
Erling Haaland./Instagram
Harianjogja.com, JAKARTA— Pola makan Diet Viking yang dijalani penyerang Manchester City, Erling Haaland, tengah ramai diperbincangkan di media sosial. Diet dengan asupan sekitar 6.000 kalori per hari itu menarik perhatian karena dikaitkan dengan tubuh atletis dan daya tahan fisik sang pesepak bola.
Meski begitu, para ahli mengingatkan bahwa pola makan tersebut disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi atlet profesional yang memiliki aktivitas dan pengeluaran energi sangat tinggi. Karena itu, Diet Viking tidak bisa serta-merta diterapkan oleh semua orang.
Apa Itu Diet Viking?
Diet Viking dikenal sebagai salah satu bentuk pola makan yang mirip dengan diet paleo. Pendekatan ini mengutamakan konsumsi makanan utuh yang minim proses pengolahan sekaligus menghindari produk olahan.
Salah satu ciri khasnya adalah konsep "hidung hingga ekor" (nose to tail), yaitu memanfaatkan hampir seluruh bagian hewan untuk dikonsumsi. Tidak hanya daging otot, pola makan ini juga mencakup jeroan seperti hati, jantung, hingga sumsum tulang.
Menurut laporan, Erling Haaland rutin memperoleh hati dan jantung sapi langsung dari peternakan serta mengonsumsi sumsum tulang sebagai bagian dari menu hariannya.
Menu Diet Viking Ala Erling Haaland
1. Sarapan
Mengutip Korean Times, Haaland memulai hari dengan menu sederhana berupa roti sourdough dan telur.
Minuman yang dikonsumsinya adalah kopi yang dicampur susu dan sirup maple.
2. Makan Siang
Pada waktu makan siang, Haaland mengonsumsi ikan, nasi goreng telur, dan sayuran seperti asparagus.
Selain itu, ia juga menyertakan jeroan sapi, termasuk hati dan jantung, sebagai sumber protein.
3. Makan Malam
Saat makan malam, Haaland dilaporkan mengonsumsi lebih dari 1 kilogram daging merah berlemak, seperti ribeye atau steak tomahawk.
Menu tersebut dilengkapi kentang, salad, dan susu.
Benarkah Diet Viking Cocok untuk Semua Orang?
Para ahli kesehatan mengingatkan bahwa pola makan Erling Haaland tidak dapat disamakan dengan kebutuhan nutrisi masyarakat umum.
Konsumsi jeroan secara berlebihan berpotensi meningkatkan kadar kolesterol dan asupan purin. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kadar asam urat tinggi serta gangguan metabolisme, terutama pada penderita asam urat.
Selain itu, para ahli juga mengingatkan agar tidak mengonsumsi hati sapi mentah karena berisiko terpapar parasit, virus hepatitis E, maupun bakteri.
Konsumsi Daging Merah Berlebihan Juga Berisiko
Asupan daging merah dalam jumlah besar yang dijalani Haaland merupakan bagian dari kebutuhan energi atlet elite.
Bagi orang awam, konsumsi lebih dari satu kilogram daging merah setiap hari dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, kanker kolorektal, serta menyebabkan asupan lemak jenuh dan kalori berlebih.
Meski protein berperan penting dalam menjaga dan memperbaiki jaringan otot, mengonsumsi protein dalam jumlah lebih banyak tidak selalu memberikan manfaat kesehatan yang lebih besar.
Bagi sebagian besar orang dewasa sehat, kebutuhan protein harian sekitar 1 gram per kilogram berat badan umumnya sudah dianggap mencukupi. Mengonsumsi protein secara konsisten jauh di atas kebutuhan tersebut dapat meningkatkan biaya pola makan sekaligus menambah asupan kalori dan lemak jenuh.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































