
GM Bandara YIA, Muhammad Thamrin (kiri) memberikan bantuan gizi kepada balita di Pleret, Kulonprogo belum lama ini/Istimewa - Dokumen YIA
Harianjogja.com, KULONPROGO—Yogyakarta International Airport (YIA) mengucurkan bantuan Rp100 juta untuk mendukung penanganan stunting dan kekurangan gizi terhadap 115 anak balita di Kabupaten Kulonprogo. Program melalui InJourney Airports Pangan Berdaya tersebut tidak hanya menyasar pemenuhan gizi dalam jangka pendek, tetapi juga diarahkan agar keluarga mampu menjaga asupan gizi secara berkelanjutan.
Bantuan tersebut merupakan bagian dari program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) Bandara YIA untuk mendukung kesehatan masyarakat di sekitar kawasan bandara. Salah satu lokasi pelaksanaannya berada di Kalurahan Pleret, Panjatan, yang dipilih berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulonprogo karena memiliki angka stunting cukup tinggi.
General Manager Bandara YIA Muhammad Thamrin mengatakan sebanyak 115 anak balita dengan status gizi kurang mendapatkan makanan tambahan (PMT) siap santap selama 28 hari berturut-turut. Program tersebut berlangsung mulai 2 hingga 29 September 2026.
"Diberikan berturut-turut selama 28 hari termasuk dukungan pemenuhan gizi mikro untuk mendongkrak daya tahan tubuh anak melalui pemberian suplemen multivitamin," ujar Thamrin kepada wartawan, Senin (14/9/2026).
Tak Hanya PMT, Keluarga Diberi Ayam Petelur
Intervensi yang dilakukan Bandara YIA tidak berhenti pada pemberian makanan tambahan. Orang tua dan wali balita penerima bantuan juga mendapatkan edukasi mengenai gizi dan pola asuh dengan harapan terjadi perubahan kebiasaan dalam pemberian makanan kepada anak.
Selain itu, keluarga balita penerima mendapatkan ayam petelur sebagai sumber protein hewani yang dapat dikembangkan secara mandiri dan berkelanjutan di pekarangan rumah.
"Kesehatan anak merupakan salah satu fondasi paling penting bagi masa depan bangsa. Kami ingin memastikan kehadiran YIA dapat memberikan manfaat yang benar-benar dirasakan langsung dalam menjaga kesehatan anak-anak," lanjut Thamrin.
Selama pelaksanaan program, 115 balita menerima asupan PMT pemulihan siap santap setiap hari. Program tersebut dirancang secara terukur dan rinci selama 28 hari.
Thamrin mengatakan pemberian paket ayam petelur kepada para kader kesehatan setempat menjadi bagian dari upaya mendorong ketahanan pangan mandiri di tingkat rumah tangga.
“Kami memberikan bantuan ayam petelur agar dapat dikelola secara berkelanjutan oleh kader. Harapannya, upaya pemenuhan gizi ini tidak berhenti saat program selesai, tetapi terus bergulir di tengah masyarakat,” jelasnya.
Menurut Thamrin, upaya tersebut juga menjadi bentuk investasi jangka panjang bagi masyarakat di sekitar Bandara YIA.
“Anak-anak ini akan menjadi penerus dan penentu kualitas pembangunan di area sekitar bandara. Makanya dengan pemberian bantuan ini, investasi yang dilakukan akan turut memberikan kontribusi bagi bandara dan sekitarnya pada 10 hingga 15 tahun ke depan,” tambah Thamrin.
Angka Stunting Kulonprogo 10,64 Persen
Kepala Dinkes Kulonprogo Susilaningsih mengatakan angka stunting di tingkat kabupaten berada di kisaran 10,64%. Sementara itu, angka stunting di Kalurahan Pleret, Panjatan, mencapai 13%.
Dari total 222 anak balita di wilayah tersebut, sebanyak 115 anak balita masuk dalam kategori gizi kurang. Kondisi tersebut menjadi salah satu dasar pelaksanaan program bantuan gizi Bandara YIA di Pleret.
Susilaningsih menjelaskan persoalan stunting di wilayah tersebut bukan semata-mata disebabkan ketiadaan bahan pangan. Menurutnya, pola asuh memiliki kaitan yang sangat erat dengan persoalan gizi anak.
“Di Kulonprogo dan Pleret, faktor paling berpengaruh adalah pola asuh. Kadang balita diasuh oleh neneknya karena ibunya bekerja. Edukasi pola asuh ini yang masih menjadi PR kita, terutama bagaimana menyusun menu dan manajemen waktu setelah masa ASI eksklusif selesai atau saat masuk masa MPASI,” jelas Susilaningsih.
Karena itu, penanganan yang dilakukan melalui program Bandara YIA mencakup pemberian asupan gizi sekaligus edukasi kepada keluarga. Bantuan ayam petelur juga diarahkan agar pemenuhan protein hewani dapat terus berlangsung setelah program pemberian PMT selama 28 hari berakhir.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































