Kota Jogja Tambah 10 Sekolah Siaga Kependudukan pada 2026

8 hours ago 3

Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah Kota Jogja terus memperluas pelaksanaan program Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) sebagai upaya meningkatkan literasi kependudukan di kalangan pelajar. Pada 2026, sebanyak 10 sekolah tingkat SMP dan MTs akan ditetapkan sebagai SSK baru sehingga seluruh SMP/MTs di Kota Jogja ditargetkan telah mengikuti program tersebut pada tahun ini.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Jogja, Retnaningtyas, mengatakan pembentukan SSK di Kota Jogja telah berlangsung sejak 2021.

Hingga akhir 2025, tercatat sudah ada 53 SMP dan tiga MTs yang berstatus Sekolah Siaga Kependudukan.

"Tahun ini tambah sepuluh SSK SMP/MTs. Jadi tahun ini pembentukan SSK SMP/MTs di Yogya selesai," kata Retnaningtyas dikutip dari laman Pemkot Jogja, Senin (21/7/2026).

Menurut dia, program tersebut merupakan bagian dari program nasional yang mengintegrasikan pendidikan kependudukan dan pembangunan keluarga ke dalam proses pembelajaran di sekolah.

Melalui program ini, peserta didik diharapkan lebih memahami berbagai isu kependudukan yang akan mereka hadapi pada masa mendatang, sekaligus mampu merencanakan kehidupan secara lebih matang.

Sepuluh Sekolah Baru Masuk Program SSK

Pada 2026, terdapat 10 sekolah yang akan bergabung dalam program SSK.

Sekolah tersebut meliputi SMP Berbudi, SMP Perak, SMP Labschool UNY, SMP Bhinneka Tunggal Ika, SMP Islam, SMP Institut Indonesia, SMP 17 "2", MTs Gedongtengen, MTs Nurul Ummah, dan MTs Muallimin.

Penetapan sekolah dilakukan berdasarkan rekomendasi dan surat keputusan dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Jogja untuk jenjang SMP serta Kementerian Agama Kota Jogja untuk jenjang MTs.

Pemilihan sekolah juga mempertimbangkan kesiapan sumber daya manusia, guru, serta sarana dan prasarana pendukung pelaksanaan program.

Fokus pada Pencegahan Nikah Dini dan Stunting

Retnaningtyas menjelaskan materi yang diajarkan dalam SSK tidak hanya membahas data kependudukan semata.

Materi tersebut mencakup isu bonus demografi, kesehatan reproduksi remaja, pendewasaan usia perkawinan, perencanaan masa depan, hingga pembangunan keluarga berkualitas.

Menurutnya, fokus utama program adalah membangun pemahaman generasi muda mengenai risiko pernikahan usia dini, pentingnya kesehatan reproduksi, serta upaya pencegahan stunting.

Selain mengintegrasikan materi ke dalam pembelajaran, sekolah peserta SSK juga diwajibkan menyediakan area khusus yang memuat berbagai bahan edukasi terkait kependudukan.

Fasilitas tersebut dapat berupa buku, data statistik, poster, maupun media visual lainnya yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar siswa.

"Program SSK harapannya dapat meningkatkan literasi kependudukan, membentuk perilaku adaptif, dan menyiapkan generasi muda menghadapi bonus demografi," ujar Retnaningtyas.

Raih Penghargaan Nasional

Komitmen Kota Jogja dalam mengembangkan program SSK juga mendapat pengakuan di tingkat nasional.

Berdasarkan evaluasi DP3AP2KB Kota Jogja, saat ini terdapat tiga kategori SSK yang terdiri atas 20 SSK terdaftar, enam SSK dasar, dan 30 SSK paripurna.

Pada 2025, Kota Jogja berhasil meraih peringkat ketiga nasional sebagai pengelola Sekolah Siaga Kependudukan terbaik.

Prestasi tersebut menunjukkan pelaksanaan program berjalan konsisten dan mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk sekolah dan pemerintah daerah.

Terintegrasi dalam Kurikulum dan Ekstrakurikuler

Kepala Bidang Pembinaan SMP Disdikpora Kota Jogja, Hasyim, mengatakan implementasi SSK dilakukan melalui berbagai mata pelajaran seperti IPS, IPA, PPKn, dan pendidikan agama.

Guru mengintegrasikan materi kependudukan ke dalam proses belajar mengajar sesuai bidang masing-masing.

Selain itu, pelaksanaan program juga diperkuat melalui kegiatan ekstrakurikuler.

Salah satu contoh penerapan SSK dapat dilihat di SMPN 14 Yogyakarta.

Kepala SMPN 14 Yogyakarta, Trihidayati Setyaningsih, menjelaskan materi kependudukan telah dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah maupun kegiatan ekstrakurikuler seperti PMR, Pramuka, PIK-R, KIR, dan futsal.

Dalam kegiatan PMR, misalnya, sekolah menjalankan program pemberian tablet tambah darah bagi siswi sebagai bagian dari edukasi kesehatan remaja dan pencegahan anemia.

Sementara melalui Pramuka, siswa diajak memahami pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia sejak usia muda.

Di bidang KIR, siswa diberi kesempatan melakukan penelitian yang berkaitan dengan isu kependudukan di Kota Jogja.

Adapun kegiatan olahraga seperti futsal dan sepak bola diarahkan untuk meningkatkan kesehatan fisik remaja sebagai bagian dari pembangunan generasi yang berkualitas.

Pembinaan Berkelanjutan

Ke depan, DP3AP2KB Kota Jogja memastikan pembinaan terhadap sekolah peserta akan terus dilakukan melalui monitoring dan evaluasi secara berkala.

Pemerintah berharap keberadaan Sekolah Siaga Kependudukan tidak hanya menjadi program administratif, tetapi benar-benar menjadi sarana pembelajaran yang membentuk generasi muda yang siap menghadapi tantangan kependudukan di masa depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |