Cuaca Ekstrem Serang Kolam Gurame Sleman, Tebar Benih Diminta Ditunda

1 hour ago 1

Cuaca Ekstrem Serang Kolam Gurame Sleman, Tebar Benih Diminta Ditunda

Seorang pembudidaya ikan berbincang dengan penyuluh di kompleks kolam budidaya ikan Kelompok Pembudidaya Perikanan Mina Kebun di Dusun Jongkang, Kalurahan Sariharjo, Kapanewon Ngaglik, Sleman, Rabu (29/7/2026)./ Harian Jogja- Andreas Yuda Pramono

Harianjogja.com, SLEMAN—Perubahan cuaca yang terjadi sepanjang musim bediding tahun ini mulai menimbulkan kekhawatiran di kalangan pembudidaya ikan Kabupaten Sleman. Fluktuasi suhu yang cukup tajam antara siang dan malam hari meningkatkan risiko serangan penyakit pada ikan, terutama komoditas gurame yang dikenal lebih sensitif terhadap perubahan lingkungan.

Kondisi tersebut membuat penyuluh perikanan di Kapanewon Ngaglik mengimbau para pembudidaya untuk menunda penebaran benih gurame hingga cuaca kembali stabil. Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi risiko kerugian akibat kematian ikan pada fase awal budidaya.

Penyuluh Perikanan Kapanewon Ngaglik, Putri Atinda Pribandari, menjelaskan hampir seluruh kelompok pembudidaya ikan di wilayahnya merasakan dampak perubahan cuaca ekstrem yang terjadi pada pertengahan tahun.

Menurutnya, perbedaan suhu udara yang cukup tajam saat musim bediding memengaruhi suhu air kolam. Ketika suhu air turun hingga di bawah 25 derajat Celsius, kualitas lingkungan budidaya menjadi kurang ideal bagi pertumbuhan ikan.

Selain faktor suhu, penumpukan sisa pakan dan kotoran di dasar kolam juga mempercepat penurunan kualitas air. Kondisi tersebut menciptakan lingkungan yang mendukung berkembangnya bakteri penyebab penyakit.

"Perubahan cuaca ekstrem di pertengahan tahun hampir dirasakan semua kelompok. Biasanya penyakit dimulai dari infeksi bakteri Aeromonas, lalu jika kondisi ikan semakin lemah dapat memicu timbulnya infeksi sekunder seperti virus atau luka pada tubuh dan sirip ikan," kata Putri saat ditemui di Sekretariat Pokdakan Mina Kebun, Ngaglik, Rabu (29/7/2026).

Putri menuturkan komoditas gurame menjadi jenis ikan yang paling rentan terdampak perubahan cuaca pada periode Juni hingga Agustus. Karena itu, pihaknya menyarankan pembudidaya menunda penebaran benih hingga memasuki September atau Oktober ketika kondisi cuaca dinilai lebih stabil.

Ia menambahkan sejumlah kelompok pembudidaya yang masih bergantung pada pasokan air sungai maupun mata air turut menghadapi tantangan tambahan berupa berkurangnya debit air. Sebagian kelompok bahkan menghentikan sementara kegiatan budidaya untuk menghindari kerugian yang lebih besar.

Ada pula pembudidaya yang memilih membuat sumur bor guna menjaga ketersediaan air kolam. Sebagian lainnya beralih membudidayakan ikan non-sisik yang dianggap lebih hemat air dan lebih mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan saat ini.

Dampak cuaca ekstrem tersebut juga dirasakan Kelompok Pembudidaya Perikanan Mina Kebun di Dusun Jongkang, Kalurahan Sariharjo, Kapanewon Ngaglik.

Anggota kelompok, Aris Purnomo, mengatakan kolam gurame milik kelompoknya terserang bakteri Aeromonas ketika ikan memasuki usia pemeliharaan sekitar 10 bulan. Serangan penyakit menyebabkan ratusan ikan menunjukkan gejala sakit sehingga harus dipanen lebih cepat dari rencana semula.

Sekitar 300 ekor gurame yang terdampak akhirnya dipanen lebih awal untuk menghindari kematian massal. Sementara jumlah ikan yang mati tercatat sekitar 10 ekor.

“Ikan gurame kami itu kondisinya sekarat klepek-klepek begitu. Daripada mati kami panen saja,” ujar Aris.

Meski demikian, Aris menyebut kejadian serupa tidak sering terjadi. Sejak kelompoknya mulai membudidayakan ikan pada 2012, serangan penyakit akibat perubahan cuaca seperti saat ini baru terjadi tiga kali.

Berbeda dengan sejumlah kelompok lain, Mina Kebun tidak mengalami kekurangan pasokan air karena telah memanfaatkan sumur bor. Sistem tersebut membantu menjaga ketersediaan air sekaligus membuat suhu kolam lebih stabil dibandingkan sumber air permukaan.

Sebagai langkah pencegahan, kelompoknya melakukan pengurasan dan pembersihan kolam yang terdampak penyakit. Mereka juga memutuskan menunda penebaran benih gurame baru hingga kondisi cuaca kembali normal pada September atau Oktober mendatang.

Para pembudidaya berharap kondisi cuaca segera membaik agar aktivitas budidaya dapat kembali berjalan normal. Stabilitas suhu dan kualitas air dinilai menjadi faktor utama untuk menjaga produktivitas kolam sekaligus mengurangi risiko serangan penyakit pada ikan gurame yang menjadi salah satu komoditas unggulan budidaya di Sleman.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |