 di Cilacap, Rabu.

Ia menjelaskan kekeringan berkembang secara bertahap. Tahap awal berupa kekeringan meteorologis ketika kandungan uap air di atmosfer berkurang sehingga hujan semakin jarang terjadi.

Kondisi tersebut kemudian berkembang menjadi kekeringan pertanian saat kelembapan tanah tidak lagi mencukupi kebutuhan tanaman. Apabila terus berlanjut, situasi dapat berubah menjadi kekeringan hidrologis ketika pasokan air di sungai, waduk, embung, maupun jaringan irigasi semakin menurun.

"Kalau pasokan air di embung, danau, dan irigasi sudah tidak ada lagi, itu sudah masuk kekeringan hidrologis. Saat ini arahnya mulai menuju ke sana," katanya.

Menurut Guswanto, dampak yang paling perlu diantisipasi adalah kekeringan sosial ekonomi akibat terganggunya sektor pertanian, berkurangnya ketersediaan air bersih, hingga meningkatnya risiko gagal panen.

Ia mengatakan sejumlah wilayah di Pulau Jawa telah mengalami hari tanpa hujan selama puluhan hari akibat dominasi angin muson timur yang bertiup dari Australia menuju Asia melalui Indonesia.

“Angin yang bersifat kering tersebut mengurangi peluang terbentuknya hujan sekaligus menyebabkan suhu udara lebih rendah pada malam hingga pagi hari,” katanya menjelaskan.

Kondisi tersebut juga memunculkan fenomena embun es atau embun upas di kawasan dataran tinggi seperti di Dieng pada periode Juni hingga Agustus.

BMKG pun mengajak pemerintah daerah, petani, nelayan, dan masyarakat untuk meningkatkan langkah mitigasi menghadapi ancaman kekeringan. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan layanan informasi cuaca, iklim, dan peringatan dini serta peningkatan literasi masyarakat melalui Sekolah Lapang Cuaca Nelayan dan Sekolah Lapang Iklim.

Ditemui usai acara, Guswanto mengatakan salah satu upaya untuk mengurangi dampak kekeringan adalah melalui operasi modifikasi cuaca. Namun, teknologi tersebut hanya dapat dilakukan apabila tersedia awan hujan yang berpotensi menghasilkan presipitasi.

Hasil pemantauan radar cuaca BMKG di Jeruklegi, Cilacap, menunjukkan bahwa saat ini potensi awan hujan masih didominasi awan lapisan tinggi sehingga belum mendukung pelaksanaan modifikasi cuaca.

"Kalau awan hujannya tidak ada, modifikasi cuaca juga sulit dilakukan karena prinsipnya hanya mempercepat proses kondensasi pada awan yang memang berpotensi menghasilkan hujan," katanya.

Menurutnya, modifikasi cuaca menjadi penting ketika kekeringan mulai memasuki tahap hidrologis agar waduk, embung, dan sumber air lainnya dapat terisi. Langkah ini juga diperlukan untuk mendukung operasional pembangkit listrik tenaga air, kebutuhan irigasi, serta mencegah dampak yang lebih luas terhadap perekonomian masyarakat.

Oleh karena itu, BMKG bersinergi dengan Komisi V DPR RI, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Perhubungan, dan pemerintah daerah dalam upaya mitigasi kekeringan.

"BMKG tidak bisa bekerja sendiri. Dengan sinergi semua pihak, kita harapkan dampak kekeringan dapat diatasi bersama," kata Guswanto.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Yudhi Kusdiyanto

Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |