Bijak menyambut tahun baru Masehi, ini catatan penting untuk muslim

1 day ago 3

Jakarta (ANTARA) - Setiap menjelang pergantian Tahun Baru Masehi, suasana perayaan kerap diwarnai dengan berbagai aktivitas yang dianggap sebagai hiburan dan tradisi tahunan.

Namun, di balik kemeriahan tersebut, terdapat sejumlah hal yang patut menjadi bahan renungan bagi umat Islam. Tidak sedikit praktik perayaan tahun baru yang justru berpotensi menimbulkan mudarat, baik dari sisi akidah, ibadah, maupun kehidupan sosial.

Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk memahami berbagai kerugian yang dapat muncul dari perayaan Tahun Baru Masehi agar dapat bersikap lebih bijak dan tetap menjaga nilai-nilai ajaran Islam.

Berikut adalah kerugian dari perayaan Tahun Baru Masehi bagi umat Islam, berdasarkan informasi resmi dari situs Kemenag dan berbagai sumber.

Baca juga: 10.678 orang kunjungi Kepulauan Seribu di libur Tahun Baru Islam

Kerugian perayaan Tahun Baru bagi umat Islam

Secara lebih terperinci, berikut beberapa kerugian yang dapat muncul bagi umat Islam di sekitar perayaan tahun baru Masehi:

1. Tasyabbuh atau menyerupai perbuatan non-Muslim

Merayakan tahun baru Masehi berarti meniru kebiasaan kaum non-Muslim. Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa umat Islam berpotensi mengikuti jejak umat-umat terdahulu, seperti bangsa Persia, Romawi, Yahudi, dan Nasrani. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya kalian mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke dalam lubang dhab (yang penuh liku-liku) pasti kalian pun akan mengikutinya.” dan Para sahabat bertanya, “Apakah yang diikuti itu Yahudi atau Nasrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi.”

2. Munculnya amalan tanpa tuntunan syariat

Malam pergantian tahun kerap diisi dengan aktivitas berkumpul dan menunggu detik-detik pergantian waktu tanpa tujuan yang jelas. Bahkan, tidak jarang muncul anggapan adanya amalan-amalan khusus yang disandarkan pada malam tersebut.

Padahal, pensyariatan suatu amalan tanpa dasar tuntunan merupakan perbuatan yang tidak dibenarkan. Waktu yang terbuang sia-sia tersebut seharusnya dapat diisi dengan kegiatan yang lebih bermanfaat, seperti berdzikir atau beribadah di masjid.

Baca juga: 45.776 penumpang gunakan KA di Jember saat libur Tahun Baru Islam

3. Perayaan yang mengarah pada hura-hura

Menurut Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah, perayaan tahun baru termasuk bentuk perayaan yang tidak disyariatkan dalam Islam. Sebab, hari raya umat Islam hanya ada dua, yakni Idul Fitri dan Idul Adha.

Hal ini ditegaskan melalui riwayat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang menyebutkan bahwa pada masa jahiliyah terdapat dua hari besar, yaitu Nairuz dan Mahrjan. Rasulullah SAW kemudian bersabda:

“Dulu kalian memiliki dua hari untuk bersenang-senang di dalamnya, sekarang Allah SWT telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.”

4. Bisa mengabaikan kewajiban shalat

Perayaan tahun baru sering kali diiringi dengan begadang hingga larut malam, bahkan sampai dini hari. Kondisi ini menyebabkan banyak orang kelelahan dan akhirnya meninggalkan shalat Subuh. Tidak sedikit pula yang tertidur hingga siang hari, sehingga shalat Zhuhur, Ashar, bahkan Maghrib terlewatkan.

5. Begadang tanpa kebutuhan yang jelas

Rasulullah SAW tidak menyukai kebiasaan begadang tanpa tujuan yang bermanfaat, termasuk menunggu pergantian tahun. Dalam sebuah riwayat dari Abu Barzah radhiyallahu ‘anhu disebutkan: “Rasulullah SAW membenci tidur sebelum shalat Isya dan berbincang-bincang setelahnya.”

Baca juga: Perayaan Tahun Baru Masehi dalam Islam: Fokus ibadah dan introspeksi

6. Berpotensi terjerumus ke dalam maksiat

Perayaan tahun baru umumnya melibatkan kaum muda yang bercampur baur antara laki-laki dan perempuan. Kondisi ini membuka peluang terjadinya khalwat, pergaulan bebas, bahkan tidak jarang berujung pada perbuatan zina.

7. Pemborosan harta

Perayaan tahun baru sering kali memicu pengeluaran besar dalam waktu singkat, baik di kafe, hotel, maupun ruang terbuka. Pengeluaran tersebut bisa mencapai puluhan ribu hingga jutaan rupiah hanya dalam satu malam. Padahal, Allah SWT telah memperingatkan:

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemborosan-pemborosan itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isra’: 26–27)

8. Mengganggu ketertiban umum

Penggunaan petasan, mercun, terompet, dan suara bising lainnya dalam menyambut tahun baru kerap mengganggu ketenangan masyarakat. Hal ini dapat meresahkan orang lain, termasuk mereka yang sedang sakit atau membutuhkan istirahat. Rasulullah SAW bersabda: “Seorang Muslim adalah seseorang yang lisan dan tangannya tidak mengganggu orang lain.”

Baca juga: Forkopimda Banda Aceh keluarkan larangan perayaan Tahun Baru 2026

Baca juga: Perayaan Tahun Baru Masehi menurut Islam, ini pendapat para ulama

Pewarta: Sean Anggiatheda Sitorus
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |