Tingkat Pengangguran Sarjana DIY Capai 3,94%, Disnakertrans Ungkap Penyebabnya

2 hours ago 2

Harianjogja.com, JOGJA— Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) penduduk berpendidikan Diploma IV hingga S3 di DIY mencapai 3,94% pada Mei 2026. Disnakertrans DIY menilai angka tersebut perlu dibaca secara tepat karena tidak berarti 3,94% dari seluruh sarjana di DIY menganggur.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) DIY, Ariyanto Wibowo, mengatakan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Sakernas, kondisi ketenagakerjaan DIY secara umum relatif baik.

Pada Mei 2026, jumlah pengangguran di DIY tercatat sekitar 70.000 orang dengan TPT sebesar 3,11%. Berdasarkan tingkat pendidikan, TPT lulusan Diploma I, II dan III mencapai 2,59%, sedangkan TPT lulusan Diploma IV hingga S3 lebih tinggi, yakni 3,94%.

"Jadi, angka ini perlu dibaca secara tepat. Ini bukan berarti 3,94% dari seluruh sarjana di DIY menganggur, tetapi 3,94% dari angkatan kerja yang berpendidikan D4 sampai S3 berada dalam kategori pengangguran," ujarnya, Senin (14/9/2026).

Pengangguran Sarjana Tak Semata soal Kompetensi

Ariyanto mengatakan persoalan lulusan perguruan tinggi yang belum terserap dunia kerja memang perlu mendapat perhatian. Namun, kondisi tersebut tidak bisa hanya dilihat dari sisi kompetensi lulusan.

Menurutnya, ada sejumlah faktor lain yang memengaruhi, mulai dari kesesuaian keahlian dengan kebutuhan dunia kerja, pengalaman kerja, pilihan pekerjaan hingga ketersediaan lapangan kerja.

Karena itu, Disnakertrans DIY terus mendorong perbaikan transisi dari pendidikan menuju dunia kerja. Upaya tersebut dilakukan melalui penyediaan informasi pasar kerja, pelatihan, sertifikasi kompetensi, pemagangan serta penguatan hubungan antara perguruan tinggi dengan dunia usaha.

"Jadi kalau ditanya apakah ada sarjana yang menganggur di DIY, jawabannya tentu ada. Tetapi yang lebih penting bagi pemerintah adalah bagaimana angka tersebut dapat ditekan dan bagaimana lulusan perguruan tinggi dapat lebih cepat masuk ke pekerjaan yang produktif dan sesuai dengan kompetensinya," jelasnya.

Ariyanto menjelaskan pengangguran di kalangan sarjana dapat terjadi karena berbagai kondisi. Di antaranya ketidaksesuaian kompetensi dengan kebutuhan industri, keterbatasan pengalaman kerja bagi fresh graduate, pertumbuhan jumlah lulusan yang tidak selalu seimbang dengan kesempatan kerja, serta perbedaan ekspektasi pencari kerja dengan kondisi pasar kerja.

"Karena itu, jangan kita lihat sarjana menganggur semata-mata sebagai persoalan kompetensi. Ini persoalan ekosistem ketenagakerjaan yang harus diselesaikan bersama," ujarnya.

Perguruan Tinggi hingga Dunia Usaha Diminta Berperan

Menurut Ariyanto, penyelesaian persoalan tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Perguruan tinggi perlu menyesuaikan pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja, sedangkan dunia usaha dapat memberikan kesempatan magang dan pekerjaan bagi lulusan baru.

Di sisi lain, pencari kerja juga perlu terus meningkatkan kemampuan. Pemerintah berperan membantu mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja.

Lima Strategi Tekan Pengangguran Lulusan Perguruan Tinggi

Disnakertrans DIY menyiapkan sejumlah pendekatan untuk menekan pengangguran lulusan perguruan tinggi. Langkah pertama adalah memperkuat informasi pasar kerja dan layanan penempatan tenaga kerja.

Dengan informasi tersebut, pencari kerja diharapkan dapat lebih cepat mengetahui jenis pekerjaan, kualifikasi dan kompetensi yang sedang dibutuhkan perusahaan.

"Ini penting untuk mengurangi kesenjangan informasi antara pencari kerja dan pemberi kerja," paparnya.

Langkah kedua dilakukan melalui peningkatan kompetensi lewat pelatihan dan sertifikasi. Dengan demikian, lulusan perguruan tinggi tidak hanya mengandalkan ijazah, tetapi juga memiliki kompetensi tambahan yang sesuai kebutuhan dunia kerja, baik keterampilan teknis maupun keterampilan digital dan soft skills.

Ketiga, Disnakertrans DIY memperkuat program pemagangan. Program tersebut dinilai penting terutama bagi lulusan baru yang menghadapi tantangan berupa minimnya pengalaman kerja.

Melalui pemagangan, lulusan dapat memperoleh pengalaman praktis sekaligus mengenal budaya dan kebutuhan dunia kerja secara langsung.

Keempat, pemerintah memperkuat link and match antara dunia pendidikan dengan dunia usaha dan dunia industri.

"Kami ingin kebutuhan kompetensi dari perusahaan dapat menjadi masukan bagi lembaga pendidikan maupun penyelenggara pelatihan, sehingga lulusan yang dihasilkan semakin sesuai dengan kebutuhan pasar kerja," paparnya.

Langkah kelima adalah membuka ruang bagi lulusan perguruan tinggi yang memiliki potensi kewirausahaan untuk mengembangkan usaha mandiri. Menurut Ariyanto, ukuran keberhasilan tidak selalu harus menjadi pekerja di perusahaan, tetapi juga kemampuan menciptakan pekerjaan.

Disnakertrans DIY juga terus mendorong dunia usaha membuka kesempatan kerja yang lebih luas bagi tenaga kerja muda dan lulusan perguruan tinggi.

"Intinya, kami tidak ingin pencari kerja hanya menunggu lowongan. Kami ingin mereka lebih siap menghadapi pasar kerja, sementara pemerintah memastikan akses terhadap informasi, peningkatan kompetensi, pengalaman kerja, dan kesempatan penempatan semakin terbuka," lanjutnya.

TPT DIY Mei 2026 Naik Jadi 3,11%

BPS DIY mencatat TPT DIY pada Mei 2026 sebesar 3,11%, naik 0,06 persen poin dibandingkan Februari 2026 yang berada di angka 3,05%. Jumlah pengangguran pada periode tersebut mencapai 70.560 orang.

Berdasarkan jenis kelamin, TPT laki-laki tercatat 2,98%, sedangkan perempuan 3,25%. Berdasarkan wilayah tempat tinggal, TPT perkotaan mencapai 3,32%, sementara perdesaan sebesar 2,44%.

Plt. Kepala BPS DIY, Endang Tri Wahyuningsih, mengatakan jumlah penduduk bekerja di DIY pada Mei 2026 mencapai 2,20 juta orang. Dari total 3,07 juta penduduk usia kerja, sebanyak 2,27 juta orang termasuk angkatan kerja dan 796.780 orang merupakan bukan angkatan kerja.

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) tercatat sebesar 74,04%, terdiri atas TPAK laki-laki 82,67% dan TPAK perempuan 65,73%.

Menurut Endang, penyerapan tenaga kerja di DIY masih terkonsentrasi pada tiga lapangan usaha utama. Pada Mei 2026, sektor Pertanian menyerap 21,75% penduduk bekerja, disusul Perdagangan sebesar 15,97% dan Industri sebesar 15,73%.

"Secara keseluruhan, ketiga lapangan usaha tersebut menyerap sekitar 53,45% penduduk bekerja di DIY," ujarnya.

Pekerja Lulusan Perguruan Tinggi Capai 19,81%

Dari sisi pendidikan, proporsi penduduk bekerja lulusan SLTA ke atas meningkat dari 59,92% pada Februari 2026 menjadi 61,08% pada Mei 2026.

Penduduk bekerja lulusan SMK tercatat sebanyak 575.290 orang atau 26,13%, menjadi kelompok terbesar menurut tingkat pendidikan.

"Sementara itu, pekerja berpendidikan perguruan tinggi mencapai 19,81%, yang terdiri atas lulusan Diploma sebesar 4,80% dan universitas sebesar 15,01%. Proporsi pekerja berpendidikan SD ke bawah turun dari 23,13% menjadi 22,59%."

Data tersebut menunjukkan bahwa lulusan perguruan tinggi memiliki porsi cukup besar dalam struktur tenaga kerja DIY. Namun, tantangan yang dihadapi bukan hanya soal jumlah lulusan, melainkan bagaimana kompetensi, pengalaman dan kebutuhan dunia kerja dapat semakin terhubung.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |