Kisah Inspiratif Agung Sulistyo: 2008 Satpam, 2026 Bergelar Doktor

2 hours ago 4

Harianjogja.com, JOGJA—Perjalanan hidup Agung Sulistyo membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk meraih pendidikan tertinggi. Pria yang pernah bekerja sebagai satpam di Harian Kedaulatan Rakyat (KR) itu kini berhasil menyandang gelar doktor dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), setelah menempuh perjalanan panjang yang penuh perjuangan, pengorbanan, dan ketekunan.

Gelar doktor tersebut resmi diraih Agung Sulistyo dalam prosesi wisuda yang digelar di Sportorium UMY pada Kamis (11/6/2026). Ia menyelesaikan studi di Program Doktor Manajemen UMY dan menjadi salah satu sosok inspiratif yang mencuri perhatian dalam momen kelulusan tersebut.

Jauh sebelum mengenakan toga doktor, Agung tumbuh di lingkungan keluarga sederhana di Tangerang. Putra seorang buruh itu sempat berusaha mewujudkan harapan ayahnya dengan mengikuti seleksi TNI dan Polri setelah lulus dari Sekolah Menengah Teknik (STM) jurusan Teknik Gambar Bangunan pada 2002. Namun, jalan hidup membawanya ke arah yang berbeda.

Kedekatannya dengan Yogyakarta bermula pada 2005 ketika ia datang sebagai relawan kemanusiaan. Pengalaman tersebut menjadi titik awal yang menumbuhkan minatnya terhadap dunia pendidikan dan pengembangan diri.

Tiga tahun kemudian, tepatnya pada 2008, Agung memperoleh pekerjaan tetap pertamanya di Kota Jogja sebagai petugas satuan pengamanan (satpam) di Harian Kedaulatan Rakyat. Saat itu, ia mengaku tidak pernah membayangkan dapat mengenyam pendidikan hingga jenjang doktoral.

"Ketika masih berseragam satpam, jangankan bermimpi meraih gelar doktor, membayangkan bisa berada di posisi sekadar kuliah saja saya tidak berani," kata Agung sebagaimana dirilis Humas UMY, Jumat (12/6/2026).

Kuliah Sambil Jaga Malam

Meski bekerja sebagai penjaga keamanan, keinginan Agung untuk meningkatkan taraf hidup melalui pendidikan tidak pernah padam. Pada 2009, ia memberanikan diri mendaftar kuliah kelas karyawan di salah satu sekolah tinggi ilmu ekonomi di Yogyakarta. Keputusan itu diambil di tengah keterbatasan ekonomi dan jadwal kerja bergilir yang cukup berat.

Untuk membiayai kuliah, Agung menyisihkan sebagian penghasilannya setiap bulan. Ia mencicil biaya pendidikan sedikit demi sedikit agar tetap bisa melanjutkan studi tanpa harus menunggak.

Perjuangan itu tidak berhenti di ruang kuliah. Saat menjalani tugas malam sebagai satpam, Agung memanfaatkan waktu luang untuk membaca buku, menyelesaikan tugas, dan memperdalam materi perkuliahan. Seusai mengikuti kelas, ia langsung berangkat bekerja dan belajar di sela-sela menjaga keamanan hingga dini hari.

Ketekunan tersebut membuahkan hasil ketika ia berhasil meraih gelar Sarjana (S1) pada 2013. Tidak berhenti sampai di sana, Agung melanjutkan pendidikan ke jenjang Magister (S2) dan berhasil menyelesaikannya pada 2015.

Peran Istri 

Perubahan besar dalam hidup Agung terjadi setelah ia menikah pada 2014. Sang istri menjadi sosok yang mendorongnya untuk berani keluar dari zona nyaman dan memandang masa depan dengan perspektif yang lebih luas.

Atas dukungan istrinya, Agung mulai mempertimbangkan profesi dosen, sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Keraguan sempat muncul karena ia tidak berasal dari keluarga akademisi maupun pengajar. Namun, keyakinan dan motivasi dari sang istri membuatnya berani mengambil langkah baru.

Kesempatan itu datang pada 2015 ketika Agung diterima sebagai dosen di salah satu Sekolah Tinggi Pariwisata di Yogyakarta. Sejak saat itu, hidupnya berubah drastis. Jika sebelumnya bertugas menjaga keamanan lingkungan kerja, kini ia berada di ruang kelas untuk berbagi ilmu kepada mahasiswa.

Menembus Doktoral

Seiring berkembangnya karier akademik, Agung menyadari pentingnya meningkatkan kompetensi keilmuan. Berdasarkan masukan dari promotor dan dosen senior, ia kemudian melanjutkan studi di Program Doktor Manajemen UMY.

Menurutnya, pendidikan doktoral menghadirkan tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding jenjang sebelumnya. Selain harus memenuhi berbagai tuntutan akademik, ia juga dituntut menyeimbangkan peran sebagai dosen, suami, dan kepala keluarga.

Namun, pengalaman hidup yang keras sejak muda membuatnya terbiasa menghadapi tekanan. Disiplin yang ditanamkan orang tua sejak kecil menjadi bekal penting yang membentuk mental tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan.

Bagi Agung, gelar doktor bukan sekadar simbol akademik atau status sosial. Ia mengungkapkan bahwa sejak masih berjaga di pos satpam, ia selalu memanjatkan doa agar kehidupannya dan keluarganya dapat ditingkatkan melalui pendidikan.

Doa yang dahulu dipanjatkan dalam kesunyian malam itu akhirnya terwujud pada 2026. Kendati demikian, Agung menegaskan keberhasilan tersebut tidak lepas dari dukungan banyak pihak, mulai dari orang tua, istri, promotor, hingga rekan kerja yang memberinya kesempatan untuk terus belajar dan berkembang.

Pesan untuk Generasi Muda

Kepada mahasiswa dan generasi muda, Agung berpesan agar tidak membatasi impian hanya karena kondisi ekonomi keluarga. Menurutnya, cita-cita harus diletakkan setinggi mungkin karena setiap usaha yang dilakukan dengan konsisten akan membuka jalan menuju tujuan tersebut.

Ia juga menilai akses pendidikan saat ini semakin terbuka berkat banyaknya program beasiswa yang tersedia. Karena itu, kesempatan untuk menempuh pendidikan tinggi kini dapat diraih oleh siapa saja yang memiliki kemauan kuat dan kesungguhan dalam belajar.

Mengenang perjalanan panjang dari pos satpam hingga meraih gelar doktor, Agung mengaku selalu berpegang pada prinsip kesabaran dan ketangguhan mental dalam menghadapi setiap ujian kehidupan.

"Kuncinya hanya sabar dan menempa mental agar tidak gampang menyerah, sebab segala sesuatu pasti ada momentumnya sendiri. Dulu saya hanya seorang satpam yang buta akan masa depan. Namun saya percaya, ikhtiar baik yang dirawat secara konsisten lambat laun akan membukakan jalannya sendiri," pungkasnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan doktoral, Agung berkomitmen memperluas kontribusinya melalui pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi, meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Langkah tersebut menjadi babak baru dalam perjalanan mantan satpam KR yang kini berhasil membuktikan bahwa pendidikan dapat menjadi jalan perubahan hidup sekaligus sarana menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |