
Ilustrasi cek kesehatan./freepik
Harianjogja.com, BANTUL—Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul terus memperluas akses layanan kesehatan preventif melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Tahun ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul menargetkan sebanyak 460.000 warga mengikuti program tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat deteksi dini penyakit di masyarakat.
Untuk mencapai target tersebut, Dinkes tidak hanya mengandalkan layanan di puskesmas. Strategi jemput bola kini diperkuat dengan menghadirkan layanan pemeriksaan kesehatan langsung ke berbagai kegiatan masyarakat, komunitas, hingga instansi pemerintahan.
Kepala Dinkes Bantul, Agus Tri Widiyantara, mengatakan hingga akhir Mei 2026 jumlah peserta CKG telah mencapai sekitar 100.000 orang. Angka tersebut masih terus bertambah seiring pelaksanaan program yang berlangsung setiap hari melalui berbagai saluran pelayanan.
"Kalo sampai akhir bulan (Mei) kemarin sekitar seratusan ribu, tapi ini terus bertambah dan akan kami rekap lagi di akhir bulan (Juni)," katanya, Rabu (17/6/2026).
Menurut Agus, perluasan akses layanan kesehatan menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kondisi kesehatannya. Dengan pemeriksaan sejak dini, berbagai potensi penyakit dapat diketahui lebih cepat sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum berkembang menjadi lebih serius.
Untuk mempercepat pencapaian target, Dinkes mulai mengintegrasikan layanan CKG dalam berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat dalam jumlah besar.
"Akselerasi, kami maksimalkan dengan melakukan PKG di acara-acara yang ada di tengah masyarakat," ujarnya.
Selain menyasar kegiatan masyarakat, program tersebut juga akan diperluas ke kantor-kantor pemerintahan dan berbagai lembaga lintas sektor. Strategi ini diharapkan mampu meningkatkan jumlah peserta secara signifikan dibandingkan pola pelayanan yang hanya berpusat di fasilitas kesehatan.
Pelaksanaan program didukung seluruh puskesmas yang ada di Kabupaten Bantul. Sebanyak 27 puskesmas yang tersebar di berbagai kapanewon menjadi ujung tombak pelayanan pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat.
"Total ada 27 titik Puskesmas di Kabupaten Bantul," kata Agus.
Optimisme pemerintah daerah untuk mencapai target tahun ini tidak terlepas dari capaian pada tahun sebelumnya. Pada 2025, jumlah peserta yang mengikuti program bahkan melampaui target yang telah ditetapkan.
"Tahun 2025 dari target 360.000 jiwa tercapai 370.000 jiwa," ujarnya.
Meski demikian, Dinkes mengakui masih terdapat tantangan dalam pelaksanaan program. Salah satunya adalah rendahnya partisipasi masyarakat untuk datang dan mendaftarkan diri secara mandiri ke fasilitas kesehatan.
Karena itu, pendekatan jemput bola dipilih sebagai strategi utama untuk menjangkau kelompok masyarakat yang selama ini belum memanfaatkan layanan kesehatan preventif.
"Ini yang kami siasati dengan sistem jemput bola, terjun ke komunitas," kata Agus.
Melalui perluasan layanan tersebut, Dinkes Bantul berharap semakin banyak warga melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. Selain membantu meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, program ini juga diharapkan mampu menekan risiko penyakit melalui deteksi dini sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan efektif.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online
















































