Rupiah Melemah dan Konflik Timur Tengah Tekan Industri Manufaktur

4 hours ago 3

Harianjogja.com, JAKARTA—Industri manufaktur Indonesia menghadapi tekanan yang semakin berat di tengah pelemahan nilai tukar rupiah dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kondisi tersebut dinilai berpotensi mengerek biaya produksi, mempersempit margin usaha, hingga menghambat ekspansi industri yang masih bergantung pada bahan baku impor.

Tekanan yang muncul tidak hanya berasal dari fluktuasi kurs, tetapi juga dari kenaikan harga energi, biaya logistik, serta premi risiko yang dipicu oleh konflik geopolitik global. Situasi tersebut membuat pelaku industri harus menghadapi tantangan berlapis dalam menjaga keberlangsungan usaha.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, mengatakan risiko yang dihadapi industri manufaktur saat ini cukup besar karena tekanan datang dari berbagai arah secara bersamaan.

Menurut dia, dampak jangka pendek mulai terlihat melalui kenaikan biaya produksi dan kecenderungan pelaku usaha menunda pembelian bahan baku.

“Dalam jangka menengah, risikonya lebih serius karena PMI manufaktur Indonesia sudah masuk zona kontraksi,” ujar Rizal kepada Bisnis, Jumat (29/5/2026).

PMI Manufaktur Masuk Zona Kontraksi

Tekanan terhadap sektor manufaktur tercermin dari kinerja Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia yang mengalami penurunan.

Rizal menjelaskan PMI manufaktur Indonesia turun ke level 49,1 pada April 2026. Angka tersebut menjadi posisi terendah sejak Juni 2025.

Nilai PMI di bawah 50 menunjukkan aktivitas manufaktur berada dalam fase kontraksi, seiring melemahnya permintaan dan meningkatnya biaya produksi.

Industri Berbasis Impor Paling Rentan

Sejumlah sektor industri dinilai paling berisiko terdampak oleh pelemahan rupiah karena masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor.

Sektor tersebut meliputi industri tekstil dan produk tekstil (TPT), alas kaki, elektronik, otomotif dan komponennya, kimia, farmasi, plastik, serta industri makanan dan minuman yang masih menggunakan bahan baku impor dalam jumlah besar.

Rizal menjelaskan pelemahan rupiah hingga kisaran Rp17.800 per dolar AS menyebabkan biaya pembelian bahan baku, mesin produksi, suku cadang, hingga pembiayaan berbasis valuta asing meningkat signifikan.

Meski demikian, ia menilai daya tahan industri manufaktur saat ini masih lebih baik dibandingkan saat krisis ekonomi 1998 maupun krisis keuangan global 2008.

Menurut dia, sistem keuangan nasional yang lebih kuat dan ruang kebijakan pemerintah yang lebih luas menjadi faktor yang membantu industri bertahan menghadapi tekanan.

Ruang Napas Industri Kian Menyempit

Meskipun masih mampu bertahan, pelaku industri mulai menghadapi ruang gerak yang semakin terbatas akibat berbagai tekanan yang datang secara bersamaan.

Selain pelemahan nilai tukar rupiah, sektor manufaktur juga harus menghadapi tingginya suku bunga, lemahnya permintaan global, serta kenaikan biaya energi.

“Artinya, industri masih bertahan, tetapi ruang napasnya makin sempit, terutama bagi pelaku padat karya dan UMKM pemasok rantai industri,” sebutnya.

Rizal menambahkan depresiasi rupiah memang secara teori dapat memberikan keuntungan bagi eksportir karena meningkatkan nilai pendapatan berbasis dolar AS.

Namun, manfaat tersebut tidak sepenuhnya dirasakan karena sebagian besar eksportir manufaktur juga masih bergantung pada bahan baku impor. Selain itu, permintaan global yang belum pulih sepenuhnya membuat dampak positif pelemahan rupiah terhadap ekspor menjadi terbatas.

Agroindustri hingga Furnitur Dinilai Lebih Tangguh

Di tengah tekanan yang dihadapi industri manufaktur, beberapa sektor dinilai memiliki tingkat ketahanan yang lebih baik karena kandungan bahan baku lokalnya relatif tinggi.

Sektor tersebut antara lain agroindustri, industri furnitur, produk kayu, serta sebagian industri makanan olahan.

Meski demikian, Rizal mengingatkan risiko yang lebih besar dapat muncul apabila tekanan eksternal berlanjut hingga akhir tahun.

Menurut dia, potensi pengurangan shift produksi, penundaan ekspansi usaha, efisiensi tenaga kerja, hingga pemutusan hubungan kerja (PHK) secara selektif dapat meningkat.

Industri tekstil dan garmen, alas kaki, elektronik, otomotif dan komponen, kimia, plastik, serta farmasi menjadi sektor yang perlu diwaspadai karena memiliki sensitivitas tinggi terhadap pergerakan kurs, ketergantungan impor bahan baku, dan pelemahan permintaan pasar.

Pemerintah Didorong Segera Ambil Langkah Mitigasi

Untuk menjaga daya tahan industri manufaktur nasional, pemerintah dinilai perlu segera melakukan langkah-langkah mitigasi yang terukur.

Rizal menilai kebijakan yang dibutuhkan saat ini meliputi stabilisasi nilai tukar rupiah, pemberian insentif bagi bahan baku strategis, percepatan program substitusi impor, serta perlindungan terhadap industri padat karya.

“Respons pemerintah perlu fokus stabilisasi kurs, insentif bahan baku strategis, percepatan substitusi impor, dan perlindungan industri padat karya,” saran Rizal.

Tekanan terhadap industri manufaktur diperkirakan masih menjadi perhatian hingga beberapa bulan ke depan seiring ketidakpastian kondisi global. Perkembangan nilai tukar rupiah, harga energi, dan situasi geopolitik internasional akan menjadi faktor penting yang memengaruhi kinerja sektor manufaktur nasional sepanjang 2026.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |