Jembatan Garuda Pangkas Akses Petani Kulonprogo hingga 4 Km

4 hours ago 2

Jembatan Garuda Pangkas Akses Petani Kulonprogo hingga 4 Km

Wujud Jembatan Perintis Garuda, Kamis (23/7/2026) yang berada di Kalurahan Jatisarono menjadi infrastruktur penting bagi petani setempat dalam aksesibilitas./Harian Jogja-Khairul Ma\'arif

Harianjogja.com, KULONPROGO— Kehadiran Jembatan Perintis Garuda di Kalurahan Jatisarono, Kapanewon Nanggulan, Kabupaten Kulonprogo, memangkas akses petani menuju lahan pertanian hingga empat kilometer. Jembatan sepanjang 25 meter dengan lebar 1,2 meter tersebut kini menghubungkan Padukuhan Jatingarang Lor dan Padukuhan Bejaten yang sebelumnya terpisah oleh kendala geografis.

Selama ini, warga harus memutar melalui jalur lingkar yang cukup jauh untuk menjangkau lahan pertanian. Bahkan, pada musim kemarau sebagian petani memilih menyeberangi aliran sungai secara langsung karena lebih singkat, meski tidak dapat dilakukan ketika musim penghujan.

Kepala Dusun Jatingarang Lor, Wahyu Basuki, menyampaikan rasa syukur atas pembangunan jembatan yang dinilai sangat bermanfaat bagi masyarakat, terutama petani di wilayahnya.

"Dengan adanya diresmikan Jembatan Perintis Garuda di wilayah kami, kami sangat berterima kasih yang sebesar-besarnya, terutama kepada Bapak Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto, yang telah memberikan kami jembatan yang bermanfaat sekali buat warga kami, khususnya warga petani di wilayah kami," ujarnya kepada wartawan, Kamis (23/7/2026).

Menurut Wahyu, keberadaan jembatan ini menjadi infrastruktur penting untuk mendukung aktivitas pertanian di Kalurahan Jatisarono yang memiliki hamparan lahan komoditas pangan cukup luas. Dengan akses yang lebih mudah, produktivitas masyarakat diharapkan dapat terus meningkat.

"Mudah-mudahan jembatan ini bermanfaat bagi kami dan ke depannya kami lebih maju lagi untuk memajukan wilayah kami," katanya.

Sebelum jembatan permanen dibangun, petani di kedua padukuhan harus menempuh jalur memutar sejauh tiga hingga empat kilometer untuk menuju area pertanian. Kondisi tersebut tidak hanya membutuhkan waktu lebih lama, tetapi juga menambah biaya operasional bagi para petani.

Pada musim kemarau, sebagian warga masih dapat menyeberangi sungai secara manual karena debit air yang rendah. Namun, ketika musim penghujan tiba, akses tersebut menjadi tidak dapat dilalui akibat air sungai yang meluap.

"Kalau pas musim kemarau itu mungkin sungainya tidak ada airnya, tapi kalau musim penghujan airnya meluas (meluap), jadi mungkin petani tidak bisa lewat," ucap Wahyu.

Pembangunan Jembatan Perintis Garuda merupakan hasil kolaborasi antara TNI dan pemerintah daerah. Komandan Kodim 0731/Kulonprogo, Letkol Dyan Niti Sukma, menjelaskan proses pembangunan jembatan di Kalurahan Jatisarono berlangsung selama kurang lebih satu bulan dengan melibatkan masyarakat setempat melalui semangat gotong royong.

Menurut Dyan, prioritas pembangunan jembatan gantung tersebut adalah memberikan manfaat langsung bagi masyarakat yang selama ini mengalami keterbatasan akses antarpadukuhan.

"Kami memprioritaskan penerima manfaat dari jembatan tersebut, yaitu menghubungkan akses antarpadukuhan yang selama ini terputus," katanya.

Selain di Kalurahan Jatisarono, program pembangunan Jembatan Garuda juga tengah berlangsung di sejumlah titik lain di Kabupaten Kulonprogo. Total terdapat 11 titik pembangunan jembatan yang ditargetkan selesai sesuai rencana.

Dyan mengingatkan pentingnya peran masyarakat dalam menjaga dan merawat jembatan agar dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang. Jembatan gantung membutuhkan perawatan berkala, terutama pada bagian kabel baja yang menjadi komponen utama konstruksi.

"Tetap nanti kita bersama-sama untuk menjaga jembatan ini. Terutama kalau jembatan gantung seperti ini kan perlu ada pelumasan secara berkala, khususnya di bagian seling (kabel baja) jembatan," tegasnya.

Keberadaan Jembatan Perintis Garuda diharapkan tidak hanya memperlancar mobilitas warga dan hasil pertanian, tetapi juga menjadi penunjang aktivitas ekonomi masyarakat di Kalurahan Jatisarono yang selama ini terkendala akses transportasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Yudhi Kusdiyanto

Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |