
Petugas memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). /Istimewa-Badan Komunikasi Pemerintah.
Harianjogja.com, NGAWI—Kebakaran di lereng Gunung Lawu meluas hingga kawasan hutan lindung di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Hingga Rabu (16/9/2026) sore, tiga titik api masih menyala dengan luasan area yang terbakar diperkirakan mencapai 13 hektare.
Kebakaran tersebut sebelumnya terjadi di hutan produksi dengan vegetasi pohon pinus di petak 50+A1, RPH Bedagung, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan. Api kemudian merembet ke kawasan hutan lindung Gunung Anakan di wilayah Ngawi.
Wakil Administratur Perhutani KPH Lawu Ds, Hermawan, mengatakan kebakaran yang telah berlangsung selama tiga hari tersebut kini menghadapi medan yang semakin sulit.
Berdasarkan penanganan hingga pukul 15.00 WIB, Rabu, kobaran api terpantau memasuki kawasan hutan lindung pada petak 39-2 RPH Manyol dan petak 41-1 RPH Campurejo, BKPH Lawu Utara, KPH Lawu Ds.
Vegetasi yang terbakar di kawasan tersebut berupa pohon cemara dan rerumputan. Luas area yang terdampak diperkirakan mencapai 13 hektare.
"Kondisi api untuk di Magetan sudah padam, namun saat ini ada tiga titik api yang kawasan hutan lindung masuk Kabupaten Ngawi dengan luasan sekitar 13 hektare masih menyala," ujarnya.
Tiga Titik Api Sulit Dijangkau
Ratusan petugas gabungan telah diterjunkan untuk mengendalikan kebakaran dan mencegah pergerakan api semakin meluas. Di wilayah Kabupaten Magetan, petugas membuat sekat bakar, sementara sukarelawan dan BPBD melakukan upaya serupa di wilayah Ngawi.
Sekat bakar dibuat untuk menghambat pergerakan api agar tidak kembali menjalar ke hutan produksi maupun kawasan lain yang memiliki vegetasi kering dan mudah terbakar.
Petugas juga terus memantau arah pergerakan api. Langkah penanganan disesuaikan dengan kondisi medan serta lokasi titik api yang dapat dijangkau.
Hermawan mengatakan tiga titik api yang berada di kawasan hutan lindung masih sulit ditangani secara langsung. Medan menuju lokasi sangat terjal dan terdapat jurang yang membahayakan keselamatan petugas.
"Sementara yang bisa dilakukan itu membuat ilaran ya pada lokasi yang masih dijangkau manusia, karena titik apinya sudah masuk hutan lindung yang sulit dijangkau petugas," jelasnya.
Berada di Atas 2.000 Mdpl
Kondisi medan menjadi semakin berat karena kawasan hutan lindung yang terbakar berada pada ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Pada ketinggian tersebut, angin bertiup lebih kencang sehingga turut menyulitkan proses penanganan kebakaran. Petugas gabungan masih bersiaga untuk memantau perkembangan tiga titik api.
"Kendalanya Medan dan angin kencang, petugas terus stand by guna antisipasi," kata dia.
Penanganan saat ini difokuskan untuk mencegah api meluas sekaligus mengendalikan kobaran dari sisi kawasan yang masih dapat dijangkau petugas.
Kebakaran hutan pinus di lereng Gunung Lawu petak 50+A1, RPH Bedagung, BKPH Lawu Selatan, KPH Lawu Ds, pertama kali terjadi pada Senin (14/9/2026).
Hingga Rabu (16/9/2026), petugas masih melakukan pembuatan sekat bakar dengan tetap mempertimbangkan kondisi medan dan keselamatan personel.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Espos
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































