Trauma Persalinan Bisa Picu Gangguan Mental pada Ibu, Ini Tandanya

3 hours ago 4

Trauma Persalinan Bisa Picu Gangguan Mental pada Ibu, Ini Tandanya Ilustrasi melahirkan. - Huffington Post

Harianjogja.com, JAKARTA — Persalinan selama ini identik dengan momen bahagia bagi seorang perempuan. Namun di balik kelahiran buah hati, tidak sedikit ibu yang ternyata menyimpan luka emosional akibat pengalaman melahirkan yang berat dan menegangkan.

Kondisi seperti operasi caesar darurat, perdarahan pascamelahirkan, hingga bayi yang harus dirawat di ruang neonatal intensive care unit (NICU) dapat meninggalkan trauma psikologis mendalam bagi ibu. Pengalaman tersebut bahkan bisa memicu gangguan stres pascatrauma atau postpartum post-traumatic stress disorder (PTSD).

Dilansir dari Psychology Today, sejumlah penelitian menunjukkan persalinan traumatis cukup banyak dialami perempuan. Meski tidak semuanya didiagnosis PTSD, dampak emosional yang muncul tetap dapat memengaruhi kesehatan mental ibu setelah melahirkan.

Sebagian ibu mengaku terus terbayang momen persalinan, merasa cemas saat menjalani pemeriksaan medis, hingga mengalami mati rasa emosional setelah menjadi ibu.

Rasa Syukur dan Trauma Bisa Datang Bersamaan

Salah satu tekanan terbesar yang kerap dirasakan perempuan adalah anggapan bahwa mereka harus selalu bahagia setelah melahirkan, terlebih jika bayi lahir dalam kondisi sehat.

Padahal, menurut para ahli, rasa syukur dan trauma dapat muncul secara bersamaan. Banyak ibu merasa bingung karena di satu sisi mereka mencintai bayinya, tetapi di sisi lain masih dihantui pengalaman melahirkan yang menyakitkan.

Selain trauma, muncul pula rasa kehilangan terhadap proses persalinan yang sebelumnya dibayangkan berjalan indah dan lancar. Selama masa kehamilan, banyak calon ibu telah mempersiapkan momen melahirkan secara emosional, termasuk membayangkan detik pertama bertemu buah hati mereka.

Ketika kenyataan tidak sesuai harapan, rasa kecewa dan duka bisa muncul tanpa disadari.

Ikatan Ibu dan Bayi Bisa Terdampak

Trauma persalinan juga dapat memengaruhi hubungan emosional antara ibu dan bayi. Beberapa perempuan mengaku tetap menyayangi anak mereka, tetapi merasa sulit membangun kedekatan secara langsung setelah persalinan.

Kondisi ini sering membuat ibu merasa bersalah atau menganggap dirinya gagal menjalankan peran sebagai orang tua. Padahal, dari sudut pandang psikologi trauma, hal tersebut merupakan respons alami tubuh dan sistem saraf setelah mengalami tekanan emosional berat.

Para ahli menekankan bahwa ikatan ibu dan bayi tidak terbentuk hanya dalam satu momen setelah melahirkan. Hubungan emosional berkembang secara bertahap melalui perhatian, sentuhan, dan proses merawat bayi setiap hari.

Pentingnya Dukungan Psikologis bagi Ibu

Pemulihan trauma persalinan tidak selalu berarti melupakan pengalaman buruk yang terjadi. Proses penyembuhan justru dimulai ketika ibu mampu mengakui emosi yang dirasakan tanpa menyalahkan diri sendiri.

Beberapa langkah yang dinilai membantu antara lain berbicara dengan orang terpercaya, menulis pengalaman persalinan, mengikuti kelompok dukungan, hingga menjalani terapi dengan tenaga profesional yang memahami kesehatan mental perinatal.

Pendekatan acceptance and commitment therapy (ACT) juga disebut dapat membantu ibu menerima pengalaman emosional tanpa membiarkan trauma sepenuhnya mendefinisikan dirinya.

Di sisi lain, perempuan kerap dituntut segera kembali menjalankan peran sebagai pengasuh setelah melahirkan, meski kondisi fisik dan mental belum pulih sepenuhnya.

Karena itu, dukungan keluarga, pasangan, dan lingkungan sekitar menjadi sangat penting agar ibu memiliki ruang aman untuk memproses pengalaman traumatis tanpa merasa dihakimi.

Trauma persalinan bukan tanda seorang ibu tidak bersyukur atas kehadiran anaknya. Kondisi tersebut merupakan bagian dari pengalaman emosional yang nyata dan membutuhkan perhatian serius demi kesehatan ibu maupun tumbuh kembang bayi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |