Wisatawan Naik, Uang Masuk Melambat: Fenomena Baru Pariwisata Sleman

2 hours ago 4

 Fenomena Baru Pariwisata Sleman

Kawasan wisata Tlogoputri Kaliurang Sleman sepi wisatawan. /Harian Jogja- Meigitaria Sanita

Harianjogja.com, SLEMAN—Kinerja Pendapatan Asli Daerah (PAD) sektor pariwisata Kabupaten Sleman memang menunjukkan tren positif dalam lima tahun terakhir. Namun, di balik capaian yang terus mencetak rekor tersebut, tersimpan sinyal perlambatan yang patut diwaspadai.

Data mencatat, PAD pariwisata Sleman pada 2021 berada di angka Rp146,82 miliar. Angka ini melonjak drastis pada 2022 menjadi Rp304,37 miliar atau tumbuh 107,3%. Lonjakan tajam ini tak lepas dari pulihnya sektor wisata pascapandemi Covid-19, yang ditandai dengan melonjaknya jumlah kunjungan dari 1,72 juta menjadi 7,17 juta wisatawan.

Namun setelah fase rebound tersebut, laju pertumbuhan mulai kehilangan tenaga. Pada 2023, PAD naik menjadi Rp353,45 miliar atau tumbuh 16,1%. Setahun berikutnya, 2024, kenaikannya makin melambat menjadi 7,2% dengan total Rp379,04 miliar. Bahkan pada 2025, pertumbuhan hanya menyentuh 2,6% dengan realisasi Rp388,88 miliar—menjadi yang paling rendah dalam lima tahun terakhir.

Fenomena ini cukup kontras dengan tren kunjungan wisatawan yang justru terus meningkat. Jumlah wisatawan tercatat mencapai 8 juta pada 2023, naik menjadi 8,38 juta pada 2024, dan kembali meningkat menjadi 8,61 juta pada 2025. Artinya, lonjakan jumlah wisatawan tidak lagi berbanding lurus dengan pertumbuhan pendapatan daerah.

Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata Sleman, Kus Endarto, menjelaskan bahwa PAD sektor pariwisata sangat bergantung pada pajak hotel, restoran, dan hiburan. Ketika pertumbuhan sektor tersebut melambat, dampaknya langsung terasa pada penerimaan daerah.

“Ketika pertumbuhan industri hotel, restoran, dan hiburan mengecil, maka penerimaan pajaknya juga ikut melambat,” ujarnya, Kamis (21/5/2026).

Selain itu, faktor lama tinggal wisatawan atau length of stay (LoS) juga menjadi kunci. Data menunjukkan wisatawan nusantara—yang mendominasi kunjungan—rata-rata hanya menginap di bawah dua hari. Bahkan, setelah sempat naik ke 1,83 hari pada 2023, lama tinggal ini stagnan di kisaran 1,80–1,85 hari hingga 2025.

Sebaliknya, wisatawan mancanegara mencatat peningkatan durasi tinggal hingga 2,30 hari pada 2025. Namun kontribusinya masih terbatas karena jumlahnya jauh lebih kecil dibanding wisatawan domestik.

Kondisi ini menegaskan bahwa tantangan utama pariwisata Sleman bukan lagi sekadar menarik wisatawan datang, melainkan bagaimana membuat mereka tinggal lebih lama dan membelanjakan lebih banyak uang.

Jika tidak ada strategi baru, tren pertumbuhan PAD yang terus melandai ini berpotensi berlanjut, meski jumlah kunjungan terus meningkat. Untuk 2026, Pemkab Sleman menargetkan PAD pariwisata sebesar Rp387,2 miliar, dengan realisasi yang masih menunggu perkembangan hingga akhir tahun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Abdul Hamied Razak

Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |