Investasi Pariwisata DIY Naik Rp12,77 Miliar, Anjlok di Triwulan II

2 hours ago 2

Harianjogja.com, JOGJA— Investasi sektor pariwisata di DIY masih mencatat pertumbuhan hingga semester pertama 2026. Nilainya mencapai Rp378,14 miliar, naik Rp12,77 miliar atau sekitar 3,5% dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar Rp365,37 miliar.

Namun, pertumbuhan secara kumulatif tersebut belum sepenuhnya menggambarkan kondisi investasi terbaru. Pasalnya, aliran investasi pariwisata pada Triwulan II 2026 justru anjlok 75,40% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Fungsional PKPM Ahli Muda DPMPTSP DIY, Wiwid Ardhianto, mengatakan investasi pariwisata pada kumulatif Triwulan I-II 2026 masih mengalami kenaikan. Akan tetapi, ketika data dilihat khusus per triwulan, terlihat tekanan cukup besar pada periode April-Juni 2026.

"Kalau dibandingkan Triwulan I dan II 2025 dengan Triwulan I dan II 2026, memang masih ada kenaikan sekitar Rp12 miliar. Tetapi ketika kita memotret Triwulan II saja, memang terjadi penurunan," kata Wiwid, Rabu (12/8/2026).

Investasi Pariwisata Triwulan II DIY Anjlok

Data DPMPTSP DIY menunjukkan perbedaan yang cukup tajam antara kinerja investasi pada Triwulan I dan Triwulan II 2026.

Pada Triwulan I 2026, investasi sektor pariwisata mencapai Rp319,36 miliar. Angka itu meningkat Rp192,90 miliar atau sekitar 152,53% dibandingkan Triwulan I 2025 yang hanya mencapai Rp126,46 miliar.

Kondisinya berbalik pada Triwulan II 2026. Investasi yang masuk hanya sebesar Rp58,78 miliar, atau turun Rp180,12 miliar dan sekitar 75,40% dibandingkan Triwulan II 2025 yang mencapai Rp238,90 miliar.

Dengan demikian, kenaikan pada awal tahun masih mampu membuat investasi pariwisata DIY secara kumulatif berada di atas capaian tahun sebelumnya, meski kinerja pada Triwulan II mengalami tekanan.

Hotel Bintang Jadi Investasi Terbesar

Fungsional PKPM Ahli Pertama DPMPTSP DIY, Rajendra Arif Purba Buana, mengatakan terdapat lima kegiatan usaha dengan nilai investasi pariwisata terbesar hingga semester pertama 2026.

Sektor tersebut adalah hotel bintang, restoran, daya tarik wisata, penyediaan jasa boga untuk suatu event atau periode tertentu, serta rumah minum atau kafe.

"Kalau sampai semester satu, yang paling besar hotel bintang, kemudian restoran. Berikutnya daya tarik wisata, penyediaan jasa boga untuk periode tertentu atau katering, dan yang kelima rumah minum atau kafe," jelasnya.

Dominasi kegiatan usaha tersebut menunjukkan investasi pariwisata DIY tidak hanya mengalir ke akomodasi, tetapi juga mencakup usaha kuliner, daya tarik wisata, jasa boga, hingga kafe.

Mayoritas Investasi Masih Berasal dari Dalam Negeri

DPMPTSP DIY menyebut sebagian besar investasi yang masuk ke DIY masih berasal dari penanaman modal dalam negeri (PMDN).

Kondisi tersebut berkaitan dengan keterbatasan ruang di DIY serta kebijakan investasi yang mengedepankan keseimbangan antara aktivitas ekonomi, lingkungan, dan budaya.

Meski serapan tenaga kerja langsung sektor pariwisata tidak sebesar sektor primer dan sekunder, investasi pariwisata tetap dinilai memberikan efek berganda bagi perekonomian.

Wiwid menjelaskan keberadaan hotel maupun objek wisata dapat memunculkan berbagai aktivitas ekonomi lain di sekitarnya. Dampak tersebut tidak selalu terlihat dalam bentuk penyerapan tenaga kerja secara langsung pada perusahaan atau objek wisata yang menerima investasi.

"Kalau bicara multiplier effect dari hotel, tentu akan memunculkan banyak aktivitas ekonomi. Tetapi kalau kita menariknya secara langsung, investasi datang lalu serapan tenaga kerjanya berapa, itu ceritanya berbeda karena efeknya tidak selalu langsung di hotel," katanya.

DIY Siapkan Data Potensi Investasi Pariwisata

Upaya menarik investasi baru juga dilakukan DPMPTSP DIY. Kementerian Pariwisata telah meminta DPMPTSP DIY menyiapkan data mengenai potensi investasi pariwisata di Jawa Tengah dan DIY.

Data tersebut telah disampaikan sebagai bahan untuk menyambut calon investor yang disebut akan datang ke wilayah tersebut.

Meski demikian, DPMPTSP DIY belum ingin terlalu optimistis melihat prospek investasi pariwisata setelah mencermati penurunan tajam pada Triwulan II 2026.

Menurut Wiwid, perkembangan investasi sangat dipengaruhi kondisi ekonomi nasional serta tingkat kepercayaan investor terhadap kebijakan pemerintah. Karena itu, pihaknya memilih menggunakan skenario yang lebih moderat sembari melihat perkembangan pada periode berikutnya.

"Saya lebih mencoba realistis, tidak pesimis tetapi juga tidak optimis. Saya mengambil skenario moderate atau wait and see karena kita belum tahu apakah penurunan di Triwulan II ini akan berlanjut atau tidak," kata Wiwid.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |