
Foto ilustrasi kegatan MPLS dibuat dengan artificial intelligence.
Harianjogja.com, JAKARTA— Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mempertegas komitmennya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan inklusif melalui keterlibatan dalam kegiatan Gerak Bersama Anak Indonesia 2026 yang diselenggarakan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat budaya sekolah yang bebas dari kekerasan, perundungan, dan diskriminasi.
Kemendikdasmen menilai kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh proses belajar mengajar, tetapi juga oleh terciptanya lingkungan sekolah yang mampu memberikan rasa aman, penghargaan, serta ruang tumbuh bagi setiap peserta didik.
Sekolah Aman Jadi Prioritas
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, mengatakan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam menghadirkan satuan pendidikan yang ramah anak.
“Kami ingin memastikan seluruh anak Indonesia memperoleh pendidikan yang bermutu dan berkualitas,” kata Atip di Jakarta, Minggu.
Menurutnya, sekolah harus menjadi tempat yang mendukung perkembangan peserta didik secara optimal, sehingga setiap anak merasa terlindungi selama mengikuti proses pendidikan.
Jalankan Berbagai Program Penguatan Karakter
Untuk memperkuat budaya sekolah yang ramah anak, Kemendikdasmen menjalankan sejumlah program yang mendukung terciptanya lingkungan belajar yang positif.
Program tersebut meliputi Gerakan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman, Gerakan Rukun Sama Teman, Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah, serta Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.
Melalui berbagai gerakan tersebut, peserta didik dibiasakan menerapkan kebiasaan positif sejak dini, mulai dari bangun pagi, beribadah, berolahraga, mengonsumsi makanan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, hingga tidur lebih awal sebagai bagian dari pembentukan karakter.
Tingkatkan Kapasitas Guru
Selain membangun budaya positif di lingkungan sekolah, Kemendikdasmen juga memperkuat kompetensi guru dan tenaga kependidikan.
Peningkatan kapasitas dilakukan melalui pelatihan konseling bagi guru Bimbingan dan Konseling (BK) maupun guru non-BK agar mampu memberikan pendampingan yang lebih optimal kepada peserta didik.
Atip menegaskan seluruh pemangku kepentingan perlu memperkuat sinergi dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan inklusif.
“Kami mengimbau seluruh satuan pendidikan untuk segera melaksanakan dan mengawal gerakan sekolah yang berbasis pada lingkungan yang aman dan nyaman,” katanya.
Menurut Kemendikdasmen, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang yang melindungi, memberdayakan, dan mendukung setiap anak Indonesia agar tumbuh menjadi generasi yang sehat, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan.
Deklarasi Wujudkan Sekolah Bebas Kekerasan
Sebagai bagian dari rangkaian Gerak Bersama Anak Indonesia 2026, kegiatan diawali dengan Fun Walk yang melibatkan anak dan keluarga. Agenda kemudian dilanjutkan dengan dialog lintas kementerian dan lembaga, pembacaan Deklarasi Gerak Bersama Anak Indonesia 2026, serta pemutaran film edukatif Children of Heaven.
Melalui deklarasi tersebut, seluruh pihak menegaskan komitmen untuk menempatkan kepentingan terbaik anak dalam setiap kebijakan, memperkuat kolaborasi lintas sektor, serta mewujudkan satuan pendidikan yang bebas dari kekerasan, perundungan, dan diskriminasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































