Lurah Bendungan, Karangmojo, Santoso saat meninjau pengolahan lahan untuk budidaya bawang merah yang memanfaatkan tanah kas desa, Senin (4/5).Harian Jogja - David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pemanfaatan tanah kas desa (TKD) untuk program kesejahteraan masyarakat mulai menunjukkan arah konkret di Kalurahan Bendungan, Kapanewon Karangmojo. Lahan seluas satu hektare kini dikembangkan menjadi kawasan budidaya bawang merah dan melon sebagai upaya mendorong ekonomi warga.
Program ini menjadi bagian dari strategi pengentasan kemiskinan berbasis potensi lokal yang sejalan dengan visi pembangunan daerah DIY. Lurah Bendungan, Santoso, menjelaskan lahan tersebut berada di sisi timur balai kalurahan dan telah dipersiapkan secara bertahap sejak 2025.
“Program ini kami laksanakan dengan menyiapkan lahan TKD seluas satu hektare di sisi timur balai kalurahan,” kata Santoso saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (4/5/2026).
Ia memaparkan, pengembangan kawasan ini mendapat dukungan dana keistimewaan dari Pemerintah DIY yang terus meningkat. Pada tahun pertama, anggaran mencapai Rp650 juta, kemudian bertambah menjadi Rp750 juta pada 2026.
“Untuk pemanfaatan digunakan menanam melon lewat green house dan budidaya bawang merah,” kata dia.
Tak hanya difokuskan pada produksi pertanian, konsep pengembangan juga diarahkan menuju agrowisata. Infrastruktur pendukung seperti greenhouse tambahan, perbaikan akses jalan, hingga pembangunan gazebo dan joglo turut disiapkan guna menarik kunjungan masyarakat saat musim panen.
“Kita bikin lagi satu greenhouse, terus juga dipergunakan memperbaiki jalan di sekitar lokasi serta membangun gazebo dan joglo,” katanya.
Santoso menambahkan, fasilitas tersebut nantinya difungsikan untuk menunjang aktivitas wisata petik melon sekaligus memberikan kenyamanan bagi pengunjung. Saat ini, kegiatan masih berada pada tahap pengolahan lahan untuk persiapan tanam.
“Kalau saat ini baru pengolahan lahan untuk persiapan tanam,” katanya.
Dalam pelaksanaannya, program ini melibatkan 20 warga setempat yang terbagi dalam dua kelompok kerja, yakni empat orang mengelola greenhouse dan 16 orang menangani budidaya bawang merah. Skema pembagian hasil dirancang agar warga tetap mendapatkan manfaat ekonomi setelah biaya produksi terpenuhi.
“Dalam budidaya terpenting bisa balik modal, untuk sisa keuntungan bisa dibagi warga yang melakukan pemeliharaan sehingga memeroleh hasil dalam rangka peningkatan kesejahteraan,” katanya.
Sementara itu, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul terus memperluas program ketahanan pangan melalui Lumbung Mataraman yang didanai dana keistimewaan. Sekretaris dinas, Raharjo Yuwono, menyebut program tersebut telah berjalan di sejumlah wilayah dan akan terus dikembangkan pada tahun ini.
“Hingga sekarang lumbung ini sudah dibangun di Kalurahan Bendung, Semin; Balong, Girisubo; Kalurahan Piyaman, Wonosari; dan Kedungpoh di Kapanewon Nglipar,” kata Raharjo.
Ia menambahkan, pada 2026 pengembangan akan dilanjutkan ke Kalurahan Kelor di Karangmojo serta Grogol di Kapanewon Paliyan. Selain itu, bantuan keuangan khusus juga terus digelontorkan untuk mengoptimalkan pemanfaatan TKD sebagai bagian dari strategi pengentasan kemiskinan berbasis desa.
“Anggaran langsung masuk ke rekening masing-masing kalurahan, programnya ada yang dipergunakan untuk budidaya bawang merah hingga buah melon,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































