Harianjogja.com, SLEMAN—Pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS mendorong Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Sleman meminta pemerintah segera mengeluarkan stimulus ekonomi. Dunia usaha dinilai semakin tertekan akibat kenaikan biaya produksi, logistik, dan bahan baku impor.
Tekanan tersebut dirasakan hampir seluruh sektor usaha, mulai dari furnitur, kerajinan, elektronik, hingga otomotif. Kenaikan harga bahan baku, logistik, bahan pendukung produksi, dan bahan impor membuat margin keuntungan pelaku usaha semakin menipis.
Ketua KADIN Sleman Yudi Prihantana mengatakan kondisi saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh pelemahan rupiah. Pelaku usaha juga menghadapi rendahnya daya beli masyarakat, lambatnya peredaran uang di pasar, dan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
Menurut Yudi, banyak pelaku usaha masih menggunakan asumsi kurs sekitar Rp15.500 per dolar AS dalam perencanaan usaha. Ketika kurs bergerak jauh di atas asumsi tersebut, struktur biaya langsung berubah.
Produk yang bergantung pada komponen impor diperkirakan mengalami kenaikan harga hingga 20%-25%. Sementara produk berbasis bahan lokal juga berpotensi naik sekitar 10% karena terdampak kenaikan biaya operasional dan bahan pendukung produksi.
Ia menilai kondisi tersebut semakin berat karena banyak perusahaan saat ini juga mengalami perlambatan omzet. Bahkan sebagian pelaku usaha mulai kesulitan memenuhi kewajiban rutin perusahaan, mulai dari pembayaran bunga bank hingga gaji karyawan yang dalam beberapa kasus harus dibayarkan secara bertahap.
Karena itu, KADIN Sleman meminta pemerintah segera menghadirkan stimulus yang mampu menjaga likuiditas dunia usaha.
Menurut Yudi, salah satu opsi yang bisa dipertimbangkan ialah penyesuaian tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan kebijakan lain yang dapat meringankan beban operasional perusahaan.
“Ruang fiskal yang lebih longgar akan membantu dunia usaha memenuhi kebutuhan modal kerja, biaya operasional, serta kewajiban perusahaan di tengah tekanan pelemahan rupiah,” ujarnya.
Keuntungan Tergerus
Pemilik Karkasa di Sleman, Dian Kurniati, mengatakan pelemahan rupiah belum berdampak pada harga bahan baku utama berupa akar jati. Namun, kenaikan signifikan terjadi pada bahan pendukung produksi, terutama bahan finishing impor.
"Untuk sementara bahan baku kami yang mayoritas menggunakan akar jati belum naik. Tapi untuk bahan finishing impor naik 50 persen-60 persen. Untuk bahan finishing lokal naik 10 persen-15 persen. Kalau untuk bahan pembantu lainnya naik sekitar 10 persen-15 persen," kata Dian.
Menurut dia, kenaikan biaya bahan pendukung tersebut ikut menambah beban produksi di tengah meningkatnya biaya logistik dan pelemahan daya beli pasar.
Padahal perusahaan yang memproduksi furnitur dan kerajinan berbahan akar jati tersebut telah menembus pasar Jepang, Jerman, Panama, Kanada, Belanda, Inggris, dan Prancis.
Keluhan serupa datang dari Pemilik CV Woodeco Indonesia Agung Setiawan. Pelaku usaha kerajinan dan home decor itu mengaku kenaikan harga bahan finishing impor sudah terasa dalam dua bulan terakhir.
“Bahan finishing sudah naik cukup banyak. Selain itu bahan pengemasan seperti styrofoam, bubble wrap, dan foam juga ikut naik,” katanya.
Menurut Agung, kenaikan harga bahan finishing bahkan telah melampaui 30%. Sementara eksportir tidak bisa serta-merta menaikkan harga jual karena sebagian besar transaksi telah disepakati jauh sebelum rupiah melemah.
“Kalau ekspor tidak bisa langsung menaikkan harga. Akibatnya margin keuntungan berkurang cukup besar. Dulu margin bisa 10%-20%, sekarang margin 10 persen saja sudah bagus,” katanya.
Di Bantul, dampak serupa dirasakan pelaku usaha kerajinan di Desa Wisata Krebet, di Sendangsari, Pajangan. Wakil Ketua Pengelola Desa Wisata Krebet Riyadi Zibril mengatakan harga bahan finishing terus mengalami kenaikan.
“Satu galon isinya lima liter. Harga masih naik turun dan tidak pasti. Thinner ND saja naik dari Rp95.000 menjadi Rp150.000 per galon,” ujarnya.
Wakil Ketua I DPRD Bantul sekaligus pengusaha mebel Suradal menilai persoalan yang dihadapi pelaku usaha saat ini tidak hanya soal kenaikan biaya produksi, tetapi juga melemahnya permintaan pasar.
“Yang paling terasa sekarang justru permintaannya turun. Daya beli masyarakat sedang rendah sehingga usaha mebel ikut terpukul,” ujarnya.
Menurut dia, banyak pelaku usaha memilih bertahan dengan melakukan efisiensi tanpa melakukan pemutusan hubungan kerja. Salah satu langkah yang ditempuh ialah mengatur ulang jam kerja karyawan agar operasional tetap berjalan.
EKSPOR DIY MELAJU DI AWAL 2026
Kinerja ekspor Daerah Istimewa Yogyakarta menunjukkan tren positif pada awal 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat nilai ekspor Januari–April 2026 mencapai 206,8 juta dolar AS atau tumbuh 17,54% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan ini hampir seluruhnya ditopang sektor industri pengolahan.
Kinerja Ekspor DIY
Januari–April 2026: 206,8 juta dolar AS
Januari–April 2025: 175,9 juta dolar AS
Pertumbuhan: 17,54%
Ekspor April Melonjak
Nilai ekspor April 2026: 68,86 juta dolar AS
Tumbuh 77,33% dibanding April 2025
Kenaikan didorong sektor industri pengolahan
Mesin Utama Ekspor DIY
Kontribusi industri pengolahan April 2026: 99,08%
Pertumbuhan industri pengolahan hingga April 2026: 76,35%
Komoditas Ekspor Terbesar
Pakaian dan aksesorinya bukan rajutan
Pakaian dan aksesorinya rajutan
Plastik dan barang dari plastik
Barang dari kulit samak
Perabotan, lampu, dan alat penerangan
Pasar Tujuan Utama
Amerika Serikat
Nilai ekspor: 91,05 juta dolar AS
Kontribusi: 44,02% dari total ekspor DIY
Sorotan Data
206,8 juta dolar AS nilai ekspor DIY Januari–April 2026
17,54% pertumbuhan ekspor tahunan
77,33% lonjakan ekspor April 2026
99,06% kontribusi industri pengolahan
44,02% porsi ekspor ke Amerika Serikat
Sumber: BPS DIY (May)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.









































