
Petugas saat mendemonstrasikan penggunaan teknologi 3D printing yang mulai dipasarkan di wilayah Jogja Sabtu (13/9/2026). /Harian Jogja-Yosef Leon.
Harianjogja.com, JOGJA—Teknologi 3D printing mulai semakin dekat dengan masyarakat di Jogja. Penggunaannya kini tidak lagi terbatas pada kebutuhan industri dan engineering, tetapi telah merambah keluarga, pelaku UMKM, mahasiswa hingga sektor pendidikan.
Perkembangan tersebut didukung karakter Jogja yang memiliki ekosistem kreatif, seni, desain, serta pendidikan yang cukup berkembang. Kondisi ini dinilai membuka peluang bagi teknologi manufaktur digital seperti 3D printing untuk digunakan lebih luas oleh masyarakat.
Business Development & Marketing Manager Tek Lab Indonesia, Irna Andriana, mengatakan pengguna 3D printing di Jogja berasal dari berbagai kalangan. Pengguna teknologi tersebut tidak hanya didominasi penghobi, tetapi juga keluarga dan pelaku UMKM.
“Pelanggan kami beragam mulai dari keluarga yang ingin anaknya berkreasi sendiri daripada bermain gadget,” kata Irna, Sabtu (12/9/2026).
Bagi keluarga, printer 3D dapat menjadi sarana untuk mendorong anak berkreasi dengan membuat berbagai benda secara mandiri. Teknologi tersebut memberikan alternatif kegiatan yang dapat dilakukan anak di luar penggunaan gadget.
Sementara itu, UMKM memanfaatkan printer 3D untuk menghasilkan produk yang dapat dijual kembali. Salah satu pemanfaatannya adalah pembuatan berbagai aksesori, termasuk gantungan kunci dan produk custom.
“Segmen yang kedua adalah UMKM. Banyak ibu-ibu atau kaum muda yang membeli untuk memproduksi aksesori. Itu banyak juga yang digunakan untuk berjualan,” ujarnya.
Tidak hanya keluarga dan UMKM, pemanfaatan 3D printing juga mulai dilirik mahasiswa. Teknologi ini dapat digunakan untuk membuat maket, prototype, maupun berbagai kebutuhan tugas dan pengembangan produk.
Menurut Irna, sektor pendidikan juga menjadi salah satu bidang yang memiliki potensi besar untuk memanfaatkan teknologi 3D printing. Printer 3D antara lain dapat mendukung pembelajaran robotik serta kegiatan praktik yang membutuhkan pembuatan benda secara fisik.
Country Head Tek Lab Indonesia, Jeffry Rianto, mengatakan karakter Jogja sebagai kota kreatif sekaligus pendidikan menjadi salah satu pertimbangan dalam memperluas akses terhadap teknologi 3D printing.
Menurut dia, teknologi tersebut memungkinkan gagasan yang sebelumnya hanya berbentuk digital diwujudkan menjadi benda fisik. Pemanfaatannya dapat mencakup pembuatan prototype, miniatur, produk custom hingga berbagai kebutuhan edukasi.
"Jogja memiliki karakter yang sangat kuat sebagai kota kreatif dan edukasi. Kami melihat banyak sekali potensi ide dan talenta yang bisa berkembang ketika mereka mendapatkan akses terhadap teknologi yang tepat," katanya.
Melihat potensi tersebut, Bambu Lab melalui PT Tek Lab Indonesia (TekLab) sebagai distributor resmi Bambu Lab di Indonesia menghadirkan Bambu Lab Showcase di Urban Republic Plaza Ambarrukmo, Jogja.
Kehadiran Bambu Lab Showcase tersebut menjadi bagian dari upaya membawa teknologi 3D printing lebih dekat kepada masyarakat Jogja. Akses yang semakin luas diharapkan dapat membuka lebih banyak pemanfaatan teknologi tersebut, mulai dari kebutuhan kreativitas keluarga, produksi UMKM, pengembangan produk mahasiswa hingga pembelajaran di sektor pendidikan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online
















































