
Warga Kotagede mengikuti pelatihan susur Sungai Gajah Wong untuk mendeteksi dini potensi banjir dan memperkuat mitigasi bencana. /Istimewa.
Harianjogja.com, JOGJA— Kemantren Kotagede menggelar Pelatihan Keluarga Tanggap Bencana bertajuk Deteksi Dini Potensi Bencana Banjir Melalui Susur Sungai sebagai upaya memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman banjir. Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya memperoleh materi mitigasi bencana, tetapi juga melakukan praktik langsung menyusuri Sungai Gajah Wong untuk mengenali berbagai titik rawan yang berpotensi memicu banjir.
Pelatihan tersebut dirancang agar masyarakat mampu mendeteksi ancaman sejak dini sekaligus berperan aktif dalam mengurangi risiko bencana di lingkungan tempat tinggalnya.
Keluarga Jadi Garda Terdepan Penanggulangan Bencana
Kepala Jawatan Keamanan Kemantren Kotagede, Darmanto, mengatakan keluarga memiliki posisi penting sebagai garda terdepan dalam menghadapi bencana. Karena itu, peningkatan kapasitas masyarakat perlu dilakukan secara berkesinambungan agar kesiapsiagaan semakin kuat.
"Pelatihan ini merupakan salah satu upaya meningkatkan kapasitas keluarga dan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana, khususnya banjir. Kami berharap peserta memahami pentingnya kesiapsiagaan, mampu mengenali potensi ancaman di lingkungan sekitar, serta berperan aktif dalam upaya mitigasi untuk mengurangi risiko dan dampak bencana," ujarnya, Rabu (22/7/2026).
Menurutnya, kegiatan tersebut diharapkan mampu membangun budaya sadar bencana di Kotagede. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya memahami potensi risiko, tetapi juga mampu melakukan deteksi dini dan mengambil langkah pencegahan sebelum bencana terjadi.
Peserta Belajar Menilai Ketahanan Bangunan
Instruktur BPBD Kota Jogja, Aris Yulianto, menjelaskan mitigasi merupakan langkah utama untuk menekan risiko bencana. Ia menilai keluarga menjadi fondasi utama dalam membangun budaya siaga sehingga setiap anggota keluarga perlu memahami langkah antisipasi ketika menghadapi kondisi darurat.
Dalam pelatihan tersebut, peserta diajarkan mengidentifikasi kondisi bangunan menggunakan formulir penilaian. Pemeriksaan dilakukan terhadap berbagai komponen struktur bangunan, mulai dari pondasi, sloof, kolom, dinding, ring balok, detail penulangan pada pertemuan balok dan kolom, sambungan struktur, gunungan, hingga kuda-kuda atap.
"Melalui identifikasi ini, masyarakat diharapkan mampu mengetahui tingkat ketahanan bangunan, mengenali kerentanan struktur, dan mengambil langkah mitigasi sebelum terjadi bencana," katanya.
Adaptasi Perubahan Iklim Jadi Bagian Mitigasi
Instruktur Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kota Jogja, Febrinda Tara, menyampaikan pentingnya membangun ketangguhan keluarga dan masyarakat dalam menghadapi dampak perubahan iklim.
“Perubahan iklim berpotensi meningkatkan frekuensi dan intensitas bencana hidrometeorologi sehingga masyarakat perlu memperkuat kapasitas adaptasi dan membangun budaya sadar bencana,” ujarnya.
Susur Sungai Gajah Wong Temukan Titik Rawan
Sebagai bagian dari pelatihan, peserta melakukan praktik lapangan dengan menyusuri Sungai Gajah Wong untuk mengamati langsung berbagai potensi penyebab banjir maupun kerawanan di sepanjang bantaran sungai.
Dari hasil pengamatan lapangan, peserta menemukan sejumlah titik yang memerlukan perhatian, di antaranya talud yang berpotensi longsor, tumpukan sampah di aliran sungai, pipa pembuangan limbah, bangunan liar dan kandang hewan di bantaran sungai, gorong-gorong yang rusak, serta pohon-pohon yang berpotensi tumbang.
Seluruh hasil identifikasi tersebut selanjutnya dianalisis sebagai bagian dari deteksi dini potensi banjir sekaligus menjadi bahan penyusunan rekomendasi mitigasi yang dapat diterapkan masyarakat bersama pemerintah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































