Penyebab Jalan Timoho Jogja Lebih Populer daripada Ipda Tut Harsono

8 hours ago 4

Penyebab Jalan Timoho Jogja Lebih Populer daripada Ipda Tut Harsono

Suasana di kawasan Jalan Timoho atau Jalan Ipda Tut Harsono. /Instagram.

Harianjogja.com, JOGJA— Nama resmi ruas jalan tersebut telah lama berubah menjadi Jalan Ipda Tut Harsono, tetapi bagi sebagian besar masyarakat Jogja, sebutan Jalan Timoho masih menjadi pilihan utama. Nama lama itu terus digunakan dalam percakapan sehari-hari oleh warga, pengemudi ojek daring, hingga mahasiswa, sehingga tetap menjadi identitas yang paling mudah dikenali.

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa perubahan nama secara administratif tidak serta-merta mengubah kebiasaan masyarakat. Hingga kini, ketika seseorang menyebut Jalan Ipda Tut Harsono, tidak sedikit warga yang baru memahami lokasi yang dimaksud setelah mendengar nama "Timoho".

Nama Timoho Telanjur Melekat dalam Memori Kolektif

Bertahannya penyebutan Jalan Timoho berakar pada sejarah panjang kawasan tersebut. Jauh sebelum nama resmi Jalan Ipda Tut Harsono ditetapkan, masyarakat telah mengenalnya sebagai Timoho, yang berasal dari pohon timoho (Kleinhovia hospita) yang dahulu banyak tumbuh di wilayah itu.

Selama puluhan tahun, nama tersebut diwariskan dari generasi ke generasi hingga menjadi bagian dari sejarah lokal Jogja. Ikatan historis inilah yang membuat sebutan Timoho tetap hidup meski nama resmi jalan telah berganti.

Di mata masyarakat, Timoho tidak hanya merujuk pada satu ruas jalan. Nama tersebut telah berkembang menjadi penanda kawasan yang mencakup lingkungan permukiman, pusat aktivitas, hingga berbagai fasilitas yang berada di sekitarnya.

Karena telah lama digunakan sebagai orientasi geografis, masyarakat lebih mudah mengenali kawasan tersebut melalui nama Timoho dibandingkan penyebutan administratif Jalan Ipda Tut Harsono.

Ringkas dan Akrab

Selain faktor sejarah, kemudahan dalam pengucapan juga menjadi alasan nama Timoho tetap bertahan. Dibandingkan nama Jalan Ipda Tut Harsono yang lebih panjang dan formal, sebutan Timoho terasa lebih singkat, sederhana, dan telah akrab dalam komunikasi sehari-hari.

Kebiasaan itu terus berlangsung seiring tingginya mobilitas masyarakat di kawasan tersebut. Akibatnya, nama Timoho semakin mengakar dan tetap menjadi istilah yang paling sering digunakan warga Jogja.

Hingga kini, nama resmi Jalan Ipda Tut Harsono dan sebutan Jalan Timoho tetap digunakan secara berdampingan. Jalan Ipda Tut Harsono menjadi bentuk penghormatan kepada Inspektur Dua (Anumerta) Tut Harsono, sedangkan Jalan Timoho tetap bertahan sebagai warisan sejarah, memori kolektif, sekaligus identitas kawasan yang telah lama dikenal masyarakat Jogja.

Sebagai salah satu jalur vital di Kota Jogja, ruas jalan ini membentang dari wilayah Kemantren Umbulharjo, khususnya Muja Muju, hingga Kemantren Gondokusuman. Keberadaannya mendukung aktivitas pemerintahan, pendidikan, perekonomian, serta mobilitas masyarakat setiap hari.

Nama Timoho berasal dari pohon timoho (Kleinhovia hospita) yang dahulu tumbuh cukup banyak di kawasan tersebut. Saat wilayah itu belum berkembang menjadi kawasan perkotaan, keberadaan pohon tersebut dijadikan masyarakat sebagai penanda lokasi.

Pohon timoho juga memiliki nilai budaya dalam tradisi Jawa. Serat kayunya yang bercorak khas kerap dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan warangka atau sarung keris, serta tangkai tombak.

Nilai tersebut membuat pohon timoho tidak hanya memiliki fungsi sebagai vegetasi, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi seni kriya masyarakat Jawa. Walaupun kini pohon timoho sudah jarang dijumpai, nama Timoho tetap bertahan sebagai identitas kawasan yang dikenal luas oleh warga Jogja.

Berkembang Menjadi Kawasan Pemerintahan

Perubahan besar mulai terjadi ketika memasuki pertengahan abad ke-20. Penataan ruang Kota Jogja mendorong kawasan Timoho berkembang dari wilayah permukiman menjadi salah satu pusat pemerintahan dan pelayanan publik di bagian timur kota.

Transformasi tersebut ditandai dengan hadirnya berbagai fasilitas pemerintahan dan layanan masyarakat, antara lain:

1. Balai Kota Jogja sebagai pusat administrasi pemerintahan.
2. Gedung DPRD Kota Jogja.
3. Kantor PT Taspen.
4. Pengadilan Agama.
5. RS Happy Land.
6. Kampus APMD
7. Kampus UIN Sunan Kalijaga
8. Berbagai fasilitas pelayanan publik dan perhotelan.

Keberadaan berbagai instansi tersebut menjadikan kawasan Timoho sebagai salah satu pusat aktivitas pemerintahan. Perkembangan itu sekaligus mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi di wilayah sekitarnya.

Alasan Jalan Timoho Berganti Nama

Pemerintah Daerah Istimewa Jogja kemudian menetapkan nama resmi Jalan Ipda Tut Harsono sebagai bentuk penghormatan kepada Inspektur Dua (Anumerta) Tut Harsono, seorang anggota kepolisian yang dinilai memiliki jasa bagi bangsa.

Penamaan tersebut merupakan bagian dari kebijakan pengabadian nama tokoh dan pahlawan pada sejumlah ruas jalan utama di Kota Jogja.

Meski telah memiliki nama resmi Jalan Ipda Tut Harsono, masyarakat hingga kini masih lebih sering menyebut ruas jalan tersebut sebagai Jalan Timoho. Sebutan lama itu tetap bertahan karena telah digunakan selama puluhan tahun dan menjadi bagian dari identitas kawasan.

Bagi warga Jogja, Jalan Timoho dan Jalan Ipda Tut Harsono merujuk pada ruas jalan yang sama. Kedua nama tersebut hidup berdampingan sebagai simbol perjalanan kawasan yang berawal dari bentang alam, berkembang menjadi pusat pemerintahan, sekaligus menjadi bentuk penghormatan terhadap tokoh yang berjasa.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |