
Foto ilustrasi impor dan eksport. - Freepik
Harianjogja.com, SLEMAN—Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai dirasakan pelaku usaha ekspor di DIY. Kenaikan biaya produksi, logistik, hingga kebutuhan operasional yang berkaitan dengan transaksi internasional menjadi tantangan baru bagi eksportir furnitur di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Salah satu pelaku usaha yang merasakan dampak pelemahan rupiah adalah Karkasa, produsen sekaligus eksportir furnitur dan kerajinan berbahan akar jati asal Sleman. Perusahaan yang telah menembus berbagai pasar internasional itu kini harus menghadapi lonjakan biaya di sejumlah lini usaha akibat penguatan dolar AS.
Owner Karkasa, Dian Kurniati, mengatakan pelemahan rupiah memberikan tekanan langsung terhadap biaya produksi. Kenaikan harga bahan baku, biaya pengiriman, serta berbagai kebutuhan operasional yang terkait dengan aktivitas ekspor membuat perusahaan harus meningkatkan efisiensi agar keuntungan tidak terus tergerus.
"Ketika rupiah melemah, biaya produksi dan logistik ikut naik. Perusahaan harus bekerja lebih keras untuk menjaga efisiensi agar keuntungan tidak tergerus," kata Dian saat dihubungi, Jumat (12/6/2026).
Meski produk Karkasa telah dipasarkan ke sejumlah negara seperti Jepang, Jerman, Panama, Kanada, Belanda, Inggris, dan Prancis, tantangan akibat pelemahan rupiah tetap tidak bisa diabaikan. Perusahaan dituntut menjaga daya saing produk di pasar ekspor sekaligus mengendalikan kenaikan biaya agar operasional usaha tetap berjalan secara berkelanjutan.
Saat ditanya mengenai besaran peningkatan volume ekspor maupun kenaikan harga bahan baku yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir, Dian mengaku masih melakukan pengecekan data.
“Nanti saya cek dulu ya,” katanya.
Kenaikan Biaya Berpotensi Dorong Harga Produk
Dampak pelemahan rupiah tidak hanya dirasakan eksportir furnitur. Kondisi tersebut juga berpotensi memberikan tekanan yang lebih luas terhadap berbagai sektor usaha karena kenaikan harga bahan baku, logistik, serta komponen impor yang digunakan dalam proses produksi.
Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Sleman, Yudi Prihantana, menilai dunia usaha saat ini menghadapi tantangan berlapis. Selain harus berhadapan dengan melemahnya daya beli masyarakat, pelaku usaha juga menghadapi lambatnya perputaran uang, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), serta penguatan dolar AS yang membuat biaya impor semakin mahal.
Menurut Yudi, banyak pelaku usaha di sektor elektronik, otomotif, hingga furnitur masih menggunakan asumsi kurs sekitar Rp15.500 per dolar AS dalam menyusun struktur harga. Jika nilai tukar dolar terus bertahan pada level tinggi, maka penyesuaian harga produk sulit dihindari.
Ia memperkirakan produk yang masih bergantung pada komponen impor dapat mengalami kenaikan harga sekitar 20%-25%. Sementara itu, produk yang diproduksi di dalam negeri juga berpotensi mengalami kenaikan sekitar 10% akibat meningkatnya biaya bahan baku dan operasional.
KADIN Sleman Minta Stimulus Ekonomi
Yudi menilai tekanan ekonomi yang terjadi saat ini semakin membebani pelaku usaha. Tidak hanya menghadapi penurunan omzet, sejumlah perusahaan juga mulai merasakan beratnya beban operasional harian.
Bahkan, menurutnya, terdapat pelaku usaha yang mulai mengalami kesulitan dalam memenuhi kewajiban rutin perusahaan, mulai dari pembayaran bunga perbankan hingga pembayaran gaji karyawan yang pada beberapa kasus harus dilakukan secara bertahap.
Melihat kondisi tersebut, KADIN Sleman mendorong pemerintah segera menghadirkan stimulus ekonomi untuk membantu menjaga keberlangsungan usaha. Beberapa langkah yang dinilai dapat meringankan beban pelaku usaha antara lain penyesuaian tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) serta kebijakan yang mampu menjaga likuiditas perusahaan.
Menurut Yudi, dukungan kebijakan fiskal yang lebih longgar akan memberikan ruang bagi dunia usaha untuk memenuhi kebutuhan modal kerja, membiayai operasional perusahaan, sekaligus menjaga keberlangsungan aktivitas bisnis di tengah tekanan pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang masih membayangi sektor usaha dan industri nasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online








































