10 Juta Views dalam 90 Hari, Ini Syarat Dapat Uang dari Shorts

6 hours ago 5

Harianjogja.com, JOGJA— YouTube Shorts kini bukan sekadar wadah kreativitas dalam durasi pendek, tetapi juga telah menjadi ladang penghasilan bagi para kreator konten. Namun, memiliki banyak penonton atau subscriber saja belum cukup untuk memperoleh pembagian pendapatan iklan Shorts. Ada sejumlah syarat ketat yang harus dipenuhi sebelum seorang kreator bisa menikmati hasil dari konten pendeknya.

Bagi para kreator yang bercita-cita mendapatkan penghasilan dari YouTube Shorts, pemahaman tentang aturan monetisasi menjadi kunci utama. YouTube telah menetapkan ambang batas yang harus dipenuhi melalui YouTube Partner Program (YPP), sekaligus mewajibkan konten yang diunggah mematuhi kebijakan monetisasi platform. Tanpa memenuhi kedua syarat tersebut, sekreatif apa pun konten yang dibuat, uang dari iklan Shorts tidak akan mengalir.

Syarat Masuk YouTube Partner Program (YPP) untuk Shorts

Untuk bisa mendapatkan pembagian pendapatan dari iklan yang tampil di Shorts Feed, kreator harus memenuhi jalur utama YPP dengan ketentuan sebagai berikut:

- 1.000 subscriber di kanal YouTube.

- 10 juta valid public Shorts views dalam 90 hari terakhir.

Sebagai alternatif, kreator juga dapat masuk YPP melalui jalur video panjang dengan syarat: 1.000 subscriber dan 4.000 jam waktu tonton publik yang valid dalam 12 bulan terakhir. Perlu dicatat, waktu tonton yang berasal dari Shorts Feed tidak dihitung sebagai bagian dari 4.000 jam tersebut.

Setelah memenuhi syarat dan diterima di YPP, kreator yang ingin memperoleh pendapatan dari Shorts juga harus menerima Shorts Monetization Module. Pembagian pendapatan Shorts hanya berlaku untuk penayangan Shorts yang memenuhi syarat mulai dari tanggal modul tersebut diterima, bukan untuk view yang diperoleh sebelumnya.

Jalur YPP Lebih Awal: Expanded YPP

YouTube juga memiliki program expanded YPP di negara atau wilayah yang memenuhi syarat. Jalur ini memberikan akses lebih awal ke sejumlah fitur monetisasi, tetapi bukan berarti kreator langsung mendapatkan pembagian pendapatan iklan Shorts. Ambang batasnya adalah:

  • 500 subscriber
  • 3 upload publik yang valid dalam 90 hari terakhir
  • Salah satu dari: 3.000 jam waktu tonton publik dalam 12 bulan atau 3 juta valid public Shorts views dalam 90 hari

Angka 3 juta view Shorts ini jangan disamakan dengan syarat 10 juta view Shorts untuk memperoleh pembagian pendapatan iklan. Expanded YPP hanyalah gerbang awal, bukan tujuan akhir.

Perubahan Kebijakan 2026: Syarat Kian Ketat

Perlu diketahui, YouTube telah mengumumkan perubahan signifikan terkait syarat monetisasi yang akan berlaku mulai 1 Februari 2027. Dalam kebijakan baru ini, kreator yang ingin bergabung dengan YPP melalui jalur Shorts membutuhkan 20 juta qualified Shorts views dalam 90 hari terakhir—naik dua kali lipat dari syarat saat ini yang sebesar 10 juta views.

Selain itu, untuk tetap mempertahankan kelayakan menerima pendapatan iklan dan bagi hasil langganan di feed video pendek, kreator Shorts juga harus mempertahankan 10 juta qualified Shorts views dalam periode 90 hari bergulir. Kreator yang di bawah angka tersebut tidak akan dikeluarkan dari YPP, tetapi tidak akan menerima pendapatan dari Shorts Creators Pool.

Video Shorts Seperti Apa yang Bisa Dimonetisasi?

YouTube pada dasarnya ingin memberikan monetisasi kepada konten yang orisinal, autentik, dan memberikan nilai kepada penonton. Konten yang dibuat dengan pola serupa masih dapat dimonetisasi apabila setiap videonya mempunyai substansi yang berbeda dan menawarkan nilai kreatif, edukatif, atau hiburan. Misalnya, sebuah kanal membuat seri video dengan format pembukaan yang sama—hal tersebut tidak otomatis menjadi masalah selama isi, cerita, informasi, atau sudut pandangnya benar-benar berbeda.

7 Jenis Video Shorts yang Berisiko Tidak Mendapatkan Monetisasi

YouTube telah memperbarui kebijakan monetisasinya sejak 15 Juli 2025, mengganti istilah "konten berulang" (repetitious content) menjadi "konten tidak autentik" (inauthentic content). Kebijakan ini menekankan bahwa konten yang diproduksi secara massal, repetitif, atau dibuat menggunakan template secara berulang dapat tidak memenuhi syarat monetisasi.

Berikut 7 jenis konten Shorts yang berisiko ditolak monetisasinya:

1. Reupload video orang lain — Mengambil video dari TikTok, Instagram, Facebook, YouTube, atau situs lain lalu mengunggahnya kembali ke Shorts dengan sedikit perubahan dapat dianggap sebagai reused content. Kompilasi klip acara, video yang dikumpulkan dari media sosial, dan konten yang diunduh dari sumber online tanpa perubahan substantif termasuk dalam kategori ini.

2. Potongan film, anime, atau acara TV tanpa nilai tambah — Mengunggah potongan adegan film, serial, anime, atau acara televisi dengan sedikit atau tanpa narasi juga berisiko tidak memenuhi kebijakan monetisasi. Sekadar memotong adegan menjadi format vertikal dan menambahkan subtitle belum tentu membuat konten tersebut menjadi orisinal.

3. Kompilasi video orang lain — Video seperti kumpulan momen viral dari berbagai akun dapat bermasalah apabila kreator hanya menggabungkan materi tersebut tanpa memberikan komentar, analisis, narasi, atau transformasi yang substansial.

4. Konten yang dibuat massal dengan template sama — YouTube memperjelas bahwa konten mass-produced atau repetitif dapat dianggap sebagai inauthentic content. Contohnya adalah membuat ratusan Shorts dengan template yang hampir sama, mengganti sedikit teks atau gambar, tetapi tidak memberikan informasi atau nilai baru yang berarti.

5. Membacakan artikel atau berita orang lain — Kanal yang hanya mengambil teks dari situs, berita, atau materi online kemudian membacakannya tanpa memberikan nilai orisinal juga berisiko ditolak monetisasinya.

6. Reaksi tanpa kontribusi yang berarti — Video reaction bukan otomatis dilarang. Namun, jika sebagian besar video hanya menampilkan reaksi nonverbal tanpa komentar atau kontribusi yang berarti, konten tersebut dapat bermasalah dalam penilaian reused content.

7. Konten AI yang dibuat secara massal — Penggunaan AI sendiri tidak otomatis membuat Shorts dilarang monetisasi. Masalahnya muncul ketika AI digunakan untuk memproduksi konten secara massal, repetitif, tidak autentik, atau menyesatkan. YouTube justru memberikan contoh bahwa AI dapat digunakan sebagai alat untuk membantu menghasilkan cerita atau visual yang unik—yang dinilai adalah nilai dan orisinalitas hasil akhirnya.

Perbedaan Copyright dan Reused Content

Perlu dipahami perbedaan antara copyright dan kebijakan reused content. Sebuah video bisa saja tidak mendapatkan copyright claim, tetapi kanalnya tetap dapat bermasalah ketika dinilai untuk monetisasi karena kontennya dianggap reused content. YouTube secara eksplisit menyatakan bahwa kebijakan reused content terpisah dari penegakan hak cipta. Karena itu, memiliki izin dari pemilik konten juga tidak selalu berarti sebuah video otomatis memenuhi syarat monetisasi.

Tips agar Shorts Lebih Aman untuk Monetisasi

Kreator dapat memperhatikan beberapa hal berikut agar konten Shorts-nya lebih aman dalam penilaian monetisasi:

  • Buat materi utama sendiri — Gunakan suara, narasi, analisis, atau sudut pandang orisinal.
  • Lakukan transformasi substantif — Jika menggunakan materi pihak lain, ubah secara signifikan dengan memberikan nilai tambah.
  • Hindari sekadar mengumpulkan video viral — Kompilasi tanpa kontribusi berarti berisiko tinggi.
  • Jangan memproduksi ratusan video dengan template identik — Variasikan konten secara bermakna.
  • Pastikan hak penggunaan materi — Musik, gambar, video, dan materi lain harus memiliki hak penggunaan yang sesuai.
  • Hindari konten menyesatkan — Judul, thumbnail, atau narasi yang tidak sesuai dengan isi video dapat merugikan.
  • Jangan mengandalkan AI untuk konten massal — AI boleh digunakan sebagai alat, bukan sebagai mesin produksi massal tanpa nilai tambah.
  • Pastikan seluruh kanal patuh — YouTube menilai keseluruhan kanal, bukan hanya satu Shorts.

Pada akhirnya, jumlah view bukan satu-satunya penentu monetisasi YouTube Shorts. Kreator harus memenuhi ambang YPP sekaligus melewati peninjauan kebijakan. YouTube dapat meninjau tema kanal, video yang paling banyak ditonton, video terbaru, metadata, hingga bagian lain dari kanal ketika menentukan kelayakan monetisasi. Dengan memahami aturan dan menghindari jebakan konten tidak autentik, peluang untuk mendapatkan penghasilan dari Shorts pun akan semakin terbuka.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |