Hikmah dan pelajaran penting di balik peristiwa Isra Miraj

1 week ago 25

Jakarta (ANTARA) - Menjelang peringatan Isra Miraj 1447 Hijriah yang jatuh pada 16 Januari 2026, umat Islam kembali diajak untuk merenungi salah satu peristiwa paling agung dalam sejarah kenabian.

Isra Miraj bukan sekadar perjalanan luar biasa Rasulullah SAW dalam satu malam, melainkan sarat dengan hikmah dan pelajaran penting yang relevan sepanjang masa.

Di balik peristiwa tersebut tersimpan pesan tentang keteguhan iman, kekuasaan Allah SWT, serta pentingnya salat sebagai fondasi kehidupan seorang Muslim.

Momentum peringatan ini menjadi waktu yang tepat untuk menggali makna Isra Miraj secara lebih mendalam, agar nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak hanya diperingati secara seremonial, tetapi juga dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Berikut ini berbagai hikmah dan pelajaran penting yang didapatkan dari peristiwa Isra Miraj, berdasarkan informasi yang telah dihimpun dari situs NU online dan berbagai sumber.

Hikmah dan pelajaran penting Isra Miraj

1. Tingginya kedudukan kehambaan di sisi Allah

Dalam peristiwa Isra Miraj, Allah SWT menyebut Nabi Muhammad SAW dengan istilah “Abdun” (hamba), sebagaimana tertuang dalam QS Al-Isra’ [17]: 1. Padahal, Allah bisa saja menggunakan sebutan lain seperti nabi, rasul, atau kekasih-Nya.

Pemilihan kata abd ini menunjukkan bahwa derajat kehambaan memiliki kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah SWT.Hal ini juga terlihat ketika Al-Quran menggambarkan hamba-hamba yang ikhlas dan bertakwa dengan sebutan ‘ibadurrahman. Allah SWT berfirman:

وَعِبَادُ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمۡشُونَ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ هَوۡنٗا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلۡجَٰهِلُونَ قَالُواْ سَلَٰمٗا

Artinya:

“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan.” (QS. Al-Furqan [25]: 63)

Diriwayatkan pula bahwa melalui Malaikat Jibril, Allah SWT pernah memberikan pilihan kepada Nabi Muhammad SAW untuk menjadi nabi sekaligus raja atau nabi sekaligus hamba. Rasulullah SAW memilih menjadi hamba yang sepenuhnya mengabdi kepada Allah. Pilihan ini menegaskan bahwa status kehambaan adalah derajat paling luhur di hadapan-Nya.

Istilah “Abdun” juga digunakan untuk Nabi Muhammad SAW dalam beberapa ayat lain, di antaranya QS Al-Baqarah [2]: 23, QS Al-Hadid [57]: 9, dan QS Al-Jin [72]: 19.

2. Bekal dakwah bagi Rasulullah SAW

Sebelum peristiwa Isra Miraj, Rasulullah SAW menjalani masa dakwah yang sangat berat di Makkah. Tekanan, penolakan, serta kehilangan orang-orang tercinta yang menjadi penopang hidupnya membuat fase ini dikenal sebagai ‘amul huzni atau tahun kesedihan.

Di tengah situasi tersebut, Allah SWT memperjalankan Nabi-Nya dalam Isra Miraj sebagai bentuk penguatan spiritual dan mental. Semua ini merupakan skenario ilahi agar Rasulullah SAW menjadi pribadi yang tangguh menghadapi tantangan dakwah yang lebih besar di masa depan.

Setelah hijrah ke Madinah, ujian dakwah justru semakin berat. Peristiwa-peristiwa besar seperti Perang Badar, Uhud, Mu’tah, dan berbagai peperangan lainnya menjadi bukti bahwa perjuangan dakwah Rasulullah SAW penuh rintangan. Isra Miraj menjadi salah satu bentuk pembekalan sebelum menghadapi fase perjuangan tersebut.

3. Menyampaikan kebenaran meski pahit

Sepulang dari Isra Miraj, Rasulullah SAW dengan jujur menyampaikan peristiwa yang dialaminya kepada masyarakat Makkah. Namun, banyak yang merespons dengan keraguan, bahkan ejekan. Sebagian orang yang sebelumnya beriman justru memilih keluar dari Islam karena menganggap kisah tersebut tidak masuk akal.

Meski demikian, Rasulullah SAW tetap teguh menyampaikan kebenaran. Beliau bahkan menyebutkan bukti-bukti, seperti gambaran Masjid Al-Aqsha dan rombongan kafilah dagang yang ditemuinya dalam perjalanan. Sikap ini mencerminkan keteladanan Rasulullah SAW dalam menyampaikan kebenaran, sebagaimana sabdanya yang terkenal: “Katakanlah kebenaran meskipun pahit.”

4. Syariat Nabi Muhammad SAW menyempurnakan syariat terdahulu

Dalam peristiwa Isra Miraj, Rasulullah SAW menjadi imam shalat bagi para nabi terdahulu. Hal ini menjadi simbol bahwa seluruh nabi sebelumnya mengakui dan mengikuti risalah Nabi Muhammad SAW.

Peristiwa tersebut juga menjadi isyarat bahwa syariat Islam yang dibawa Rasulullah SAW telah menyempurnakan dan menggantikan syariat nabi-nabi sebelumnya.

5. Keutamaan Masjid Al-Aqsha bagi umat Islam

Sebelum Isra Miraj, Masjid Al-Aqsha dikenal dengan nama Baitul Maqdis. Perjalanan Isra dari Masjidil Haram ke Masjid Al-Aqsha dan Mi’raj dari sana ke langit menjadi penegasan tentang keistimewaan masjid tersebut.

Masjid Al-Aqsha pernah menjadi kiblat pertama umat Islam sebelum akhirnya dipindahkan ke Kabah. Selain itu, pahala shalat di Masjid Al-Aqsha disebutkan mencapai 500 kali lipat dibandingkan shalat di masjid biasa.

6. Islam sebagai agama fitrah dan kesucian

Dalam peristiwa Isra Miraj, Rasulullah SAW diberi pilihan antara susu dan khamr. Beliau memilih susu, lalu Malaikat Jibril menyampaikan bahwa pilihan tersebut merupakan simbol kesucian. Hal ini menjadi isyarat bahwa Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia.

Allah SWT berfirman:

فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفٗاۚ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ

Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum [30]: 30)

7. Pentingnya shalat dalam Islam

Peristiwa Isra Miraj juga menjadi momen ditetapkannya kewajiban shalat lima waktu. Kewajiban ini diterima Rasulullah SAW secara langsung tanpa perantara Malaikat Jibril, berbeda dengan syariat lainnya.

Karena itu, shalat memiliki kedudukan istimewa dalam Islam dan disebut sebagai tiang agama (imaduddin). Melalui Isra Miraj, umat Islam diingatkan bahwa shalat bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi fondasi utama kehidupan seorang Muslim.

8. Pentingnya mensucikan hati

Perjalanan agung Isra Miraj diawali dengan peristiwa pembersihan dada Nabi Muhammad SAW. Hatinya disucikan dari segala bentuk kotoran, penyakit batin, dan unsur maksiat. Hal ini mengandung pelajaran bahwa untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, seorang hamba perlu terlebih dahulu membersihkan hati dan jiwanya. Kesucian batin menjadi kunci agar penghambaan kepada Allah dapat dijalani secara sempurna dan penuh keikhlasan.

Baca juga: Ketua PWNU Jatim pertanyakan acara "Isra Miraj" oleh HTI

Baca juga: Pemkab Bogor catat 1,6 juta wisatawan selama libur Isra Miraj-Imlek

Baca juga: Libur Isra Miraj-Imlek, lalin dari Cikampek-Puncak ke Jabotabek naik

Pewarta: Sean Anggiatheda Sitorus
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |