
Sungai Tinalah di Kalurahan Purwoharjo, Kapanewon Samigaluh, Kulonprogo/Istimewa-Desa Wisata Tinalah
Harianjogja.com, KULONPROGO—Debit air Sungai Tinalah di kawasan Perbukitan Menoreh, Kulonprogo, menyusut hingga hanya sekitar selutut orang dewasa saat musim kemarau. Kondisi tersebut justru membuat aktivitas wisata keceh atau bermain air dangkal semakin diminati masyarakat dalam beberapa bulan terakhir.
Minimnya curah hujan membuat aliran Sungai Tinalah mengalami penurunan debit secara drastis. Kondisi itu dimanfaatkan wisatawan untuk menikmati sensasi bermain air di sungai pegunungan yang memiliki karakteristik bebatuan besar dan kontur terjal.
Ketua Desa Wisata Tinalah, Panggih Widodo, mengatakan tren bermain air di Sungai Tinalah meningkat sejak memasuki puncak musim kemarau. Pengunjung tidak hanya berasal dari wilayah sekitar, tetapi juga dari luar daerah.
"Tren bermain air atau keceh ini sangat diminati. Pengunjung dari kawasan luar daerah seperti grup sekolah hingga komunitas atlet sepatu roda Jogja banyak yang datang khusus untuk menikmati sensasi bermain air di sungai pegunungan ini," ujar Panggih.
Ada Lokasi Keceh Gratis
Panggih menjelaskan terdapat sejumlah titik favorit yang menjadi lokasi pengunjung untuk bermain air. Salah satunya berada di sebelah Resto Lor Tinalah, sekitar 2,5 kilometer sebelum memasuki kawasan inti Desa Wisata Tinalah.
Di titik tersebut, masyarakat dapat mengakses aliran sungai secara gratis. Namun, lokasi itu merupakan fasilitas umum sehingga tidak berada di bawah pengelolaan maupun tanggung jawab pihak restoran atau pengelola Desa Wisata Tinalah.
"Di titik dekat resto itu sifatnya gratis dan umum, pengelola resto juga tidak bertanggung jawab atas aktivitas di sungai. Bahkan di lokasi sudah ada tulisan imbauan bagi para pengunjung," jelasnya.
Sementara itu, Desa Wisata Tinalah menyediakan paket wisata keceh berbayar. Paket tersebut dilengkapi standar operasional prosedur (SOP) serta pengamanan dengan pendampingan pemandu lapangan resmi.
"Kalau di lokasi Desa Wisata Tinalah, kegiatan keceh berbayar karena ada SOP dan pemandunya. Pemandu bertugas memberikan edukasi soal karakteristik sungai, mengawasi pergerakan wisatawan saat melewati bebatuan licin, hingga memantau kondisi air dari hulu," kata Panggih.
Wisatawan Diminta Waspadai Banjir
Menurut Panggih, karakter Sungai Tinalah sebagai sungai pegunungan menjadi daya tarik tersendiri. Jajaran batu besar dan kontur sungai yang terjal memberikan pengalaman berbeda bagi wisatawan yang ingin bermain air.
Saat kemarau, debit sungai menyusut hingga kedalaman dangkal sekitar selutut orang dewasa. Kondisi tersebut membuat aliran sungai dapat digunakan untuk sekadar bermain air atau relaksasi.
Meski demikian, pengelola mengingatkan wisatawan untuk tetap memperhatikan keselamatan. Kontur sungai yang dipenuhi bebatuan dapat menjadi licin sehingga berpotensi membahayakan pengunjung yang bermain air.
Kondisi Sungai Tinalah juga dapat berubah drastis ketika musim penghujan tiba. Debit air dapat melonjak hingga berlipat-lipat ganda dalam waktu singkat.
"Kalau musim hujan dan terjadi banjir, kami melarang keras wisatawan masuk ke sungai. Karakter air bah di sini sangat deras, batu-batu besar saja bisa hanyut. Karena itu, kesiapan pemandu dan SOP keselamatan di kawasan kami menjadi kunci utama perlindungan wisatawan," katanya.
Karena itu, aktivitas keceh di Sungai Tinalah tetap perlu memperhatikan kondisi cuaca dan karakter aliran sungai. Pengawasan pemandu serta penerapan SOP menjadi bagian penting, khususnya bagi wisatawan yang memilih paket keceh di kawasan Desa Wisata Tinalah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































