
Ketua Badan Kehormatan DPRD DIY, Sofyan Setyo Darmawan (tengah) bersama akademisi UIN Sunan Kalijaga, Pihasniwati (kanan) saat berbincang dalam Podcast DPRD DIY Jagong Aspirasi dengan tema Pendidikan Karakter sebagai Pilar Ketentraman dan Ketertiban Masyarakat DIY, Selasa (11/8/2026). - Harian Jogja/ Ariq Fajar Hidayat
JOGJA—Pendidikan karakter dinilai tidak cukup hanya diberikan sebagai materi pelajaran di sekolah, tetapi harus dibentuk menjadi kebiasaan agar mampu mendorong masyarakat mengendalikan diri dan menjaga ketertiban di lingkungan.
Ketua Badan Kehormatan DPRD DIY, Sofyan Setyo Darmawan, mengatakan sejumlah persoalan seperti sampah, vandalisme, hingga tawuran menunjukkan masih adanya persoalan dalam penerapan nilai-nilai karakter di tengah masyarakat. Menurutnya, pendidikan karakter perlu dilakukan secara intensif dan melibatkan keluarga, sekolah, hingga lingkungan sosial.
“Kesadaran dan intensitas itu penting. Jangan sampai orang hanya tahu mana yang baik dan buruk, tetapi tidak memiliki intensitas dalam perilaku untuk menjalankan apa yang sudah diketahuinya,” kata Sofyan dalam Podcast DPRD DIY Jagong Aspirasi bertema Pendidikan Karakter sebagai Pilar Ketenteraman dan Ketertiban Masyarakat DIY, Selasa (11/8/2026).
Sofyan menilai sistem pendidikan selama ini masih cenderung menempatkan capaian kognitif sebagai ukuran keberhasilan peserta didik. Pendidikan agama dan moral pun berisiko hanya dipahami sebagai mata pelajaran yang harus mendapatkan nilai bagus, bukan nilai yang benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Jangan sampai pendidikan agama dan moral hanya menjadi objektif mata pelajaran. Yang lebih penting adalah bagaimana nilai itu diinternalisasikan sehingga menjadi perilaku sehari-hari,” ujarnya.
Menurut Sofyan, pendidikan karakter juga perlu mendapat ruang di luar pembelajaran formal. Ia mencontohkan kegiatan keagamaan seperti TPA, sekolah minggu, hingga kegiatan Pramuka sebagai wadah yang dapat diperkuat untuk membentuk moral dan karakter anak.
Sofyan juga mendorong munculnya konsep bimbingan yang tidak hanya mengasah kemampuan akademik, tetapi juga aspek afektif, moral, dan karakter. Ia menyebut pendidikan khas Kejogjaan yang diterapkan di DIY sebagai salah satu upaya yang dapat terus dikembangkan.
Akademisi UIN Sunan Kalijaga, Pihasniwati, mengatakan karakter tidak bisa dimaknai sebatas kemampuan seseorang mengetahui mana yang benar dan salah. Karakter juga mencakup kemampuan merasakan dampak dari tindakan serta mengendalikan diri ketika dihadapkan pada pilihan.
Menurutnya, kesenjangan antara pengetahuan dan perilaku menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhatikan dalam pendidikan karakter. Seseorang bisa saja memahami bahwa suatu tindakan keliru, tetapi tetap melakukannya karena gagal mengatur respons dan perilakunya.
“Karakter itu lebih dari sekadar moral knowing. Ada moral feeling, bagaimana orang bisa merasakan dampak dari perbuatannya, kemudian bagaimana dia mampu meregulasi diri, melakukan kontrol diri,” ujar Pihasniwati.
Ia mencontohkan persoalan sampah sebagai gambaran sederhana tentang lemahnya regulasi diri. Menurutnya, keputusan untuk menyimpan sampah ketika tidak tersedia tempat sampah merupakan bagian dari karakter dan tanggung jawab individu.
Ia menilai persoalan ketertiban di DIY tidak bisa hanya dibebankan kepada anak muda. Perilaku orang dewasa, kondisi lingkungan, hingga sistem yang tersedia juga turut menentukan apakah seseorang terdorong untuk bertindak tertib.
“Kita terlalu sering dimanjakan dengan pikiran kalau tidak ada tempat sampah berarti boleh membuang sampah di mana-mana. Padahal kalau tidak ada tempat sampah, kita bisa menertibkan sendiri dengan membawa sampah kita,” katanya.
Ia menambahkan, pembentukan karakter membutuhkan pendekatan yang menyeluruh karena ketenteraman masyarakat tidak lahir dari perilaku individu semata. Lingkungan yang mendukung, kebiasaan yang terus dilatih, serta keterlibatan berbagai pihak diperlukan agar nilai yang diketahui benar-benar berubah menjadi perilaku. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online







































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5539824/original/003583100_1774624130-IMG_6564.JPG.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5324850/original/079448900_1755868038-Elkan-Baggott.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4855687/original/012825900_1717681637-20240606IQ_Timnas_Indonesia_vs_Irak__15_.jpg)






